Festival Kopi Kabupaten Probolinggo 2019 Lahirkan Barista Lokal Berkualitas

Pemenang festival kopi 2019 Probolinggo.

Kab Probolinggo, Bhirawa
Festival Kopi Kabupaten Probolinggo tahun 2019 melahirkan jawara baru pada perlombaan “v60 battle dan cupping coffee”. Juara utama pada kedua kategori lomba tersebut didominasi oleh barista-barista muda asal Kabupaten Probolinggo. Mereka menyisihkan Barista luar kota seperti Jember, Pasuruan dan Bondowoso.
Untuk mengapresiasi hal tersebut Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Probolinggo memberikan hadiah berupa piagam penghargaan dan uang pembinaan kepada masing-masing juara pada saat malam penutupan Festival Kopi Kabupaten Probolinggo tahun 2019, di Alun-alun kota Kraksaan.
Kategori lomba v60 battle, juara 1 diraih oleh Rofa Ainul Yaqin dari Kabupaten Probolinggo, untuk juara 2 diraih oleh Rosalinda yang juga berasal dari Kabupaten Probolinggo, kemudian untuk juara 3 diraih oleh Maulana barista asal Kabupaten Lumajang.
Sedangkan untuk kategori lomba cupping coffee varietas Arabika diraih oleh asal barista muda pemilik kedai Kopi “Genggong Kopi” Desa Karangbong atas nama Anshori (A’an) dengan produk kopinya yang bernama “Kopi Presiden”. Sementara untuk varietas Robusta berhasil diraih oleh pemilik Kedai Kopi “Tegar” asal Kabupaten Probolinggo.
Menurut salah satu keterangan pemenang, Anshori yang akrab di panggil A’an, Rabu 1/5 sebelumnya tidak menyangka kalau kopi Arabikanya bakal berhasil mencuri perhatian para juri. Sebelumnya “Kopi Presiden” ini memang dikenal dengan karakternya yang fruity, body yang cukup tebal dan aciditynya yang lumayan nendang.
“Kebetulan untuk proses fermentasinya kami menggunakan metode yang sedang banyak digemari konsumen saat ini yang cenderung menyukai karakter rasa fruity pada kopi, yaitu fermentasi wine. Untuk tingkat kematangan biji kami roasting pada tingkat medium dan kemudian untuk grind size pada angka dua,” jelasnya.
Ketua Pembina HIPMI Kabupaten Probolinggo yang juga pemilik coffee shop di Kota Kraksaan Zulmi Noor Hasani menuturkan, peluang usaha pada komoditas kopi lokal sangat besar di Probolinggo. “Tinggal pelakunya mau belajar apa tidak tentang pengolahan kopi yang benar,” jelasnya.
Menurut Zulmi, sangat perlu bagi para pengusaha kopi untuk belajar dan mengikuti pelatihan-pelatihan tentang ilmu kopi, pengolahan dan penyajiannya. Hal ini untuk menjamin kualitas kopi yang mereka pasarkan.
“Pesan saya kepada pengusaha kopi baru, jangan takut bersaing dan jangan malas berinovasi serta mau belajar hal baru tentang kopi. Barista harus selalu ngulik dan mengeksplorasi kopinya. Dan yang paling penting seorang barista harus pandai berinteraksi dengan pelanggannya,” tandasnya.
“Kegiatan Festival Kopi merupakan sarana efektif dalam hal ini, selain didalamnya juga ada transfer wawasan tentang kopi dari pihak-pihak yang kompeten, disini juga diadakan lomba-lomba untuk meningkatkan skill para barista atau penyeduh kopi,” ungkap Zulmi.
Zulmi mengemukakan, kemasan Festival Kopi Tahun 2019 Kabupaten Probolinggo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Setelah mengangkat para petani kopi yang berada di hulu, konsep festival kali ini adalah untuk mengangkat para pengusaha kopi di hilir, karena edukasi paling dekat terhadap masyarakat adalah dari hilir. Oleh karena itu pada Festival Kopi kali ini diisi para pelaku usaha kopi seperti pemilik kedai kopi dan penjual kopi eceran.
Selama dua tahun terakhir, ada lonjakan anemo dan antusias masyarakat yang terlihat pada Festival Kopi kali ini. Hal ini dikarenakan masyarakat Kabupaten Probolinggo sebelumnya sudah teredukasi dengan baik. “Masyarakat kini sudah paham bagaimana kopi yang berkualitas dan seperti apa kompleksnya proses dan kegiatan yang diperlukan petani demi mendapatkan kopi yang berkualitas,” terangnya.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa untuk tahun ini HIPMI bersama OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait mengupayakan dua kegiatan edukasi masyarakat. Setelah Festival Kopi 2019, kemudian akan dilanjutkan “Festival Petik Merah” yang rencananya diadakan pada bulan Juni mendatang langsung di kebun kopi.
“Jadi festival selanjutnya adalah untuk mengedukasi masyarakat agar juga mengetahui secara langsung bagaimana proses kopi yang baik sejak petik di kebun. Untuk hal ini kami sudah menjalin kerja sama dengan PTPN XII dan Puslitkoka Jember,” tuturnya.
Zulmi menambahkan salah satu tujuan utama yang ingin dicapai melalui festival kopi kali ini adalah agar para pelaku bisnis kopi senantiasa semangat dan kreatif dalam mengulik kopinya. “Kreatifitas dalam menjalankan bisnis kopi juga sangat penting, bahkan seorang tengkulak pun tidak bisa dengan hanya ditunjang modal yang cukup tapi juga harus ditunjang dengan pemahaman luas tentang ilmu kopi,” tambahnya.(Wap)

Tags: