Kadin Jawa Timur Kirimkan Tim Belajar Pendidikan Vokasi ke Jerman

Surabaya, Bhirawa
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur La Nyalla Mahmud Mattalitti menyambut baik undangan Jerman untuk melakukan studi banding program pendidikan vokasi di negara tersebut. Untuk itu, Kadin Jatim telah mengirimkan 3 orang pengurus Kadin Jatim untuk menggali dan belajar di sana.
La Nyalla mengatakan, di era industri 4.0 pendidikan vokasi atau kejuruan menjadi semakin penting untuk mengangkat daya saing ekonomi. Sebab, melalui pendidikan vokasi yang terprogram secara baik, akan tercipta tenaga kerja dengan kompetensi sesuai kebutuhan pasar atau dunia industri.
Ini sekaligus untuk menekan angka pengangguran di kalangan anak muda, utamanya yang lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang ternyata memberikan kontribusi terbesar terhadap jumlah pengangguran di Jatim.
“Namun, pendidikan vokasi jangan hanya sebatas program pemagangan singkat selama 2-3 bulan seperti yang lazim berlangsung selama ini di berbagai perusahaan/industri. Pendidikan kejuruan perlu digarap lebih serius dan intens dengan mengadopsi sistem yang telah berjalan baik seperti di Jerman,” ujar La Nyalla di Surabaya, Kamis (20/2/2019).
Studi banding diikuti 31 anggota delegasi yang antara lain berasal dari Kadin pusat dan daerah (Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY), Bappenas, Kemendikbud, Kementerian Pertanian, Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi Jawa timur, unsur pemerintah daerah, dan para pelatih tempat kerja di berbagai industri.
La Nyalla menyampaikan, pengembangan vokasi di Indonesia sebenarnya memiliki modal besar karena ada komitmen tinggi dari Presiden Joko Widodo. Presiden Joko Widodo dalam pertemuan bersama Kanselir Jerman, Angela, secara khusus meminta kesediaan Jerman membantu pendidikan kejuruan di Indonesia dan menyanggupi permintaan itu.
Karena belum ada regulasi dari pusat yang bisa menjadi pedoman bagi semua elemen untuk menjalankan program vokasi secara terintegrasi. Sambil menunggu terbitnya regulasi tersebut, pihaknya mengharapkan daerah-daerah proaktif mengembangkan vokasi sesuai kondisi masing-masing.
“Sebagai perbandingan, Jerman memiliki BiBB (Bundesinstitut für Berufsbildung atau Federal Institut for Vocational Education and Training). Undang-undang yang mengatur tentang pendidikan vokasi sudah ada sejak 1969,” tambahnya.
Lebih lanjut La Nyalla mengatakan, pendidikan vokasi sistem ganda yang mengadopsi Jerman ini memiliki pengalaman panjang. Dan nantinya akan disesuaikan dengan kondisi Indonesia dan Jatim, atau bisa diistilahkan Vokasi Jerman ala Indonesia
“Tidak bisa serta merta copy paste, tapi karena perbedaan budaya dan kondisi ekonomi, namun bisa kita adopsi sebagai perbandingan dan disesuaikan dengan budaya dan sistem perekonomian di indonesia,” ungkapnya.
Direktur Eksekutif Utama Industrie- und Handelskammer (IHK) atau Kadin Trier Jan Glock Auer mengatakan, melalui studi banding dan kerja sama ini,i sistem yang dijalankan di Jerman memang tidak bisa disalin mentah-mentah ke Indonesia. Sebab, kondisi dan budaya di kedua negara berbeda. Namun metode tersebut bisa disesuaikan dengan kondisi pendidikan dan industri di Indonesia.
“Di Jerman pendidikan vokasi ditangani oleh industri bekerja sama dengan IHK. Karena itu, titik beratnya adalah praktik selama empat hari dalam sepekan. Teori di sekolah hanya dipelajari dalam satu hingga dua hari per minggu,” pungkasnya.(ma)

Tags: