Fraksi PDI-P Usul Ada Gamelan di Gedung DPRD Jatim

Sri Untari

DPRD Jatim, Bhirawa
Lunturnya nilai-nilai budaya lokal ditengah perkembangan teknologi dan persaingan bebas diharapkan tidak berlarut-larut menerpa bangsa ini. Termasuk budaya di Jawa Timur yang pada zaman dahulu cukup mendasari sifat sopan santun, budi pekerti, gotong royong dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Sri Untari berinisiatif akan mengembalikan jati diri bangsa dimulai dengan menghidupkan kembali karakter budaya bangsa Indonesia.
Apalagi dalam amanat kongres V PDI-P di Bali beberapa waktu lalu, salah satunya merekomendasikan pembangunan sumber daya manusia dengan cara menumbuhkan lagi nilai-nilai kebudayaan baik itu sifatnya pendidikan maupun kesenian.
“Bagaimana caranya, minimal di Gedung DPRD Jatim ini ada seperangkat alat gamelan,” cetus Sri Untari, Kamis (22/8) kemarin. Dengan adanya seperangkat musik gamelan, lanjut Untari, para seniman di Jawa Timur bisa menggunakan untuk aktifitas rutin. Selain gamelan, juga disiapkan tempat untuk latihan menari dan nembang.
“Saya rasa di ruang lobi kantor DPRD itu cukup kalau disiapkan tempat untuk gamelan dan juga tempat latihan nari atau tembang,” sebut Untari yang saat Kongres V PDI-P di Bali kemarin didaulat sebagai juru bicara Komisi Kebudayaan.
Bila hal itu bisa diwujudkan, Untari meyakini wujud menjaga eksistensi budaya Jawa Timur bisa tercapai. “Supaya lantai I DPRD nggak sepi, dan supaya DPRD ini juga selalu dekat dengan rakyat kita, tapi ada manfaatnya untuk kembali mengisi hari-hari kita dengan kebudayaan sendiri,” ujar Untari yang juga Sekretaris DPD PDI-P Jatim ini.
Selain itu, penggunaan bahasa Jawa seperti Ngoko, Krama dan bahasa daerah lainnya bisa mulai digunakan sesering mungkin. Dengan begitu, generasi saat ini tergugah bahwa bangsa Indonesia dulu memiliki kebudayaan tinggi.
Buktinya, banyak peninggalan kebudayaan yang sampai sekarang masih ada hingga masa kini. Seperti Macopat, yang artinya Moco Papat-papat. Itu yang kemudian diadaptasi para wali untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa ini melalui gamelan dan tembang.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jatim juga ikut menjaga bahwa disini dulu pernah ada Kerajaan Majapahit yang disana merupakan puncak Emperial Indonesia tertinggi, sangat kaya, sangat besar, dan sangat berkelas bentuk budaya dan ajaran-ajaran.
Dimana salah satu ajaran leluhur yang sudah ada sejak majapahit itu adalah ajaran budi luhur melalui tembang-tembang, cerita-cerita serta kitab-kitab yang disusun sejak saat itu.
“Saya berharap seluruh anggota DPRD Jatim ke depan mampu memiliki visi itu. Bagaimana membuat Provinsi Jawa Timur itu tetap care terhadap budayanya sendiri,” harapnya.
Karena seperti diketahui bersama, saat ini, bangsa Indonesia utamanya Jawa Timur Sedang diserbu oleh budaya-budaya dari luar. Baik itu budaya dari dari barat, maupun dari timur Tengah yang tanpa terasa membuat semua kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia sebenarnya.
Para elit perlu memahami bagaimana mengurus negaranya melalui kembali pada jati diri bangsa yang diemplementasikan melalui sikap kehiduapan sehari-hari.
“Maka mari kita hidupkan wayang orang, wayang kulit, ludruk, seni tembang, yang pada zaman dulu diajarkan ketika saya Masih sekolah, dan saya merasakan manfaatnya cukup besar dalam menjalani kehidupan pada saat ini,” pungkas anggota Komisi C DPRD Jatim ini. [geh]

Tags: