Generasi Milenial Tanpa Narkoba

Oleh :
Dewi Zulia
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Jika berbicara mengenai narkoba, tentunya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi mendengarnya. Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “Narkoba” istilah lain yang digunakan khususnya oleh kementrian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif.
Narkoba ataupun Napza memiliki resiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak di operasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.
Peredaran narkoba di Indonesia sendiri kondisinya sudah mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dikeluarkan POLRI dimana angka kasus peredaran narkoba di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan. Terdapat berbagai cara bagaimana narkoba dapat masuk ke wilayah Indonesia. Ada yang masuk ke Indonesia langsung dari negara asalnya, ada pula yang masuk ke Indonesia dengan cara transit lebih dulu ke negara tetangga misalnya Malaysia, untuk kemudian dibawa ke Indonesia. Jalur yang ditempuh dari negara transit ini juga bermacam-macam, bisa melalui jalur udara, laut, sungai, maupun dari darat melalui wilayah perbatasan. Jalur laut dan sungai paling banyak dimanfaatkan oleh pelaku untuk didistribusikan ke berbagai wilayah, dikarenakan banyaknya pelabuhan kecil yang tersebar di berbagai provinsi serta kurangnya pengawasan aparat di daerah tersebut, kurangnya sumber daya manusia serta sarana prasarana yang kurang memadai menjadi faktor lemahnya pengawasan terhadap jalur tersebut.
Maraknya peredaran narkoba di Indonesia dikarenakan banyaknya pelabuhan tidak resmi atau biasa dikenal pelabuhan tikus yang dijadikan sebagai tempat favorit bagi pelaku pengedar narkoba. Sumber narkoba yang beredar di Indonesia kebanyakan berasal dari luar negeri seperti Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Cara yang biasa dilakukan oleh pelaku dalam melakukan transaksi narkoba, antara lain yaitu face to face, melalui kurir, pembelian langsung ke lokasi peredaran narkoba, sistem tempel (sistem tanam ranjau), serta sistem lempar lembing.
Pengguna ataupun pemakai narkoba di Indonesia sendiri bermacam-macam golongan mulai dari umur 10-59 tahun. Bahkan yang lebih miris anak muda atau generasi muda merupakan pengguna paling banyak di Indonesia bahkan pengguna narkoba ada juga yang tergolong masih anak-anak.
Generasi millennial identik dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang menurutnya menarik itu patut untuk dicoba. Tetapi yang dicoba kebanyakan adalah mencoba narkoba. Padahal narkoba, ekstasi, ganja dan sejenisnya merupakan bahan bukan untuk dicoba-coba. Kebanyakan anak-anak jaman sekarang kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua maupun karena putus cinta akhirnya mereka lari untuk mencari perhatian yang lebih dengan mengkonsumsi obat-obat terlarang. Mereka berfikir dengan mengkonsumsinya mereka tidak merasakan kesedihan yang dialaminya. Mereka bisa melampiaskan semuanya dengan mengkonsumsinya. Padahal pada kenyataannya penggunaan narkoba dapat menghilangkan kesadaran pemakainya, dan juga dapat membuat pemakainya menjadi liar sehingga dapat meresahkan masyarakat. Mereka bisa saja mencuri atau merampok demi mendapatkan uang karena untuk membeli obat-obat tersebut terbilang cukup mahal.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dari 87 juta populasi anak Indonesia, sebanyak 5,9 juta diantaranya menjadi pecandu narkoba karena pengaruh dari orang-orang terdekat. KPAI menyebutkan menangani 2.218 lebih kasus terkait masalah kesehatan dan Napza yang menimpa anak-anak. Sebanyak 15,69 persen diantaranya kasus anak pecandu narkoba dan 8,1 persen kasus anak sebagai pengedar narkoba. Sedangkan Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat sepanjang 2018 sampai saat ini pengguna terbanyak adalah anak muda. Fakta ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi ini dirasakan juga di Indonesia yang membuat anak muda mudah melakukan interaksi pemesanan narkotika. Menurut BNN dalam tahun ini BNN telah melakukan tes urin sebanyak 4.652 kali dengan peserta sebanyak 297.000 lebih sebagai upaya penyelamatan pada penyalahgunaan dari jeratan narkoba.
Pemerintah sendiri sudah berupaya dengan berbagai macam cara untuk menanggulangi peredaran narkoba. Bahkan pemerintah sendiri bertindak tegas dengan tidak segan-segan melakukan eksekusi mati bagi pengedar narkoba.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda dari penyalahgunaan narkoba, kita dapat melakukan berbagai pencegahan diantaranya yaitu yang pertama pencegahan dilakukan kepada orang yang belum mengenal narkoba serta komponen masyarakat yang dapat mencegah penyalahgunaan narkoba. Kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya adalah penyuluhan tentang bahaya narkoba, pendidikan tentang pengetahuan narkoba dan bahayanya.
Yang kedua pencegahan yang dilakukan kepada orang yang sedang coba-coba menyalahgunakan narkoba serta komponen masyarakat yang dapat berpotensi membantu agar berhenti dari penyalahgunaan narkoba. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya adalah deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba, konseling, (life skills) antara lain tentang keterampilan berkomunikasi dan keterampilan mengambil keputusan dengan baik.
Yang ketiga pencegahan dilakukan kepada orang yang sedang menggunakan narkoba dan pernah/mantan pengguna narkoba. Serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti dari penyalahgunaan narkoba dan membantu bekas korban narkoba untuk dapat mengakhiri misalnya konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.
Namun hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan narkoba pada anak-anak dan generasi muda adalah pendidikan keluarga, orang tua diharapkan untuk mengawasi serta menyalurkan bakat dan minat anak ke arah yang positif serta menumbuhkembangkan diri anak melalui pendidikan agama sejak dini dan memberikan kepercayaan pada anak dalam batas toleransi.
———- *** ———–

Rate this article!
Tags: