Ironi Sampah di Sungai Mangetan Kanal, Sidoarjo

Aliran air di Sungai Mangetan Kanal di Kecamatan Gedangan yang penuh sampah, menghambat aliran air ke lahan sawah di Desa Cemandi Kecamatan Sedati. [ali kusyanto]

Buang Sampah ke Sungai, Tersumbat, Setahun Hanya Bisa Bercocok Tanam Sekali
Kab Sidoarjo, Bhirawa
Sampah yang selama ini mengendap di Sungai Mangetan Kanal yang lewat wilayah Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo tidak hanya menimbulkan pemandangan kotor dan bau busuk saja. Tapi juga membuat petani sawah yang ada di wilayah hilir, seperti di Kecamatan Sedati menjadi kekurangan pasokan air untuk bercocok tanam.
Air di Sungai Mangetan Kanal itu tidak bisa lagi mengalir dengan baik ke arah hilir. Sebab air sungai telah tersumbat endapan sampah yang menumpuk. Padahal di wilayah hilir, banyak lahan sawah milik warga desa yang membutuhkan suplai air dari Sungai Mangetan Kanal tersebut. Salah satunya lahan sawah di Desa Cemandi, Kecamatan Sedati.
Menurut Kusmanto, salah satu warga Desa Cemandi, karena tidak ada lagi aliran air dari Sungai Mangetan Kanal itu, petani di desanya saat ini setahun hanya bisa sekali saja bercocok tanam. Padahal dahulu ketika aliran Sungai Mangetan Kanal masih lancar, petani bisa bercocok tanam setahun sampai dua kali.
“Dulu-dulunya, warga bisa tanam padi setahun sampai dua kali, saat ini hanya bisa setahun sekali saja, karena tidak ada aliran air di Sungai Mangetan Kanal itu sampai ke arah hilir, karena di hulunya air tidak bisa mengalir lagi, tersumbat oleh banyaknya endapan sampah,” jelas Kusmanto, belum lama ini.
Dirinya mengungkapkan, sejak April 2019 lalu, semua lahan sawah di Desa Cemandi mengalami beroh atau tidak bisa dipakai lagi untuk cocok tanam padi, karena tidak ada pasokan air dari sungai itu. Petani di desanya diperkirakan akan bisa tanam padi kembali, nanti pada saat turun hujan, yang diperkirakan mulai pada Bulan September atau Oktober nanti.
Karena lahan sawah dianggap tidak menjadi produktif lagi atau tidak bisa terlalu diharapkan tersebut, kata Kusmanto, sudah banyak pemilik sawah yang menjual tanah sawahnya. Ada yang dijadikan pabrik, perumahan atau spekulan tanah.
Kusmanto juga sempat mengatakan, akibat air sungai itu yang tidak mengalir karena tersumbat sampah, membuat sumur-sumur warga desa juga banyak yang mengalami kekeringan. Bagi warga desa yang ada uang, mereka mampu membuat sumur bor.
Tapi yang tidak ada uang, harus nebeng pada sumur tetangga yang masih ada sumber airnya. “Ternyata banyak sekali dampak yang dialami oleh warga desa kami, dari tersumbatnya aliran air Sungai Mangetan Kanal oleh sampah itu,” katanya.
Kusmanto sangat berharap, OPD terkait di Pemkab Sidoarjo segera turun tangan mengatasi permasalahan tersebut. Karena hingga saat ini belum ada pihak terkait yang memikirkan kejadian tersebut.
Camat Gedangan, Drs Agus Sujoko MSi, mengatakan berbagai upaya sosialisasi sudah dilakukan pihaknya kepada masyarakat di wilayah Gedangan agar tidak membuang sampah secara sembarangan ke sungai. Namun nyatanya Sungai Mangetan Kanal tetap banyak oleh sampah. “Tidak kurang-kurang kami sudah melakukan sosialisasi pada masyarakat di wilayah kami, agar tidak membuang sampah ke sungai,” kata Agus.
Dirinya mengatakan sebenarnya bukan warganya yang membuang sampah itu ke sungai. Namun warga lain yang berada di bagian hulu atau di bagian atas.
Agus berani mengatakan yang membuang sampah ke sungai itu, adalah mereka yang termasuk warga kos. Sampah itu biasanya mereka buang sekalian ke sungai, saat berangkat kerja dengan menggunakan tas kresek. Mereka melakukannya karena tidak ada tempat membuang sampah ataupun menghemat biaya tarikan sampah di tempatnya.
Dirinya minta peranan masyarakat untuk ukut mengawasi bahkan menangkap mereka yang sering membuang sampah ke sungai. Karena kalau hanya mengandalkan dari Pemerintah saja tidak akan ngatasi.
Dalam suatu kesempatan Wabup Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifudin, yang sempat melihat proses pengerukan sampah yang mengendap di Sungai Mangetan Kanal, berpendapat agar tiap desa di Kab Sidoarjo secepatnya membuat Perdes tentang sampah. “Agar bisa bersikap tegas dalam mengatasi masalah sampah di desa masing-masing.Yang melanggar biar diberikan sanksi. Perda saja mungkin tidak cukup,” komentarnya.
Menurut dirinya masalah sampah bila dibiarkan akan punya dampak karambol kemana-mana. Semua bidang akan kena dampak dari sampah yang tidak tertangani. Solusi sederhana, dirinya juga sepakat agar desa yang wilayahnya dilewati sungai, supaya membuat jaring sampah di sungai. Agar bisa menjaring sampah di wilayahnya masing-masing. Sehingga tidak sampah mengalir lagi ke wilayah hilir sungai.
“Kalau tidak dijaring, sampah itu akan numpuk di wilayah hilir, karena tumpukannya semakin banyak, akan semakin menghambat aliran air di sungai dan akan tambah jadi masalah,” ujarnya.
Dirinya mengatakan untuk mengatasi masalah ini juga tidak bisa dari Pemkab Sidoarjo Sidoarjo saja. Namun juga perlu peranan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Sebab Sungai Mangetan Kanal tersebut juga melewati sejumlah wilayah Kabupaten lain sebelum masuk wilayah Kab Sidoarjo. “Karena yang membuang sampah ke sungai itu menurut warga juga dari wilayah hulu,” komentarnya. [ali kusyanto]

Tags: