Hoax Perusak Sendi Kebhinekaan

Oleh :
Sugeng Winarno
Penulis Adalah Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan pemblokiran akses internet pada layanan selular di Papua dan Papua Barat. Hal ini dilakukan menyusul terjadinya kerusuhan di sejumlah tempat di kedua wilayah itu. Berita bohong (hoax) yang sengaja diciptakan oleh sejumlah orang yang tak bertanggungjawab telah merusah sendi kebhinekaan bangsa. Rasa menjunjung persatuan dengan menghargai segala perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan telah terkoyak oleh munculnya hoax.
Sebuah kebohongan terbukti dapat memicu pertikaian. Hingga melalui peredaran kebohongan telah digunakan oleh sejumlah orang untuk memperburuk keadaan. Sengaja diciptakan sebuah kebohongan untuk memanas-manasi suasana. Lewat kebohongan pula terbukti sangat efektif untuk tujuan pecah belah persatuan bangsa. Tak jarang masyarakat tersulut emosinya karena hoax. Hoax telah berhasil mengelabui banyak orang seakan-akan hoax tersebut adalah sebuah kebenaran yang patut dipercaya.
Dalam banyak kasus, tak jarang masyarakat yang tak mampu memilih dan memilah mana informasi atau berita itu yang hoax dan yang asli. Keduanya tak jarang terbaur. Masyarakat dibingungkan oleh hadirnya beragam informasi dan berita yang sama-sama mengklaim sebagai yang benar. Tampilan informasi yang disertai foto dan video sering sangat meyakinkan sebagai sebuah fakta kebenaran walau kenyataanya itu foto atau video editan. Orang sulit memilah mana teks foto atau video yang benar dan yang abal-abal.
Hoax Pertajam Perbedaan
Hoax muncul tak jarang justru memperuncing perbedaan. Seperti kita ketahui bahwa Negara Republik Indonesia ini sangat heterogen. Menurut data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, ada sejumlah 17.504 pulau di Indonesia. Sementara menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah Bahasa Daerah di Indonesia mencapai 652 bahasa. Dari dua aspek ini saja, bisa menjadi unsur pembeda antara pulau yang satu dengan yang lain, termasuk antara Bahasa Daerah yang satu dengan yang lain.
Sejatinya segala perbedaan itu berkah. Namun bila perbedaan tak dikelola dengan baik, maka perbedaan itu bisa menjadi sumber petaka. Konsep Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya konsep yang berusaha menjaga segala perbedaan itu agar mampu menjadi kekuatan yang menyatukan. Orang boleh berbeda suku, agama, ras, bahasa, warna kulit, rambut, dan sejumlah pembeda yang lain, namun perbedaan itu tak boleh menjadi pemicu perpecahan. Segala perbedaan itu seharusnya menjadi perekat untuk dijaga kebersamaannya.
Perbedaan memang bisa menjadi sesuatu yang sangat sensitif. Cara mengusik beragam perbedaan agar tersulut konflik memang telah sering terjadi. Dalam kasus kerusuhan di Papua misalnya. Hoax yang muncul mampu memicu retaknya sendi-sendi kebersamaan sebagai bangsa yang menjunjung persatuan dan kesatuan. Spirit berbeda-beda tapi tetap satu jadi goyah karena telah dihembuskan hoax bahwa dalam perbedaan itu ada ketidakadilan, ada kesenjangan, ada penindasan, dan sejumlah argumen negatif yang lain.
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh Kominfo dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait bahwa beberapa hari saat rusuh Papua terjadi penyebaran kabar bohong, provokatif dan rasis masih cukup tinggi. Saat itu, menurut data Kominfo, setidaknya ada 33 item dengan total 849 URL informasi hoax dan provokatif terkait isu Papua yang telah diidentifikasi, divalidasi, dan diverifikasi oleh Kominfo. Dari sejumlah item dan URL tersebut disebarkan ke ratusan ribu pemilik akun media sosial Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube.
Distribusi hoax semakin masif beredar di masyarakat karena tak sedikit pengguna media sosial yang turut mendistribusikan dan mentransmisikan informasi elektronik yang tak jelas kebenarannya itu. Untuk itu pemerintah melalui Kominfo memblokir internet sejak kerusuhan pertama yang pecah di Manukwari, Papua Barat, pada Minggu 18 Agusus 2019 lalu. Kerusuhan yang terjadi diduga dipicu oleh protes terhadap diskriminasi dan aksi rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang.
Ujian Persatuan Bangsa
Apa yang telah dilakukan oleh Kominfo dengan memblokir internet pada layanan selular di Papua dan Papua Barat memunculkan pro kontra. Cara yang dilakukan pemerintah ini seperti yang pernah dilakukan saat jelang sidang MK tentang gugatan hasil Pilpres silam. Sejumlah kalangan menilai cara pemblokiran bukanlah satu-satunya cara yang tepat. Dengan memblokir internet memang bisa jadi peredaran hoax bisa di tekan, namun beragam manfaat baik internet yang digunakan warga jadi ikut terganggu.
Dari peristiwa pemblokiran ini telah memunculkan protes dari beberapa pihak. South East Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) bersama 17 organisasi telah menggelar aksi demonstrasi meminta Kementerian Kominfo membuka akses internet di Papua dan Papua Barat. Sejumlah aktivis menuntut pemerintah mencabut pembatasan jaringan internet sebab pemblokiran dan pembatasan akses informasi dapat melanggar hak digital. Hak semua warga negara untuk dapat mengakses informasi.
Pemblokiran yang dilakukan pemerintah ini memang simalakama. Ada nilai plus dan minusnya. Namun hendaknya ke depan tak lagi ditempuh cara-cara represif pemerintah dengan melakukan pemblokiran. Hal ini justru dapat memperkeruh suasana karena banyak masyarakat yang kerjanya menggantungkan diri dari internet jadi terganggu. Pemerintah mestinya mencari cara-cara lain yang tidak instan. Upaya mencerdaskan masyarakat terhadap bahaya produksi dan distribusi hoax harus dilakukan segera.
Sendi Bhinneka Tunggal Ika seharusnya bisa lebih diperkuat dengan adanya internet. Kehadiran internet bisa tak jadi perusak persatuan bangsa asalkan narasi-narasi yang membangun semangat persatuan terus digelorakan. Perlu perlawanan terhadap produksi dan distribusi hoax yang dapat merusak sendi kebhinekaan. Kesadaran masyarakat agar tetap waspada terhadap bahaya laten hoax juga menjadi hal yang penting dilakukan. Perlawanan terhadap hoax yang dapat mencipta disintegrasi bangsa harus menjadi musuh bersama.
Semangat persatuan dan kesatuan bangsa kita memang sedang diuji. Soal dalam ujian itu adalah masifnya hoax yang menyerang masyarakat. Agar lulus ujian ini maka perlawanan terhadap hoax harus dilakukan oleh semua pihak. Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan menjadi hal yang utama. Apapun provokasi yang telah dilontarkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab lewat beragam hoax yang diciptakan harus dilawan. Masyarakat perlu tetap meningkatkan kewaspadaannya agar tak mudah terprovokasi hoax.
Hoax adalah musuh yang nyata dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai musuh yang sangat membahayakan, maka tak ada cara lain agar musuh bersama itu segera sirna. Untuk itu jangan mudah percaya dengan hoax. Bentengi diri, waspada dan tak mudah terbawa oleh bujuk rayu hoax yang memecah belah kebhinekaan kita sebagai bangsa. Hoax harus terus dilawan demi tetap tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Mari bersatu padu melawan hoax yang dapat merusak sendi dan spirit Bhinneka Tungga Ika.

——– *** ———-

Rate this article!
Tags: