Genjot Pertumbuhan, Terminal Petikemas Surabaya Tambah 4 CC Twinlift

Kesibukan bongkar muat di TPS

Surabaya, Bhirawa
Demi untuk memacu IP pertumbuhan, Terminal petikemas Surabaya (TPS) genjot target peningkatan produktivitas layanan bongkar muatnya. Tak heran, jika anak usaha PT Pelindo III (Persero) ini mematok muluk target pelayanan primanya.
“Saya tidak berani sombong dengan target,” aku Direktur Utama (Dirut) PT Terminal Petikemas Surabaya, Endot Endrardono.
“Apalagi, dengan tambahan alat dan sarana pendukung baru. Jadi, tunggu saja nanti. Di triwulan 4 tahun 2020, alat tambahan yang kita butuhkan datang semua,” tandasnya.
Dari beberapa informasi yang ada menyebutkan, menyusul penguatan operasional layanan, TPS akan diperkuat dinamisasinya dengan tambahan 4 item sarana pendukung baru yang terbilang canggih dan mutakhir. Dari data yang dikumpulkan mencatat, perusahaan yang telah 99% sahamnya dikuasai Pelindo III itu, menambah 4 Container Crane (CC) canggih tipe Twinlift untuk mengganti 3 CC dari 15 CC terpasang karena rusak dan usang.
“Awalnya 8 CC, tapi untuk fase pertama, 4 CC sudah dilelang pengadaannya. Sedangkan, yang 12 unit, 10 di antaranya kami maksimalkan di internasional dan 2 unit untuk domestik,” jelasnya.
Apa yang diupayakan untuk mendorong percepatan operasional TPS tersebut, lanjut Endot, bukan main-main. Alasannya, untuk pengadaan alat-alat modern itu, perusahaan yang telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi ini berani mengguyurkan dana, tak kurang dari Rp 2,26 triliun. “Investasi yang kami tanam itu juga untuk merealisasikan 24 unit Rubber Tyred Gantry atau RTG Crane, 100 unit terminal tractor (head truck), dan 78 sasis,” ungkapnya.
Sementara, menyinggung traffic bongkar muat peti kemas saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1440 H/2019, Endot mengatakan, tidak mengalami hambatan. Artinya, di bulan puasa ini, arus peti kemas di TPS tidak terjadi penurunan alias tetap normal. “Nggak ada pengaruhnya. Karena secara data historis kami, di TPS ini hampir 81 persen market share atau pangsa pasarnya adalah internasional,” tuturnya.
Menyoal Dwelling Time yang masih menjadi isu pelambatan masa bongkar muat? Endot mengaku, tidak ada peti kemas yang menumpuk hingga berhari-hari atau bahkan sampai 5-6 hari. Menurutnya, TPS tetap memberlakukan pengetatan dengan pengenaan sanksi penalti bagi peti kemas yang berlama-lama di container yard.
“Kewajiban TPS ini kan gate in dan gate out, tidak lebih dari itu. Jadi, Dwelling Time di TPS hanya satu jam,” yakinnya.
Sekadar mengingat, 5 tahun lalu, dalam program klasterisasi pelabuhan, TPS diarahkan hanya untuk bongkar muat kontainer internasional dan domestik. TPS juga memiliki dermaga internasional, dengan lebar 50 meter, panjang 1000 meter dan kedalaman 10.5 meter LWS dan dermaga domestik, dengan lebar 45 meter, panjang 450 meter dan kedalaman 7.5 meter LWS.
Data tersebut juga mencatat, peralatan bongkar muat kontainer terdapat 11 Unit Container Crane kapasitas 35 ton dan 1 Unit Harbour Mobile Crane Kapasitas 100 ton. Kemudian di lapangan penumpukan seluas 45 Ha terdapat 33 Unit Rubber Tyred Gantry kapasitas 35 ton dan 6 Unit Reach Stacker kapasitas 35 Ton. Terdapat pula Container Freight Station seluas 1 Ha untuk menampung 75 Unit Terminal Tractor.(ma)

Tags: