Dua Bulan Terakhir, Dua Warga Jatim Meninggal Akibat Leptospirosis

Dinkes Jatim, Bhirawa
Penyakit leptospirosis di Jawa Timur mengalami peningkatan kasus. Bahkan, mulai Januari hingga Maret 2019 ini sudah ada dua warga yang meninggal dunia karena penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira yang ada pada kencing binatang, seperti tikus, kucing, anjing dan lain-lain.
Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, periode Januari sampai awal Maret 2019 ada 33 kasus. Dari jumlah tersebut tertinggi ada di Kabupaten Sampang sebanyak 17 kasus. Disusul Kabupaten Pacitan 11 kasus, Kota Probolinggo 3 kasus dan Kabupaten Jember 2 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Jatim dr Setya Budiono MKes mengatakan leptospirosis merupakan salah satu jenis penyakit yang harus diwaspadai selama musim hujan. Bakteri Leptospira umumnya ditularkan lewat air.
“Penyakit ini biasanya muncul pada periode musim hujan. Di mana, ada di wilayah-wilayah banjir yang kemudian ada tikus muncul ke permukaan dan tercemar oleh bakteri. Kalau ada luka mikro (kecil, red) maka masuklah bakteri ini ke dalam tubuh,” jelasnya saat dikonfirmasi Bhirawa, Selasa (12/3) kemarin.
Meski ada wilayah yang tidak terkena banjir, lanjut dr Setya, kemungkinan besar penduduknya juga bisa terkena leptospirosis. Ia mencontohkan ada di di wilayah Pacitan dan Ponorogo. “Karena di sana ada potensi terjadinya penularan pada sumber air yang tercemar oleh sesuatu bakteri Leptospira. Bisa jadi kebersihan lingkungannya juga kurang baik,” terangnya.
Dr Setya membeberkan berbagai gejala terkena penyakit leptospirosis. Seperti demam, mual, nyeri, kulit kuning hingga kencing berwarna gelap. Ia mengimbau kepada masyarakat, khususnya wilayah-wilayah rawan genangan banjir di Jatim harus diwaspadai sebagai lokasi penyebaran leptospirosis.
“Kita mempunyai daerah-daerah tertentu yang perlu diwaspadai karena Leptospira,” imbuhnya.
Dinkes Jatim pun telah memberikan pembekalan kepada warga untuk mengantisipasi penyebaran leptospirosis selama musim hujan ini. “Salah satu langkah antisipasi yakni dengan menjaga lingkungan sekitarnya tetap bersih,” tambah dr Setya.
Ia juga mengingatkan warga untuk segera mendatangi puskesmas atau rumah sakit jika mengalami gejala dan tanda-tanda klinis tersebut. Leptospirosis sendiri, lanjut dr Setya, bisa menyebabkan gagal ginjal. Bahkan, penyakit ini bisa menyebabkan kematian bila tidak diobati dengan cepat dan tepat.
“Yang harus dikhawatirkan dari leptospirosis adalah terjadinya kegagalan ginjal,” ucapnya.
Sebelumnya Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek meminta masyarakat waspada terhadap ancaman penyakit yang diakibatkan oleh bencana banjir di saat curah hujan yang sedang tinggi seperti beberapa waktu belakangan ini.
“Karena banjir ya paling banyak diare, typhus bisa, leptospirosis bisa dari tikus yang kotorannya kena banjir,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek kemarin.
Lebih lanjut Menkes menjelaskan, masyarakat harus menjaga kebersihan rumah di saat musim hujan. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kontaminasi kotoran hewan pada air yang bisa menular kepada manusia.
Menjaga kebersihan lingkungan, menurut Nila, perlu dilakukan agar tidak menyebabkan terjadinya banjir. Pasalnya, saat banjir terjadi, maka berbagai macam penyakit rentan menjangkit manusia.
Sebagai cara untuk mencegah tubuh agar tidak terinfeksi bakteri, kata dia, masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan, rumah serta membiasakan mencuci tangan. [geh]

Tags: