iSTTS Gelar Knowledge Sharing Program

Upaya hadapi tantangan pendidikan di era revolusi 4.0, Wilen Kusuma Sharing Ilmu dan Pengalaman Kesuksesan.

Ajak Mahasiswa Berpikir Inovatif, Kreatif dan Ciptakan Lapangan Kerja
Surabaya, Bhirawa
Knowledge festival jadi agenda tahunan Institute Sains Terapan dan Teknologi Surabaya (iSTTS). Dalam setiap semesternya, program berbagi ilmu ini diadakan untuk membekali para mahasiswa tentang tantangan pendidikan di era revolusi industri 4.0.
Ini merupakan tahun kedua di sesi 4 Knowledge Sharing Program iSTTS. Di sesi ini, Welin Kusuma berkesempatan membagi pengalamannya yang sukses di dunia akademik juga karier di tengah tantangan Era Revolusi Industri 4.0.
Welin Kusuma menekankan jika inovasi dan kreatifitas harus dimiliki oleh para mahasiswa di era revolusi industri untuk bisa bertahan di tengah tantangan yang begitu pesat.
“Kita bayangkan saja satu ide bisa merubah segalanya. Dulu mana ada yang bisa nebak kalau industri transportasi besar seperti blue bird justru dikalahkan oleh terobosan ide dari seorang Bos Gojek Nadiem Karim? Tapi sekarang itu terbukti bisa. Gojek jadi transportasi besar yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini,” ungkap dia, Rabu (23/10).
Contoh lain, kata Welin, banyak gerai offline yang saat ini memilih tutup. Karena masyarakat lebih memili toko online atau beralih pada konsumsi e-commers yang lebih mudah. “Saat ini semua industri mengalami hal itu. dulu mereka butuh banyak orang. Tapi kini kontak sosial masyarakat sangat kecil karena sudah digantikan teknologi dan robot,” tambah dia.
Karena itulah, pria pemilik 32 gelar akademik ini, mengajak mahasiswa untuk terus mengutamakan pendidikan dan memanfaatkan kesempatan di bangku perkuliahan.
“Bagi saya kuliah tidak hanya melulu untuk mendapatkan gelar tapi juga sebagai dasar ilmu yang bisa berguna untuk masa depan. Itu yang saya tekankan pada mahasiswa,” ujar dia.
Diakui Welin, selama menempuh masa perkuliahan pihaknya bahkan sempat di DO (Drop Out) dari iSTTS karena hampir menghabiskan waktu selama sembilan tahun lebih untuk menyelesaikan sarjananya di jurusan Teknik Informatika.
“Ini pengalaman yang paling berharga bagi saya. Waktu itu saya molor kuliah tapi juga mengejar kuliah di jurusan lain. Sempat di DO karena waktu kuliah di sini dengan waktu yang cukup lama. Tapi saya balik lagi di prinsip saya kalau nggak boleh menyerah karena kesuksesan selangkah lagi,” jelas dia.
Akhirnya, sambungnya, setelah masa kuliah itu selesai, Welin langsung mendaftarkan 32 gelar nya di rekor Muri. Dan terbukti, setelah dia dinobatkan sebagai pemilik gelar terbanyak, Welin pun mempunyai banyak peluang kerja di berbagai sektor industri.
“Di awal saya ingin menguasai lima bidang yaitu teknik industri, manajemen, administrasi niaga, hukum dan IT. Karena menurut saya punya gelar banyak ini manfaatnya dan peluangnya sangat banyak,” pungkasnya.
Sementara itu, penanggung jawab acara, Jenny Ngo mengungkapkan jika dengan kegiatan ini, para mahasiswa bisa mendapatkan ilmu pengetahuan melalui sharing ilmu pengetahuan dengan orang-orang inspiratif di bidang pendidikan. Terlebih, di era saat ini tidak hanya hardskills yang bertarung, tapi juga softskills.
“Dengan adanya ini, kita ingin membuka paradigma mereka untuk menjadi mahasiswa yang kreatif, inovatif dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Kita juga tawarkan program yang saat ini menjadi perhatian khusus dalam industri 4.0 seperti IoT dan teknologi trading,” tandasnya. [ina]

Rate this article!
Tags: