Gelar Simulasi Tanggap Bencana, Fokuskan Penyelamatan Diri

Para siswa-siswi SAIM dari jenjang Play group hingga SMA melakukann simulasi dini tanggap bencana, Rabu (24.10). salah satunya dengan melindungi kepala dan berkumpul pada titik evakuasi yang ditentukan.

Kerjasama SAIM – BPBD Jatim
Surabaya, Bhirawa
Sekolah Insan Alam Mulia (SAIM) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim melakukan kegiatan simulasi tanggap bencana. Kegiatan ini diikuti sebanyak 1000 siswa yang terdiri dari jenjang Play Group, TK hingga SMA , guru, petugas kebersihan hingga satpam.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Jatim Satrio Nurseno mengungkapkan untuk simulasi tanggap bencana pihaknya fokus pada ancaman bencana. khususnya, dalam penyelamatan diri.
“Simulasi ini bagian dari skenario yang kami buat untuk menggambarkan persis suasana dilokasi yang terkena gempa. Meskipun kita tidak bisa memprediksi kekuatan gempa. Tapi paling tidak, kita memberikan spot-spot yang aman untuk berlindung, juga pemahaman indikasi gempa,”jelas dia.
Lebih lanjut, termasuk mengetahui tata cara berjalan ketika terjadi gempa, melindungi diri dan mencari tempat-tempat yang aman di dalam ruangan.
“Sesuai pengalaman kami, bagaimaa cara nya orang-orang ini menjauhi struktur bangunan. Karena yang membunuh ini bukan gempanya. Tapi struktur bangunnya. Jadi ini juga yang kita ajarkan pada mereka”jelas dia.
Ketika kita berbicara gempa, lanjut dia, baik pihak swasta maupun pemerintah harus memiliki jalur evakuasi sebagai bentuk penanggulangan bencana. Akan tetapi, tidak semua orang dibekali dengan analisa yang cukup baik dalam menentukan titik kumpul yang aman. “Ini juga harus ditunjang dengan struktur keadaan darurat. Misal disekolah ada tim siaga bencana, di instansi atau lembaga ada K3, dan dirumah ada housdeep. Ada pemberian materi dan simulasi yang juga harus disampaikan,” tutur dia.
Sementara itu, Koordinator Komunikasi SAIM Surabaya, Hamdiyah mengatakan pentingnya pelatihan pengkondisian di dasari dari penanganan korban bencana yang dilakukan tim relawan SAIM ketika di Lombok.
Menurut dia, pengetahuan dan pemahaman tentang pelatihan pengkondisian perlu disampaikan, mengingat hal ini justru berimbas pada psikologis korban bencana alam yang tidak hanya kehilangan anggota keluarga juga kehilangan materi.
“Jadi sebelumnya ada pemahaman dan pelatihan untuk guru tentang simulasi bencana ini. Untuk pelatihan pengkondisian sebelumnya kami juga terjun jadi relawan di Lombok. Jadi kami faham bagaimana kami menangani psikologis para korban setelah dilakukannya simulasi, “pungkas dia. [ina]

Tags: