Imlek, Angpao Pembauran

Foto Ilustrasi

Imlek ke-2570 yang dirayakan keturunan Tionghoa di seluruh dunia dengan keprihatinan. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok, bisa menyebabkan resesi (ekonomi) dunia. Namun China town di berbagai belahan dunia, tetap berhias. Tak terkecuali di AS, kawasan pecinan bertabur bola lampion merah, bertulis gongci fa chai (bahasa Mandarin, bermakna: selamat dan berkah banyak rezeki dan kesehatan).
Biasanya Imlek dirayakan selama15 hari, berakhir dengan Cap Go Meh (saat bulan purnama). Tahun ini bersimbol “babi tanah.” Tidak terlalu bagus, karena babi dikenal sebagai binatang paling rakus. Namun masih terdapat unsur tanah yang membungkus shio babi. Simbol sifat tanah, adalah menumbuhkan, kesabaran, dan tanggungjawab. Artinya, tanah, selalu menumbuhkan dengan kesabaran dan bertanggungjawab. Yang keluar (tumbuh) dari tanah tidak pernah merusak.
Terdapat 12 nama (shio) tahun baru imlek. Yakni tikus, sapi, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Maka setiap nama akan kembali setelah 12 tahun. Misalnya, tahun 2019 ini, sama dengan tahun 2007. Selain shio, terdapat unsur perbintangan lain versi Tionghoa. Yakni, kayu, api, tanah, logam, dan air. Seluruhnya dipercaya sebagai penghubung surgawi (ketenteraman).
Lima unsur perbintangan itu, mengingatkan pada istilah pasaran (dalam budaya Jawa), kliwon, legi, pahing, pon, dan wage. Berdasarkan sistem “hisab” (istilah perhitungan kalender Islam), ke-imlek-an, dihitung berdasar titik balik matahari pada musim dingin. Penanggalan baru (Imlek) terjadi dua bulan setelah titik balik itu. Lazimnya secara kalender Gregorian, Imlek, terjadi antara tanggal 21 Januari sampai 20 Pebruari. Biasanya dihubungkan dengan musim semi, sekitar awal Pebruari setiap tahun.
Di Indonesia, baru pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional, oleh presiden Megawati. Dan pertama kali dilaksanakan hari libur nasional imlek pada tahun 2003. Perayaan (dan libur nasional) Imlek, merupakan “lompatan” penegakan HAM (Hak Asasi Manusia). Era sebelumnya, Imlek bukanlah hari libur. Bahkan selama 30 tahun rezim orde-baru (tahun 1970 – 2000), Imlek menjadi kegiatan budaya terlarang.
Pada masa presiden Gus Dur, pesan moral Imlek, dijadikan pedoman kegiatan memperingati tahun baru warga Tionghoa. Yakni, sedekah bumi (peduli lingkungan), serta angpao (peduli sesama manusia). Imlek, berdasar tilik sejarah, memang di-hajat-kan sebagai penolak bencana, mengusir kala (bencana) Ni’an, yang bertahta di pegunungan dan dasar laut.
Pada masa kini kala Nian, bisa berbentuk bencana, banjir, dan tanah longsor. Juga bisa berarti badai dan gelombang laut (terutama tsunami). Pada masa lalu, pada saat Imlek, di setiap (depan) rumah diberi semacam sesaji (berupa makanan). Pada masa kini, pesan moral Imlek mestilah dilaksanakan sesuai perkembangan sosial. Harus diakui, warga keturunan kurang peduli pada lingkungan sosial. Juga kurang peduli lingkungan hidup (ekosistem). Pabrik milik warga Tionghoa sering mencemari lingkungan.
Bahkan warga Tionghoa nyaris tercerabut dari ke-guyub-an sosial. Hanya asyik bekerja, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Berhasil secara ekonomi, tetapi gagal dalam pergaulan sosial. Padahal warga Tionghoa terdahulu (sejak dekade 1930-an sampai 1970-an) membaur di tengah sosial. Diundang tahlil juga hadir. Banyak tokoh keturunan Tionghoa berusia di atas 55 tahun (termasuk konglomerat) memiliki rekan (karib) pribumi sekampung.
Tetapi generasi penerusnya lebih suka berkumpul dalam komunitas sesama Tionghoa. Maka perlu gerakan sosial (warga Tionghoa) kembali pada moral Imlek. Yakni, sedekah bumi (peduli lingkungan), serta angpao (pembauran sosial). Masih dibutuhkan unsur “kayu” yang selalu akur dengan tanah.

——— 000 ———

Rate this article!
Imlek, Angpao Pembauran,5 / 5 ( 1votes )
Tags: