EJI Magnet Baru Investor Masuki Jatim

Kepala Dinas DPM dan PTSP Aris Mukiyono berdiskusi terkait masa depan investasi di Jatim dalam soft launching EJI 2019 di Hotel Elmi Surabaya, Selasa (19/3).

Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemprov Jatim terus bergerak memacu investasi yang masuk. Hal itu diperkuat dengan dibukanya pameran investasi East Java Investival (EJI) 2019. Pameran tersebut diharapkan menjadi magnet baru investor dalam dan luar negeri masuk ke Jatim.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Aris Mukiyono menuturkan, perputaran modal dari kebutuhan konsumsi tidak akan meningkat secara signifikan. Sementara government spending, juga tidak signifikan. Maka, cara yang harus ditempuh untuk meningkatkan modal harus melalui investasi.
“Kalau untuk konsumsi, setiap hari masyarakat makan tetap tiga kali. Sementara government spending, peningkatannya paling hanya lima persen tiap tahun. Maka satu-satunya cara untuk mempercepat adalah investasi,” tutur Aris saat mengikuti soft opening EJI 2019 di Hotel Elmi 2019, Senin (19/3).
Melalui investasi, Aris meyakini akan muncul produk-produk baru bernilai ekonomis dan penyerapan tenaga kerja baru. Di sisi lain, dampak positifnya adalah ekspor Jatim juga akan memingkat. “Kalau ekspor kita bagus, maka neraca perdagangan kita akan surplus,” ungkap dia.
Aris mengakui, selama ini belum ada konsep pameran investasi sebagaimana yang akan dibuka dalam EJI 2019. Agenda yang akan digelar September mendatang, saat ini akan terus dikuatkan dengan menggandeng sebanyak mungkin ivesteor. Dia menyebut beberapa negara yang siap untuk meramaikan EJI ini adalah Singapura, Korea Selatan dan Belanda.
“Bahkan dari Singapura sudah menyiapkan 25 investor yang akan masuk. Mereka kesini bukan pelancong, tetapi berinvestasi.” Tutur Aris. Aris menargetkan, 100 investor yang siap masuk dalam EJI 2019.
Lebih lanjut Aris menjelaskan, investasi yang akan diutamakan adalah sektor pariwisata dan sektor agro. Karena itu, beberapa proyek di daerah yang kini dalam tahap perencanaan pengembangan juga akan ditawarkan ke EJI 2019. Misalnya pengembangan wisata Pasir Putih di Situbondo sebagai echo park dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp 350 miliar. Selain itu, proyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari yang dikembangkan dengan kebutuhan investasi lebih dari Rp 10 trilun. “Proyek-proyek prospectus dari daerah ini akan kita angkat untuk ditemukan dengan investor yang berminat,” tutur dia.
Tidak hanya proyek-proyek besar, kata Aries, investasi juga akan menyasar pelaku UMKM yang ingin naik kelas. Konsep ini, kata dia, sebenarnya telah berkembang di Jepang dengan menggandengkan industri dan UMKM. Selain itu, investasi kecil juga dapat menyasar bisnis waralaba yang kini juga berkembang baik di Jatim.
“Tidak hanya pameran biasa. Ini selain membuka kran bagi investor masuk, kita juga ingin mengedukasi masyarakat tentang bagaimana cara berinvestasi dengan baik. Tidak harus dengan modal besar, bahkan dengan investasi kecil juga bisa terlaksana,” pungkas Aris. [tam]

Rate this article!
Tags: