Kapolda Irjen Pol Luki Hermawan Pastikan Keamanan Pemilu di Jatim

Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan menunjukkan tersangka penyebar hoaks kerusuhan 1998, Kamis (11/4). Abednego

(Isu Kerusuhan 1988 Dipasitkan Hoaks)

Polda Jatim, Bhirawa
Tersangka Arif Kurniawan Radjasa (36) warga Jombang yang ngekos di Jalan Buncitan Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo mengakui aksinya. Ia mengaku sadar saat membuat berita hoaks dan menyebar kebencian terkait kerusuhan 1998 melalui postingan di akun facebook (FB) bernama Antonio Banerra.
Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan mengatakan, masyarakat tidak perlu takut. Kepolisian akan terus menjaga Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 sebelum dan pasca penyelenggaraan. Hal yang diposting oleh tersangka ini tidak benar dan hanya hoaks. Sehingga pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak takut terkait postingan tersangka.
“Tidak perlu takut memberikan haks suara saat Pemilu nanti. Polri dan TNI siap mengawal keamanan penyelenggaraan Pemilu 2019,” kata Irjen Pol Luki Hermawan, Kamis (11/4).
Luki menegaskan, akun milik tersangka yang digunakan untuk menyebarkan hoaks sudah dimatikan. Namun, memang ada beberapa oknum yang mungkin menyimpan dan memposting kata-kata tersangka tersebut. Pihaknya pun memastikan hal itu tidak akan terjadi, dan anggotanya terus melakukan upaya patroli siber.
“Kami terus telusuri siapa saja yang mengunggah. Kami juga sudah periksa orang yang memposting lagi kata-kata tersebut di Jember. Tim cyber akan terus berpatroli di dunia maya,” tegasnya.
Sementara itu, tersangka Arif mengakui efek yang ditimbulkan terkait postingannya tersebut. Bahkan postingannya itu diakuinya akan membuat ketakutan masyarakat. Atas kejadian itu juga, dirinya tidak menyangka harus berurusan dengan hukum.
“Saya lakukan hanya spontanitas, karena kisruh di grup Whatsapp terkait Pilpres. Saya juga tidak berpikir dampaknya, karena ini saya lakukan atas inisiatif sendiri,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim, AKBP Cecep Susatya menjelaskan bahwa pelaku ini merupakan seorang residivis kasus perampasan yang terjadi 10 tahun lalu. Sebelum ditangkap, pelaku sempat mengganti nama akun FB milik pelaku dari Antonio Banerra menjadi Gatotkaca.
“Selain itu pelaku juga sudah menghapus postingan tersebut, tapi kami.berhasil mengembalikan postingan itu dan mendapatkan postingan yang meresahkan masyarakat itu,” ucap Cecep.
Cecep mengaku jika pelaku merupakan salah satu karyawan dari Jawa Pos National Network (JPNN). Namun setelah di cek ke tempat kerja pelaku tidak ada nama pelaku. “Pelaku ini hanya mengaku sebagai karyawan dari salah satu media namun kenyataannya pelaku ini hanya sebagai pengangguran saja,” ungkapnya.
Dengan perbuatannya pelaku dijerat dengan pasal 28 ayat 2 Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). “Ancaman hukuman hingga enam tahun penjara,” pungkas Cecep. [bed]

Tags: