Jaksa Bakal Periksa Putra Wali Kota Sebagai Saksi

Terdakwa perkara amblesnya Jalan Raya Gubeng usai mendengarkan sidang dakwaan JPU di PN Surabaya, Senin (7/10). [Abednego]

Sidang Amblesnya Jalan Raya Gubeng
PN Surabaya, Bhirawa
Sidang perkara amblesnya Jl Raya Gubeng, Surabaya dengan enam terdakwa digelar perdana di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (7/10). Diketuai Majelis Hakim R Anton Widyopriyono, persidangan mengagendakan pembacaan dakwaan terhadap keenam terdakwa. Rencanannya Jaksa akan memeriksa putra Wali Kota Surabaya, Fuad Bernadi sebagai saksi.
Adapun keenam terdakwa ini, yakni dalam berkas pertama adalah Budi Susilo, Rendro Widoyoko dan Aris Priyanto dari PT Nusa Kontruksi Enjinering (NKE). Sedangkan pada berkas kedua, yaitu terdakwa Ruby Hidayat, Lawi Asmar Handrian dan Aditya Kurniawan Eko Yuwono dari PT Saputra Karya.
Dakwaan dibacakan secara bergantian oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rachmat Hari Basuki dan Dini Ardhany. Dalam dakwaan, Jaksa Hari menyebutkan, perkara Jalan Gubeng Amblesi bermula ketika PT Saputra Karya memiliki proyek pengembangan Rumah Sakit Siloam Surabaya.
Proyek ini dikenal dengan Proyek Gubeng Mix Use Development Surabaya dan berlokasi di Jalan Raya Gubeng 88 Surabaya. Gedung ini rencananya terdiri dari 20 lantai dan dua lantai untuk basement.
“Namun di kemudian hari berubah menjadi 23 lantai dan empat lantai untuk basement,” kata Jaksa Rachmat Hari Basuki.
Dalam perkara ini, lanjut Hari, terdakwa dalam berkas dakwaan pertama, yakni Budi Susilo, Rendro Widoyoko dan Aris Priyanto dipersangkakan Pasal 192 ke-1 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. “Sedangkan terdakwa Ruby Hidayat, Lawi Asmar Handrian dan Aditya Kurniawan dipersangkakan Pasal yang sama, yakni Pasal 192 ke-1 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” jelasnya.
Namun, dalam dakwaan JPU yang dibacakan di depan Ketua Majelis Hakim R Anton Widyopriyono, tidak sama sekali tidak menyebut nama Fuad Bernardi.
Padahal, Fuad yang merupakan putra Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebelumnya pernah menjalani pemeriksaan dalam perkara ini. Meski begitu, Jaksa Hari memastikan rencana pemeriksaan Fuad sebagai saksi dalam persidangan perkara ini. “Memang tidak ada dalam berkas dakwaan (nama Fuad Benardi, red). Sementara ada (Fuad Benardi) dalam saksi,” ucap Jaksa Hari usai persidangan.
Bahkan, sambung Hari, pihaknya juga memastikan bahwa Eri Cahyadi selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, sudah dimintai keterangan terkait perkara ini. “Beliau (Eri Cahyadi) kami rencanakan pemeriksaannya sebagai saksi dipersidangan perkara ini,” ungkapnya.
Menanggapi dakwaan Jaksa, tim penasihat hukum para terdakwa, Jansen Sialoho tidak mengajukan eksepsi (bantahan atas dakwaan). “Kami tidak mengajukan eksepsi yang mulia. Nanti keberatan akan kami tuangkan dalam pembelaan (pledoi) saja,” ujar Jansen.
Dikonfirmasi terpisah, Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Jatim, Asep Maryono mengatakan, pada prinsipnya semua saksi-saksi yang ada di dalam berkas akan dipanggil. Ditanya kemungkinan Fuad Benardi dipanggil sebagai saksi, meski namanya tidak ada dalam surat dakwaan, Asep memastikan Fuad dimungkinkan untuk dimintai keterangan sebagai saksi pada perkara ini.
“Tidak seluruh saksi akan muncul dalam surat dakwaan. Saksi itu kan orang yang melihat, jadi bisa saja dia tidak ada dalam surat dakwaan, tapi dia mengetahui adanya tindak pidana. Bisa juga disebutkan dia ada disitu, bergantung faktanya,” tegas Asep.
Asep mencontohkan, misalkan ada 20 orang saksi, dan 20 orang saksi itu harus masuk surat dakwaan. Pihaknya pun mengaku tidak seperti itu, atau ke 20 orang saksi tersebut masuk dalam surat dakwaan.
“Surat dakwaan itu hanya mengenai kontruksi yuridis, apa yang terjadi sesuai dengan faktanya. Kalau dia tidak ada dalam berkas maupun surat dakwaan, bisa ditampilkan sebagai saksi tambahan, kalau memang itu diperlukan. Tapi intinya saksi yang di dalam berkas itulah yang diutamakan,” pungkasnya. [bed]

Tags: