Dongkrak PAD, Empat Bulan Potong 1.900 Sapi di RPH Probolinggo

Transaksi sapi di salah satu pasar sapi di Kabupaten Probolinggo.

Pemkab Probolinggo, Bhirawa
Pemkab Probolinggo berusaha terus menaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rumah Potong Hewan (RPH). Tahun ini, targetnya sekitar Rp 165 juta. Realisasinya, hingga April mencapai sekitar 30 persen. Empat bulan, potong 1.900 sapi di RPH Probolinggo.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) setempat melalui Kasi Kesmavet Nikolas, Senin 10/6 mengatakan, pihaknya terus berusaha menaikan target. Tujuannya, tentu saja agar PAD dari RPH terus meningkat.”Itu, terus kami lakukan. Kami memaksimalkan tenaga yang ada agar bisa mencapai target,” katanya.
Menurutnya, selain memaksimalkan SDM, pihaknya juga mengimbau kepada para peternak agar tidak memotong hewan di luar RPH. Sebab, jika itu dilakukan akan menurunkan PAD. “Selama ini masih marak pemotongan sapi di luar RPH. Karena itu, biasanya target PAD tidak terpenuhi. Karena itu, kami terus memberikan pemahaman agar itu tidak dilakukan lagi,” ungkapnya.
PAD dari RPH setiap tahunnya tidak tetap. Kadang naik, juga kadang turun. Pada 2016 misalnya, targetnya Rp 179.500.000 dan terealisasi Rp 179.020.000. Artinya, pada tahun itu target tidak tercapai. Pada 2017, target dinaikan menjadi Rp 215 juta. Dari target itu tercapai Rp 164.900.00. Meskipun target naik, namun realisasi menurun dari tahun sebelumnya.
Tahun berikutnya, yaitu 2018 target diturunkan menjadi Rp 179 juta. Realisasinya sekitar Rp 198 juta. Target terlampaui dari tahun sebelumnya. Tahun ini target PDAM malah diturunkan lagi menjadi sebesar Rp 165 juta. “Kami berupaya keras untuk mencapai target. Ini, target kami turunkan dari tahun lalu. Tetapi, nanti di PAK kemungkinan akan kembali dinaikkan,” tandasnya.
Sepanjang 2019, Pemkab Probolinggo menargetkan pemotongan sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) mencapai 8.272 ekor. Hasilnya, hingga 30 April 2019, baru 1.900 ekor sapi yang dipotong di RPH. Namun, Pemkab optimistis target itu akan tercapai.
Lebih lanjut Nikolas mengatakan, tahun ini ada penurunan jumlah pemotongan di RPH. Penurunan terjadi diakibatkan adanya pemotongan di luar RPH. “Padahal kami sudah melakukan sosialisasi rutin. Tapi, tetap saja ada yang melakukan,” katanya.
Selain itu, juga adanya larangan pemotongan ternak ruminansia betina produktif. Larangan ini langsung diawasi oleh kepolisian. Jika melanggar, akan berurusan dengan penegak hukum dan ada pidananya. “Tapi itu tidak masalah. Kami harus tetap memompa untuk bisa mencapai target,” paparnya.
Beragam upaya dilakukan untuk meningkatkan pemotongan di RPH. Salah satunya dengan terus melakukan sosialisasi. Kami terus meminta masyarakat agar selalu memotong di RPH. Pihaknya juga mencukupi sarana prasarana dan meningkatkan pelayanan RPH. Sehingga, para pengusaha bisa nyaman dan memotong ternaknya di RPH. “Kami juga meningkatkan SDM (sumber daya manusia) RPH. Serta, melakukan pengawasan dan pembinaan kepada para jagal di luar RPH. Dengan demikian, kami yakin masyarakat semakin sadar dan memotong ternaknya di RPH,” tuturnya.
Hal ini juga berkaitan dengan target pendapatan asli daerah (PAD) dari RPH. Tahun ini, dari RPH ditarget dapat memperoleh PAD Rp 165 juta. Namun, hingga April lalu baru tercapai sekitar 30 persen. Kami memaksimalkan tenaga yang ada agar bisa mencapai target. Berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Bromo, PAD RPH setiap tahunnya tidak tetap. Pada 2016, ditargetkan memperoleh Rp 179.500.000. Tapi, hanya terealisasi Rp 179.020.000.
Pada 2017 ditarget mendapatkan Rp 215 juta. Hasilnya hanya mendapatkan Rp 164.900.000. Tahun 2018, targetnya diturunkan menjadi Rp 179 juta. Syukur, bisa terealisasi Rp 198 juta. Nah, tahun ini hanya ditarget mendapatkan Rp 165 juta. “Kami berupaya keras untuk mencapai target. Ini, target kami turunkan dari tahun lalu. Tapi, nanti di PAK kemungkinan akan kembali dinaikkan,” tambahnya.(Wap)

Tags: