‘Ice Breaking’, Membuat Pembelajaran Tak Lagi Membosankan

Siswa 5E SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya saat mengikuti kegiatan Ice Breaking membuat bangunan tinggi dan kuat.

Surabaya, Bhirawa
Ice breaking menjadi alternatif kegiatan yang diperlukan ketika pembelajaran yang berlangsung dikelas mulai menunjukkan ada kejenuhan dan tidak kondusif lagi. Kesadaran inilah yang membuat Wali Kelas 5E SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya, Ika Lukita Ningrum, SS menggunakan ice breaking dalam pengajaran di kelasnya.
“Kegiatan ice breaking ini bertujuan mengembalikan ‘mood’ anak-anak, saat mereka mulai bosan dengan pengajaran. Kalau mereka senang dan bahagia akan mudah bagi kita untuk memasukkan dan memberinya pembelajaran. Masuki dunia anak, lalu ajak mereka masuk dunia kita, begitu istilahnya,” kata Wali kelas 5 E yang biasa dipanggil Bu Ika ini.
Menurut Bu Ika, anak-anak jaman sekarang, atau yang biasa disebut ‘anak jaman now’, paling tidak bisa dipaksa. “Kita harus menyelami dan mengikuti keinginan mereka dulu, mengasah rasa, menyentuh hati. Agar bisa berproses dengan baik dan menghasilkan yg terbaik dari potensi yang mereka miliki,” jelasnya. Lebih lanjut menurut Ika, dirinya mengaku ingin agar anak-anak nyaman dengannya, jika sudah nyaman dan senang, pasti mereka akan percaya, dan mudah untuk menanamkan konsep.
Kegiatan ice breaking yang diberikan Ika di hari itu adalah mengajak siswa membuat bangunan tinggi dan kuat dengan menggunakan bahan-bahan seperti botol minum, tempat makan dan sebagainya. Untuk mewujudkannya, Ika kemudian membagi 40 muridnya menjadi 8 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 siswa. Kemudian setiap siswa dari masing-masing kelompok mulai menyusun bahan dari bawah keatas, hingga membentuk bangunan yang tinggi dan kuat.
Para siswanya terlihat antusias untuk mengikuti ice breaking yang diberikan, dan berlomba untuk menjadi yang terbaik.
Secara khusus, Ika menjelaskan kegiatan ice breaking ini rutin diadakan di setiap pengajaran, bisa diawal atau pertengahan. Dan untuk mendapatkan respon dari para wali murid atas aktivitas pembelajaran di kelas, Ika aktif memposting pembelajaran yang dilakukan di kelas termasuk ice breaking ke dalam grup Whatsapp (WA) Silaturrahim Keluarga 5E, yang dibuat Ika untuk wali murid 5E.
“Melalui grup ini, saya berharap wali murid bisa dengan mudah mengetahui kegiatan anaknya di sekolah,” tutur Ika. Ika menambahkan, grup Whatsapp juga berperan menyambung komunikasi antara orangtua dan guru dalam ‘mengawal’ proses belajar anaknya.
Salah satu Wali Murid 5E, Emmy Nuryanti, SST (42) yang biasa disapa Emmy, orang tua siswi Syahirah Hubeis (11), memberikan apresiasi positif terhadap kegiatan Ice Breaking ini, termasuk pelibatan orang tua dalam kegiatan ini.
“Orang tua ikut membantu persiapan kegiatan Ice Breaking, dari menyiapkan bahan hingga membawanya kesekolah. Hal ini dapat memperkuat kemitraan antara sekolah dan orang tua dalam proses pendidikan anak kita,” ungkap Emmy.
Ia melihat kegiatan Ice Breaking ini juga menjadi proses pembelajaran bagi siswa.
“Anak menjadi lebih percaya diri. Mereka belajar juga melakukan kolaborasi dengan teman untuk mencapai tujuan bersama ini, anak belajar bagaimana menghargai proses,” ujarnya. Lebih lanjut menurut Emmy, kegiatan Ice Breaking juga mendidik anak untuk dapat fokus sekaligus bisa menikmati proses belajar disekolah. Senada dengan orang tua, Syahirah Hubeis, juga mengaku sangat senang mengikuti setiap kegiatan belajar di sekolah. “Enak, Bu Ika orangnya baik,” kata Syahirah polos. [Utomo Pagon, Wali Murid 5E, SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya]

Tags: