Gubernur Khofifah Jajaki Pengembangan PLTSa Plastik

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa didampingi Kepala ESDM Jatim Setiadjit mengunjungi PT Mega Surya Eratama, Ngoro, Mojokerto yang sedang mengembangkan PLTSa dari sampah palastik. [karyadi]

Petakan Potensi Sampah untuk Energi Listrik Jatim
Pemprov, Bhirawa
Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan serius pemerintah. Tdak hanya di Jatim, melainkan juga secara nasional. Karena itu, Presiden meminta agar para gubernur melakukan pemetaan potensi sampah untuk dikembangkan sebagai bahan baku energi listrik.
Menindaklanjuti hal tersebut, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melakukan penjajakan rencana penyiapan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang berasal dari sampah plastik pada salah satu perusahaan di Jatim. Perusahaan tersebut adalah PT Mega Surya Eratama yang disebut-sebut akan menjadi pabrik pertama di Jatim yang mengembangkan PLTSa dari plastik sebagai pembangkitnya.
“Untuk sampah basah sudah diinisiasi di Surabaya. Sedang untuk sampah plastik sedang diinisiasi di sini. Kita punya PR, sampah plastik kita lima besar di dunia. Maka, bagaimana pengolahan sampah plastik menjadi energi listrik,” tutur Khofifa di sela kunjungannya di PT Mega Surya Eratama Mojokerto, Senin (15/7).
Khofifah menuturkan, pengolahan sampah menjadi energi telah masuk dalam salah satu Rencana Umum Energi Daerah (RUED) yang kini sedang dibahas di DPRD untuk menjadi Perda. Khofifah berharap, energi terbarukan non fosil di Jatim akan mampu mencapai 16,8 persen pada 2025 mendatang. “Hari ini kita ke sini untuk melihat bahwa sampah bisa menjadi energi listrik,” tutur dia.
Industri kertas di Jatim menyumbang 23 persen industri kertas nasional dan sebagian besar menggunakan wate paper. Termasuk pabrik kertas tersebut menggunakan bahan baku 80 persen waste paper impor. Sedangkan 20 persennya menggunakan bahan baku kertas bekas lokal.
“Persoalannya ketika kertas bekas itu diimpor, ada ikutan (sampah) plastiknya. Bahkan informasinya, ada 305 kontainer (waste paper) yang tertahan dan berpotensi di reekspor,” tutur Khofifah. Rata-rata, lanjut dia, hari ini pabrik kertas di Jatim yang bahan bakunya menggunakan waste paper bahan bakunya semakin menipis. Termasuk pabrik ini yang bahan bakunya diperkirakan hanya tinggal sepuluh hari mendatang.
Dengan adanya produksi listrik yang memanfaatkan sampah plastik, diharapkan akan menjadi solusi bagi pabrik kertas untuk bisa menghabiskan sampah plastik yang ada di pabrik tersebut. “Jika pembangkit listrik tenaga sampah plastik ini jalan awal Agustus nanti, maka kesepakatan kami dengan owner pabrik ini juga dengan Kepala Dinas ESDM kita ingin mengkomunikasikan dengan ITS,” kata Khofifah.
Karena pada dasarnya ITS sudah punya teknologi untuk sampah basah. Sehingga Khofifah ingin ITS bisa menyiapkan teknologi untuk pembangkit listrik tenaga sampah plastik ini secara lebih masif. Tujuannya agar harga dari mesin pembangkit listrik tenaga sampah plastik bisa lebih mudah dan murah. Dan jika ke depan ada kabupaten kota yang memanfaatkan mesin ini dan suatu ketika butuh spare part bisa konek langsung dengan ITS.
Di sisi lain, GM Project PLTSa PT Mega Surya Eratama, Eric Saputra, mengatakan secara sistem dan mesin, PLTSa plastik ini siap dioperasikan pada awal bulan Agustus mendatang. Daya yang dapat dihasilkan dari PLTSa tersebut mencapai 7,5 mega watt atau sekitar 15 – 20 persen kebutuhan energi listrik perusahaan.
“Kapasitas mesin kita bisa membakar 15 ton sampah plastik dalam sehari. Tapi sampah plastik yang keluar dari tempat kami di bawah 10 ton sebenarnya. Kita memang lebihkan 50 persen yang penting sampah internal kita habis,” kata Eric.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, dibutuhkan uang Rp 20 miliar dengan teknologi dikembangkan dari hasil rekayasa perusahaan sendiri. “Sementara ini hasil listrik kita, kita pakai untuk operasional pabrik,” tegasnya.
Teknologi yang digunakan dalam PLTSa ini adalah menggunakan prinsip pembakaran material plastik. Plastik dibakar dalam tungku tertutup dengan temperatur di atas 450 derajat agar tidak mengeluarkan dioksin. Dari pembakaran tersebut akan keluar uap yang mengandung minyak. Uap tersebut kemudian disalurkan ke kondensor untuk didinginkan sehingga terbentuk minyak.
“Sampah yang kita bakar berasal dari dalam pabrik sendiri. Karena kita impor sampah kertas itu mencapai 4 ribu – 5 ribu ton per bulan. Dari sampah tersebut, kita sortir dan menghasilkan 10 ton sampah plastik per hari,” pungkas dia. [tam,kar]

Tags: