Dispendik Gelar Bimtek Kelas Inklusi

Diikuti 28 Sekolah dengan Siswa Berkebutuhan Khusus
Probolinggo, Bhirawa
Sebagai upaya pengembangan kelas layanan khusus, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo menggelar Bimbingan Teknis (bimtek) pendidikan layanan khusus kelas inklusi bagi sekolah dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Aula SKB Kraksaan, Rabu dan Kamis 23 hingga (24/10).
Bimtek ini diikuti 56 orang peserta terdiri dari 28 kepala sekolah dan 28 orang guru BK serta 28 sekolah yang ditunjuk dan memiliki siswa ABK di Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini dibuka Sekretaris Dispendik Kabupaten Probolinggo, Fathur Rozi didampingi Kepala Bidang Pembinaan SMP, Saiful Anwar.
“Bimtek pendidikan layanan khusus kelas inklusi bagi sekolah dengan ABK ini digelar dengan tujuan untuk memberikan bekal ketrampilan, dan pengetahuan kepada para guru BK di 28 sekolah dalam memberikan pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus,” kata Kasi Kurikulum dan Penilaian SMP Dispendik Kabupaten Probolinggo Sudarsono.
Sekretaris Dispendik Kabupaten Probolinggo, Fathur Rozi mengatakan, guru harus memiliki kompetensi dalam memberikan pelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Kompetensi itu adalah kemampuan yang teraktualisasi.
“Saat memasuki kelas, guru harus tahu kondisi di kelasnya kalau ada ABK yang harus mendapatkan pendidikan inklusi. Tujuan pendidikan inklusi memberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus,” katanya.
Menurut Rozi, ada beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian dari pemangku kepentingan. Diantaranya peserta didik, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, kegiatan pembelajaran dan lain sebagainya. Dimana sekolah harus memberikan satu ruang pembelajaran yang nyaman sehingga siswa enak belajar. ”Guru harus menjadi motivator dan fasilitator bagaimana belajar itu bisa menyenangkan,” jelasnya.
Hanya saja, terang Rozi, masih ada beberapa permasalahan yang dihadapi dalam penerapan pendidikan inklusi. Seperti guru inklusi belum terdata dengan baik, kurangnya guru pembimbing khusus, kompetensi guru perlu ditingkatkan, minimnya pemahaman guru terhadap ABk, guru mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar, kurang sabarnya guru dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus dan lain sebagainya.
“Dalam penerapan pendidikan inklusi ini, harus ada perubahan mindset pola pikir dari negatif ke positif. Sehingga ABK bisa diterima. Pendidikan inklusi harus menjadi jiwa sistem pendidikan kita. Guru harus memiliki rasa empati dan simpati kepada ABK. Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka layanan khusus pendidikan inklusi dapat dilaksanakan secara maksimal,” tandasnya
Hal ini sebagai tindak lanjut kegiatan pengembangan kelas layanan khusus, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo sebelumnya menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) GPK (Guru Pendamping Khusus) dan Kepala Sekolah Penyelenggara Sekolah Inklusi, beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini diikuti 52 orang GPK yang diselenggarakan di aula Dispendik Kabupaten Probolinggo dan 52 orang Kepala Sekolah Penyelenggara Sekolah. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, bimbingan dan keterampilan bagi GPK dan kepala sekolah penyelenggara sekolah inklusi untuk dapat menyusun dan melakukan assesment pendidikan bagi ABK dan membangun sistem koordinasi dengan sesama guru dan kepala sekolah serta orang tua peserta didik.
Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo, Dewi Korina menambahkan, kegiatan ini merupakan bentuk implementasi atas komitmen Pemerintah Kabupaten Probolinggo tentang layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus sebagaimana yang dicanangkan Bupati Probolinggo pada tanggal 29 Juli 2015 lalu.
“Untuk kepala sekolah, materinya tentang kebijakan sekolah inklusi meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan. Sementara untuk GPK, materinya lebih teknis tentang pembimbingan dan pembelajaran bagi murid berkebutuhan khusus,” jelasnya. [wap]

Rate this article!
Tags: