Fenomena Alam Embun Salju Rusak Tanaman Kentang di Desa Ngadas

Tanaman sayur yang diproduksi petani Desa Ngadas, Kec Poncokusumo, Kab Malang

Kab Malang, Bhirawa
Petani di wilayah lereng Gunung Bromo dan Gunung Semeru, seperti petani di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, telah mengeluhkan fenomena alam, yakni terjadinya embun upas. Sehingga hal itu telah berdampak pada kerusakan tanaman pertanian.
Sebab, ungkap salah satu petani Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, kabupaten setempat Kartono, Senin (24/6), kepada wartawan, embun upas merupakan embun pagi hari yang membeku, hal itu akibat suhu dingin yang ekstrem. Sedangkan masyarakat Suku Tengger di lereng Gunung Bromno menyebut embun itu sebagai bayu pas atau embun salju. ”Salah satunya adalah tanaman kentang yang baru tanam, jika terkena embun upas akan rentan mengalami kerusakan,” tuturnya.
Menurutnya, tanaman kentang bisa diselamatkan melalui perawatan yang lebih serius dengan menyiramkan air. Dan biasanya kalau kena embun salju, maka tanaman kentang sebelum matahari terbit harus siram air. Namun persoalannya, air agak sulit didapatkan terutama untuk pertanian tadah hujan yang berlokasi di dasar jurang.
“Itu sebabnya, sebagian petani setempat hanya bisa pasrah dengan fenomena alam yang terjadi setiap tahun atau masuk pada musim kemarau seperti sekarang. Karena saat ini, di wilayah Desa Ngadas suhunya bisa mencapai 2-9 derajat celsius,” terang Kartono.
Dirinya mengaku, hingga kini dirinya dan petani lainnya belum melaporkan adanya kejadian kerusakan tanaman hingga gagal panen. Tapi mereka berusaha mewaspadai dampak dari fenomena tersebut. Sebab munculnya fenomena embun salju saat tanaman kentang siap panen, sehingga hal ini telah merugikan petani, karena terjadi kerusakan tanaman kentang.
“Meski terjadi fenomena alam embun salju, tapi masih dalam kondisi normal seperti biasa. Karena tanaman kentang siap panen, namun juga ada tanaman kentang rusak. Sehingga petani saat ini tyerus melakukan perawatan pada tanaman kentang,” ujarnya.
Sejauh ini, lanjut Kartono, pertanian hortikultura masih aman, sedangkan di Desa Ngadas sendiri, tanaman yang rentan rusak terutama di dasar jurang, dan tanaman kentang di lereng perbukitan umumnya masih aman. Dan biasanya, tanaman kentang yang kena embun salju sebesar 2 persen dari total lahan seluas 385 hektare. Tapi tanaman yang terkena embun salju itu, biasanya di dasar jurang, kalau di lereng masih aman.
Selain itu, Tokoh Masyarakat Desa Ngadas ini menambhakan, hingga sekarang masih belum ada laporan warga secara massal yang mengalami gangguan kesehatan akibat fenomena itu. Sebab, semua rumah warga Tengger memiliki dapur yang dilengkapi tungku tradisional untuk memasak yang juga berfungsi sebagai penghangat ruangan. Sedangkan fenomena embun salju itu, telah muncul sejak 16 Juni 2019 di kawasan Gunung Bromo dan Gunung Semeru.
“Cuaca dingin ekstrem seperti itu belum berdampak pada menurunan jumlah kunjungan wisata ke Gunung Bromo. Bahkan, penginapan milik warga Desa Ngadas masih tetap dipenuhi wisatawan untuk bermalam, yang paginya melanjutkan wisata ke Gunung Bromo,” jelas Kartono.
Secara terpisah, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Malang Syarif Hidayat mengatakan, jika suhu udara di lereng Gunung Bromo dan Gunung Semeru saat pagi sampai sore mencapai 2-12 derajat celcius. Sedangkan pada malam hari bisa nol derajat celcius. ”Sehingga cuaca dingin ekstrem tersebut telah membekukan dedaunan, rumput dan tanaman pertanian di kawasan Gunung Bromo dan Ranupane serta lereng Gunung Semeru,” jelasnya. [cyn]

Tags: