Edi Sugiarto-Retno, Pasutri Perajin Kerajinan Kerang Asal Situbondo

Salah satu pekerja Edi Sugiarto-Retno saat membuat kerajinan tangan dengan bahan kulit kerang di kediamannya di Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Situbondo. [sawawi]

Mampu Mempekerjakan Tetangga, Sebulan Himpun Penghasilan Jutaan Rupiah
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Wilayah Kabupaten Situbondo yang memanjang di jalur pantai utara Jawa menyimpan potensi besar dalam hal kerajinan biota laut. Salah satunya adalah kerajinan kerang yang telah dikembangkan perajin Situbondo. Jumlahnya cukup banyak. Tak hanya satu atau dua desa saja, tapi sudah mencapai puluhan desa yang ada di pesisir Situbondo. Hasilnya pun sudah dijual ke berbagai daerah di Tanah Air.
Pagi itu, pasangan suami isteri (pasutri) Edi Sugiarto-Retno, berhasil ditemui disebuah gang di Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo. Pasturi muda ini sedang memantau sejumlah pekerjanya membuat kerajinan dari kulit kerang.
Biasanya setiap hari pasutri ini mengirim hasil olahan kerajinannya ke Bali. Di sana Edi Sugiarto bersama Retno sudah memiliki jaringan mitra kerja yang cukup banyak. “Ya hampir tiap hari saya mengirim barang ke Bali,” ujar Edi, saat ditemui di lokasi usaha kerajianannya belum lama ini.
Edi bersama isterinya cukup lama membuka usaha kerajinan tangan dengan bahan kulit kerang. Seingat Edi, ia merintis usaha kecil kecilan itu sejak 2004 silam. Hingga saat ini Edi mengaku mampu menghimpun penghasilan sedikitnya Rp2 juta per bulan. Yang sangat membanggkan meski masih bertaraf usaha rumahan, Edi mampu mengajak tetangganya untuk ikut bekerja, sehingga bisa membantu taraf ekonomi masyarakat terdekat. “Saya bersama istri merekrut warga sekitar, terutama yang membutuhkan pekerjaan,” ungkapnya.
Bisnis kerajinan tangan dengan bahat kulit kerang ini, urai Edi, awalnya dahulu sempat marak di berbagai titik di Kecamatan Panarukan. Sayang, beberapa tahun terakhir ini banyak warga setempat meninggalkan bisnis tersebut. Alasannya bermacam-macam, ada yang mengaku kehabisan dana, kurang peminat hingga karena sibuk dengan pekerjaan yang lain. “Saya bersama istri tercatat sebagai salah satu warga yang masih eksis menekuni kerajinan dari kulit kerang ini,” ujarnya.
Edi bersyukur terpaan krisis dana hingga untuk tutup usaha yang menimpa warga yang lain, tidak sampai menimpa pada diri dan isterinya-Retno. Edi yang beralamat di Desa Paowan Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo itu mengaku harus tekun dan sabar bersama isterinya dalam mengaruhi usaha kerajinan kerang.
“Saya bersama isteri terus semangat meneruskan usaha yang lama dirintis sesepuh dari keluarga ini. Bahkan, banyak warga di sekitar sini yang merasa diberdayakan oleh kami. Mereka rata rata ikut eksis dengan dorongan dari kami,” aku Edi.
Retno, istri Edi Sugiarto menimpali, dirinya sengaja mempekerjakan warga sekitar untuk melancarkan usaha bisnis kerajinannya karena banyak alasan dan faktor. Sebab dengan melibatkan tetangga, urai Retno, ia tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya atau ongkos kerja. “Kalau saya mempekerjakan orang yang jauh, harus menyediakan uang transportnya. Selain itu, sisi positifnya kami bisa ikut memberdayakan potensi yang dimili para tetangga,” ujar Retno.
Masih kata Retno, para pekerja rata-rata memiliki dedikasi kerja yang bagus. Terbukti setiap harinya, aku Retno, para pekerja mampu memenuhi jumlah orderan yang sudah lama dipesan. Retno tak bosan untuk mengajak tetangga yang lain untuk ikut bekerja sehingga kedepan memiliki prospek ekenomi yang cerah. “Alhamdulillah saat ini sudah banyak yang ikut bekerja guna membantu membuat kerajinan kerang di rumah saya. Kedepan saya sangat optimis usaha ini akan terus berkembang pesat,” papar Retno.
Retno mengaku, memulai bisnis kerajinan kerang sejak tahun 2004. Terdapat bermacam-macam bentuk kerajinan yang ia buat. Mulai dari tempat perhiasan hingga keramik dari kerang. Dari usaha ini, khusus peminat keramik masih sedikit dan justeru sebaliknya peminat tempat perhiasan yang cukup banyak. “Untuk memenuhi order kami harus memproduksi setiap hari. Untuk bahannya, kami biasa membeli kepada para pengepul yang ada di Kecamatan Panarukan. Untuk mendapatkan bahan yang bagus, kami harus memesan dari China,” jelas Retno.
Kata Retno, kerajinan kuilt kerang hasil karya tangan para pekerjanya sebagian lagi dikirim ke Bali. Untuk pengirimannya, kata dia, tidak menentu karena tergantung situasi pasar dan pesanan. Kadang setiap hari dan kadang sepekan dua kali saat mengirim barang ke Bali. “Intinya pelanggan kami bervariasi dan dari latar belakang yang beragam. Yang jelas di Bali itu bermacam-macam orangnya,” ungkapnya.
Khusus untuk besaran penghasilan yang diperoleh setiap bulan, kata Retno, bersih sekitar Rp 2 juta. Tetapi, lanjut Retno, kalau ditotal pendapatan keseluruhan mampu menghimpun uang puluhan juta rupiah. Sebagian dari pendapatan itu, kupasnya, Retno membaginya untuk honor pekerja dan membeli kebutuhan bahan yang lain. “Dana itu banyak digunakan untuk membayar pekerja dan kebutuhan vital yang lain,” beber Retno.
Lebih lanjut, Retno menegaskan, proses pembuatan tempat perhiasan dari kulit kerang diawali dari tahap penghalusan kulit kerang yang dilanjutkan dengan pengecatan hingga pengepakan barang kedalam tempat khusus. “Kalau dalam empat hari, kami biasanya bisa menghasilkan seratus tempat perhiasan yang semuanya terbuat dari bahan kulit kerang,” jelasnya.
Nur Hayati, salah satu pekerja kerajinan kulit kerang milik Edi Sugiarto-Retno, menuturkan ia sangat bersyukur bisa bergabung dengan usaha rumahan milik Edi Sugiarto-Retno, di Situbondo. Sebab, aku Nur Hayati, di rumahnaya saat ini masih sulit mencari pekerjaan selain usaha kerajinan kulit kerang ini. Nurhayati juga senang karena setiap hari bisa mendapatkan upah meski kecil. “Uang honor alhamdulillah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya. [sawawi]

Tags: