Fenomena Hidrometeorologi, BPBD Pasuruan Siagakan Petugas 24 Jam

Nelayan pesisir utara di Kota Pasuruan sibuk memperbaiki perahu di tepi laut di Kota Pasuruan, Minggu (7/3).

Pasuruan, Bhirawa
Curah hujan yang tinggi selama Maret membuat BPBD Kota Pasuruan siaga 24 jam. Yang paling diwaspadai adalah Fenomena Hidrometeorologi, sehingga masyarakat dihimbau esktra waspada.
Ketua BPBD Kota Pasuruan, Yanuar Afriansyah menyampaikan Fenomena Hidrometeorologi merupakan fenomena alam yang membawa dampak pada meningkatkan curah hujan.
Akibatnya bisa menimbulkan bencana banjir, angin puting beliung, pohon tumbang hingga lainnya. Itu berdasarkan imbauan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
“Selama Maret ini terjadi Fenomena Hidrometeorologi. Dampaknya akan terjadi bencana dan masyarakat kami himbau harus ekstra waspada. Agar tidak terjadi dengan hal-yang tak diinginkan, kami siagakan petugas selama 24 jam,” ujar Yanuar Afriansyah, Kamis (7/3).
Menurutnya, terdapat tiga kali shift selama 24 jam dalam antisipasi bencana tersebut. Tujuannya supaya BPBD terjun langsung dalam melakukan proses evakuasi dan antisipasi.
“Apabila ada bencana di wilayah Kota Pasuruan segeralah melapor kepada kami. Sehingga kami langsung datang ke lokasi. Kami juga melakukan patroli melihat kondisi di lapangan,” tandas Yanuar Afriansyah.
Imbauan waspada bagi masyarakat juga berlaku di pesisir utara Kota Pasuruan. Fenomena itu juga akan menimbulkan tingginya gelombang air laut di wilayah perairan Pasuruan hingga laut Jawa.
“Nelayan pesisir utara harus ekstra waspada dan harus mengurungkan niatnya apabila akan melaut. Karena, angin kencang di laut juga menimbulkan tingginya gelombang. Makanya, jangan pergi ke laut. Maret ini ada Fenomena Hidrometeorologi,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu nelayan asal Kelurahan Ngemplakrejo, M Imron ditemui di Pelabuhan Kota Pasuruan mengatakan saat ini ia lebih memilih untuk tidak melaut karena cuaca buruk di selat Pasuruan dan Madura sejak beberapa hari terakhir. Keputusan tidak melaut itu diambil menghindari terjadinya bencana lantaran ombak ditengah laut setinggi 3-4 meter.
“Karena faktor cuaca yang lagi tidak bersahabat, sehingga saya tidak berani turun ke laut. Selain itu, ditengah laut saat ini terjadi angin kencang dan sangat membahayakan jika memaksakan diri,” kata Imron.
Akibat tak melaut membuat Imron bersama nelayan lainnya hanya memanfaatkan persediaan yang ada. Sedangkan, sebagaian lainnya lebih memilih akan beralih profesi menjadi kuli bangunan.
“Tidak ada pilihan lain, kalau cuaca buruk terus menerus saya bakal beralih profesi. Yakni akan jadi buruh proyek, kuli bangunan sembari menunggu ombak laut jadi kecil,” imbuh Imron. [hil]

Tags: