Festival Kesenian Jaran Bodhag Hari Ini Digelar

Salah satu gelaran kesenian jaran bodag di semipro.

Salah satu gelaran kesenian jaran bodag di semipro.

Kota Probolinggo, Bhirawa.
Dalam rangka memperingati Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71, Hari Jadi Kota Probolinggo ke-657 dan SEMIPRO ke-8 Pemerintah Kota Probolinggo menggelar kegiatan Festival Jaran Bodhag. Festival Jaran Bodhag dilaksanakan hari Jum’a tanggal 2 September 2016 dimulai Pkl. 13.00 WIB dan berakhir Pkl. 17.30 WIB, di Museum Probolinggo, diikuti oleh puluhan kelompok Jaran Bodhag se-Kota Probolinggo. Festival dibuka oleh Ibu Walikota Hj. Rukmini.
Wali Kota menegaskan bahwa Kesenian Jaran Bodhag telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Non Benda berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Keputusan Walikota Probolinggo. Diharapkan pada penyelenggaraan selanjutnya agar minimal satu kelurahan di Kota Probolinggo memiliki satu kelompok kesenian Jaran Bodhag.
Jaran Bodhag mulai muncul dan dikenal oleh masyarakat Kota Probolinggo sejak zaman awal kemerdekaan. “Salah satu sumber menerangkan, bahwa Jaran Bodhag merupakan kesenian turunan dari kesenian ada sebelumnya, yaitu ‘Jaran Kecak’, namun perbedaannya pada kesenian jaran bodhag tidak menggunakan Kuda asli, tetapi menggunakan semacam bentuk tiruan kuda dari bahan rotan dan kayu,” ujar Wali Kota Hj. Rukmini Kamis (1/9).
Bentuk penyajian Jaran Bodhag adalah arak-arakan dan diiringi musik kenong telo’ dengan tambahan sronen. Tampilan Jaran Bodhag terdiri dari dua orang pembawa Jaran Bodhag, serta dua orang Janis/penari pengiring/pembawa Jaran Bodhag. Pemain Jaran Bodhag menggunakan pakaian yang gemerlap yang didesain sendiri oleh pemiliknya dengan segala kemampuan estetiknya dengan maksud untuk menarik perhatian penonton.
Jaran Bodhag biasanya ditampilkan pada perayaan tertentu atau pada acara seperti khitanan sebagai hiburan seni pertunjukan tradisi secara turun temurun.
Berbeda dengan penampilan pada festival sebelumnya dimana para peserta tampil diatas panggung, kali penilaian peserta dilaksanakan dengan jalan dikirab. Karena pada hakekatnya kesenian Jaran Bodhag bukanlah menetap pada satu lokasi tetapi berkeliling (mobile).
Kirab dimulai dari Musium Kota Probolinggo, melintas di sepanjang Jalan Suroyo menuju ke Alun-alun Kota Probolinggo dan kembali lagi melintas jalan yang sama menuju finish di Musium Kota Probolinggo.
Kesenian Jaran Bodag sendiri cukup unik dengan mengenakan perlengkapan seni jaran bodag, para peserta yang berasal dari Kota Probolinggo itu menunggu satu persatu giliran untuk tampil. Dalam satu tim yang maju sebanyak empat orang. Dua orang di dalam jaran bodag, dua orang bertugas sebagai pengisi acara.
“Jaran bodag ini terkenal dengan arak-arakannya. Tetapi di festival ini peserta harus menyampaikan pesan-pesannya melalui lagu atau teaterikal yang dikemas dalam pertunjukkan,” ungkap Peni Priyono Ketua Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKK-Pro).
Menurut Peni, jaran bodhag merupakan salah satu kesenian tradisional yang biasa ditanggap oleh masyarakat ketika menggelar pernikahan atau manten sunat. Jaran bodag adalah termasuk jenis seni pertunjukan seperti tari re re re, terbangan, jaran kencak dan macan-macanan.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan seni jaran bodag semakin terkikis dan tidak terdengar lagi gaungnya. Nah, untuk melestarikan budaya asal Kota Probolinggo itu maka pemerintah melalui satuan kerjanya menggelar festival jaran bodag.
“Sebenarnya kesenian ini masih ada, cuma penggemarnya sedikit seiring majunya perkembangan zaman. Tetapi, di lain daerah kesenian ini masih digandrungi oleh masyarakat banyak. Misalnya di daerah Kabupaten Probolinggo,” ungkap Peni.
Dari  peserta yang mendaftar, panitia hanya akan memilih lima besar dengan nilai tertinggi. Kriteria penilaian itu meliputi irama, gaya, nada, penampilan dan keserasian. “Jika peserta ingin membawa pemain penabuh alat musik sendiri ya tidak apa-apa. Tetapi kami menyediakan,” imbuhnya.
Harapan yang muncul dari penyelenggaraan festival jaran bodag ini, pemerintah ingin kesenian tersebut dapat lestari dan para seniman bisa berkreasi dengan seni yang diminati. “Semoga nantinya dapat berkembang, tambahnya. [wap,adv]

Tags: