Kasus Penyerobotan Lahan di Batu Bertambah

Maskur Heriono (kanan) didampingi rekannya saat mengadukan masalah lahan pertaniannya yang diserobot pengembang ke Mapolres Batu

Maskur Heriono (kanan) didampingi rekannya saat mengadukan masalah lahan pertaniannya yang diserobot pengembang ke Mapolres Batu

Kota Batu, Bhirawa
Kasus alih fungsi dan penyerobotan lahan di Kota Batu terus bertambah, jika sebelumnya area pemakanan baru di Ngaglik dipermasalahkan warga, kini lahan pertanian di Dusun Glonggong, Kelurahan Temas, diserobot secara sepihak oleh pihak pengembang yang ada di sana.
Diketahui, warga Kelurahan Ngaglik RT:01, RW:08 sempat meminta ikut mediasi dalam perluasan makam yang diajukan Yayasan Paroki Gembala Baik. Warga mengaku menolak adanya perluasan makam Nasrani yang mendekati kawasan pemukiman mereka. Namun ternyata ijin perluasan makam berhasil dikantongi Yayasan Paroki Gembala Baik. Akhirnya, warga mengadukan masalah ini ke Mapolres Batu, Rabu (1/4).
“Kita mengadukan kasus ini kepolisi, karena ada indikasi pemalsuan tanda tangan warga pada proses pengajuan ijin perluasan makam Yayasan paroki Gembala Baik,”ujar salah satu warga RT:01, RW:08 Kelurahan Ngaglik, Sucipto saat mendatangi Mapolres Batu, Rabu (1/4).
Di antara nama yang tanda tangannya dipalsu adalah Himawan, Arifin K dan Adi K. Warga juga menyesalkan karena persetujuan warga dilakukan setelah Ketua RW mengeluarkan rekomendasinya terlebih dahulu. Padahal seharusnya, warga terlebih dahulu dimintai persetujuan, baru kemudian RW mengeluarkan rekomendasi.
Ketika kasus makam Ngaglik ini belum tuntas, muncul kasus alih fungsi lahan yang lain. Warga Dusun Glonggong, Kelurahan Temas mengaku lahan pertaniannya diserobot oleh pengembang yang akan mendirikan perumahan di sana. Warga tersebut juga mengadukan masalah ketidaksiplinan masalah alih fungsi lahan tersebut ke Mapolres Batu.
Adalah Maskur Heriono, warga Kelurahan Sisir yang menjadi salah satu pemilik lahan yang diserobot. Diketahui ada 13 kavling yang hendak dijadikan perumahan. “Dua di antara kavling tersebut adalah milik saya dan mertua saya,”ujar Maskur.
Namun tanpa adanya kordinasi dan sosialisasi yang dilakukan, pihak pengembang secara sepihak menutup kawasan yang hendak dijadikan perumahan itu dengan pagar seng. Akibatnya, Maskur mengaku tidak bisa bisa mendatangi lahan miliknya dan mertuanya yang saat ini sedang ditanami jagung. Iapun memutuskan untuk mengadukan masalah ini ke polisi.
“Kalau masalah perluasan makam Ngaglik memang sudah ada pengaduan ke polisi. Namun untuk masalah lahan di Dusun Glonggong, memang ada warga yang datang ke Mapolres Batu, namun mereka belum membuat laporan pengaduan. Diarahkan kepada pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan masalah ini secara damai,”ujar Kabag Humas Polres Batu, AKP Waluyo. [nas]

Tags: