Hadapi Tantangan Global, Jatim Harus Jadi Garda Terdepan

Serah terima jabatan Gubernur Jatim, di Gedung DPRD Provinsi Jatim, Senin (18/2) kemarin. [Gegeh Bagus Setiadi]

DPRD Jatim, Bhirawa
Prosesi serah terima jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim 2019-2024 digelar di Sidang Paripurna DPRD Provinsi Jatim, berjalan cukup khidmad. Bersama Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Sumarsono, Dr H Soekarwo selaku Gubernur Jatim 2014-2019 melakukan sendiri prosesi serah terima jabatan kepada Gubernur Jatim 2019-2024 Khofifah Indar Parawansa beserta Wagub Emil Elestianto Dardak.
Acara sertijab berlangsung lancar tanpa adanya kendala. Berbeda dengan Khofifah yang didampingi Emil Elestianto Dardak wakilnya, Soekarwo tidak didampingi oleh Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul mantan wakilnya yang juga rival dari Khofifah pada ajang Pilgub 2018 lalu.
Selain Sertijab, juga diadakan rapat paripurna dan pidato Gubernur baru Jatim untuk kali pertamanya yang berisi tentang visi misinya saat mencalonkan diri menjadi gubernur.
Saat membuka rapat, Abdul Halim Iskandar ketua DPRD Jatim sempat menyinggung ketidakhadiran Gus Ipul dalam acara ini. Namun ia melontarkan guyonan bahwa Gus Ipul sebelumnya sudah menyanyikan lagu “Wes Wayahe” yang identik dengan Khofifah, serta dibalas oleh Khofifah dengan menyanyikan lagu “Kabeh Sedulur Kabeh Makmur” saat kampanye pilgub tahun lalu.
Dalam pidatonya, Khofifah menyampaikan tentang tantangan global yang harus dihadapi Indonesia. Salah satunya munculnya Revolusi Industri 4.0 yang menciptakan disrupsi sedemikian rupa. Menurut dia, Jatim tidak bisa menunggu solusi.
“Jatim dituntut menjadi garda terdepan bangsa untuk menemukan solusi konflik menghadapi tantangan global tersebut. Di saat yang sama, Jatim dihadapkan tantangan yang bersifat elementer (dasar, red),” ujarnya di atas podium.
Tantangan elementer itu, salah satu di antaranya masih signifikannya jumlah penduduk, terutama perempuan yang belum menempuh pendidikan dasar. Khofifah juga mengatakan, saat ini menjadi signifikan untuk mengoreksi jumlah stunting di Jatim.
“Belum lagi kurangnya prasarana dan sarana di desa, juga kemiskinan yang relatif meningkat terutama di wilayah perdesaan,” kata Khofifah. “Teratasinya berbagai permasalahan ini menjadi prasyarat mewujudkan masyarakat berdaya saing.”
Khofifah menegaskan, pembangunan di Jatim harus menekankan bahwa tidak ada satupun masyarakat yang tertinggal.
“No one left behind yang mana pembangunan ini harus sejalan dengan sistem pembangunan berkelanjutan (sustainable development goal),” ujarnya.
Karena itulah, tim navigasi Khofifah-Emil, menurutnya, telah menajamkan 9 nilai Nawa Bhakti Satya dalam membangun Jatim. Sembilan Bhakti yang menurutnya untuk memuliakan masyarakat Jatim.
Perlu diketahui, penyampaian pidato ini dia lakukan setelah proses serah terima jabatan di lokasi yang sama. Soekarwo Gubernur Jatim sebelumnya hadir dan turut menandatangani berita acara serah terima jabatan ini. [geh]

Tags: