Gerakan Mahasiswa, Antara Tantangan dan Harapan

Oleh:
Arief Hanafi
Penulis adalah Dosen Antropologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP), Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida)

Selama beberapa hari mahasiswa dari berbagai universitas secara serentak telah menggelar aksi demonstrasi. Mereka menolak revisi beberapa undang-undang yang dianggap kontroversial. Mahasiswa tumpah di jalan dan berusaha menduduki objek vital pemerintah seperti kantor DPR pusat hingga Daerah.
Tak ayal peristiwa tersebut membuka memori kita pada sejarah lahirnya reformasi 1998. Di tahun tersebut peran mahasiswa tidak bisa dipandang sebelah mata. Gelombang protes berangkat dari kesadaran moral dan intelektual dengan maksud untuk merubah tatanan masyarakat yang lebih baik.
Gayung bersambut, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa ini disambut positif oleh lapisan masyarakat bawah. Gerakan mahasiswa mampu membuka cakrawala baru tentang arti sebuah kebebasan dan keadilan yang selama ini dibelenggu oleh rezim penguasa.
Peristiwa itu tidak pernah dilupakan oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia, karena dari gerakan moral itulah, titik balik sejarah dari rezim otoritarian menuju era demokrasi dimulai. Tidak mengherankan jika sejarah bangsa kita adalah sejarah para kaum intelektual. Dalam konteks ini kaum intelektual sering diidentikkan dengan mahasiswa.
Meminjam konsep Antonio Gramsci, filsuf berkebangsaan Italia ini menyebut intelektual organik sebagai agen perubahan. Bagi Gramsci intelektual organik tidak sekedar menjelaskan kehidupan sosial di ranah teori dan penjelasan akademis, lebih dari itu seorang intelektual mempunyai tanggungjawab untuk bisa berkontribusi dalam masyarakat.
Konsep Gramsci tersebut masih relevan dengan posisi mahasiswa sebagai bagian dari kelas menengah (middle class). Posisi ini sangat strategis, pasalnya sebagai kelas menengah, mahasiswa mempunyai modal sosial yang sangat besar.
Mereka mampu menjangkau arus masyarakat bawah (rakyat), pun demikian juga bisa melakukan akses negosisiasi dengan kelas atas (penguasa). Begitu urgensinya status dan peran mahasiswa, maka perlu dijaga konsistensinya agar selalu mempunyai sikap idealis dalam berfikir dan bersikap.
Dalam ranah dinamika politik, mahasiswa menjadi penyeimbang kebijakan pemerintah sekaligus sebagai motor penggerak perubahan. Terlebih hegemoni budaya di era glabalisasi semakin gencar hal ini dikuatirkan gerakan mahasiswa sebatas aksi temporer belaka. Maka menjadi sangat penting, idealisme mahasiswa tetap dijaga.

———— *** ————

Tags: