ITD Unair dan Puskes TNI Perkuat Kolaborasi Lewat Riset

Rektor Unair, Prof Moh Nasih memukul Gong pembukaan Seminar Infection Disease, Bio-Threats and Military Medicine yang didampingi Kapuskes TNI Mayjend dr Bambang Dwihasto (kanan).

Nubika Jadi Ancaman Kesehatan Masyarakat Kedepan
Surabaya, Bhirawa
Nuklir, Biologi dan Kimia (Nubika) menjadi ancaman kesehatan masyarakat, keamanan dan integritas nasionbal di masa depan. Di mana ancaman infeksi dan wabah penyakit semakin cepat menular yang menyebabkan potensi ribuan bahkan jutaan jiwa manusia terbunuh setiap tahunnya. Wabah penyakit yang dimaksud adalah influenza, TBC, malaria, infeksi yang kebal akan antibiotik HIV/AIDS.
Terkait hal itu, Institute Tropical desease (ITD) Universitas Airlangga (Unair) bekerjasama dengan Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia (Puskes TNI) menggelar konferensi international. Kegiatan tersebut membahas terkait isu Infectious Disease, Biothreats and Military Medicine (INSBIOMM).
Dikatakan Kepala Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia (Kapuskes) TNI, Mayjend TNI dr Bambang Dwihasto menyebut jika pihaknya mendukung regulasi yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan ataupun kementerian lainnya. Hal itu dilakukan sebagai upaya dalam menanggulangi ancaman Nuklir, Biologi dan Kimia (Nukibu) di Indonesia. Sebab, bisa saja sebuah negara atau kelompok menggunakan senjata biologis untuk menghancurkan pertahanan musuh.
“Ke depan ancaman kita disitu. Jadi kita konsen. Infeksi akan cepat sekali menular, Difteri yang jadi KLB di Jatim bahkan kasus polio di Papua menjadi isu nasional,” ujar dia.
Karena nya, lanjutnya, dibutuhkan kolaborasi dan sinergitas baik dari perguruan tinggi, kesehatan militer dan kesehatan sipil untuk membangun upaya-upaya pencegahan. Langkah konkretnya, dilakukankany diskusi terkait masalah kesehatan nasional, public help, penelitian, penangkalan dan pencegahan serta SOP.
“Jadi sata kejadian kita ada rule ada regulasinya,” sambung dia.
Pasalnya, dalam sebuah kasus antraks misalnya, Mayjend TNI dr Bambang mencotohkan jika 50 kilogram virus antraks ditempatkan di suatu daerah berpendudukan setengah juta orang, maka virus tersebut diprediksi bisa membunuh 95.000 jiwa dan melumpuhkan 125.000 orang.
“Di Indoensia terdapat 300 titik daerah perbatasan yang harus dijaga ketat. Bukan hanya sekedar ancaman fisik melainkan ancama biotreats atau senjata bioteknologi dalam bentuk penyakit endemic. Karena mungkin saja daerah (perbatasan) itu dimungkinkan jadi lahan penyakit-penyakit tertentu,”terang dia,
Ditambahkan Ketua Acra Insibomm, Prof. dr. Seotjipto, M.S., PhD salah satu cara dalam mengembangkan strategi untuk mendiagnosa, mencegah dan mengobati beberapa penyakit menulat yang cenderung meningkat tiap tahunnya. Diperlukan pesiapan dalam segi fasilitas dan kapasitas SDM yang kuat di berbagai sekto.
“Untuk itu adanya pemahaman juga harus diimbangi dengan adanya kontribusi, kolaborasi dan komunikasi antar peneliti dalam mengimplementasikan keamanan kesehatan global,” papar nya.
Berdasarkan topik penelitian seperti biokimia, produk alami bioaktif, imunologi dan beberapa penyakit menular lainnya yang akan dibahas dalam konferensi kali ini diharapkan mampu mempersiapkan kapasitas negara dalam kesehatannya.
“Kali ini menjadi amat penting untuk merapikan kapasitas negara dalam menyikapi segala ancaman penyakit. Kolaborasi riset ini diharapkan dapat meningkat dan dapat diimplementasikan dalam sehari-hari untuk keamanan kesehatan dunia,” tambahnya.
Sementara itu Rektor Unair, Prof Moh Nasih menuturkan dengan adanya konferensi internasional dan kolaborasi riset antar peneliti diharapkan dapat menghasilkan inovasi dalam mencegah dan menuntaskan masalah kesehatan yang berkenaan dengan penyakit menular yang ada di Indonesia berdasarkan letak geografisnya.
Mengingat, banyaknya penyakit yang muncul di berbagai belahan dunia dan ditularkan melalui hewan. Hal itulah yang harus dipersiapkan dalam mencegah dan melahirkan inovasi dalam menangani masalah tersebut.
“Sebab penyakit juga bisa berpotensi dapat disalahgunakan dalam bioterorisme,” tambah dia.
Maka dari itu, Prof Nasih melanjutkan dalam rangka mempercepat penanganan penyakit wabah, maka kolaborasi dalam multisektor sangat dibutuhkan. Konsep kolaboratif dalam mendeteksi kesehatan hewan, manusia dan lingkungan menjadi alternatif utama dalam meningkatkan data kesehatan dan pencegahan penularan dari belahan dunia. Dengan begitu, diharapkan adanya saran dari berbagai peneliti akademik professional untuk dapat mendeteksi penyakit lebih awal dalam menyikapi keamanan kesehatan nasional. “Semua tindakan tersebut untuk memperkuat keamanan kesehatan nasional,” jabar Prof Nasih. [ina]

Tags: