Dishub Jombang Gelar Pembinaan Keselamatan Berlalu Lintas bagi Pelajar

Pembinaan keselamatan berlalu lintas bagi pelajar SMP yang digelar Dishub Jombang di Gedung KPRI Sejahtera Jombang, Senin (14/10) kemarin. [arif yulianto]

Jombang, Bhirawa
Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jombang menggelar Pembinaan Keselamatan berkendaraan bagi para pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP), Senin (14/09) di Gedung KPRI Sejahtera, Jombang.
Siswa dari sekitar delapan SMP swasta di Jombang yakni SMP Sawunggaling, SMP Roushon Fikir, SMP Sunan Ampel, SMP Brawijaya, SMP Rahul Jadid, SMP Darul Ulum 5 Jombang, SMP Wijana Jombang, serta SMP Petra Jombang dilibatkan dalam acara ini untuk mengikuti pemaparan materi keselamatan berlalu lintas dari narasumber yakni, Ipda Sartono, Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jombang.
Kepala Dishub Kabupaten Jombang, Hartono menyampaikan, pihaknya melakukan pembinaan ini bersama dengan Satlantas Polres Jombang agar ketertiban di jalan bisa berjalan dengan lancar.
“Saya sampaikan, kini tiga sampai empat orang meninggal setiap jam akibat kecelakaan lalu lintas. Dan kecelakaan ini paling banyak didominasi para siswa, baik itu siswa SMA maupun siswa SMP,” beber Hartono.
Hartono menambahkan, dari data Kemeterian Perhubungan Republik Indonesia selama tahun 2016, terjadi 106.573 kecelakaan lalu lintas di seluruh wilayah Indonesia. Dari angka tersebut dijelaskannya, 73,9% diantaranya melibatkan sepeda motor yang korbannya sebagian besar merupakan para pelajar pada usia rentan yakni usia 10 sampai 19 tahun. Dimana jumlah korban pada tahun 2016 pada usia itu mencapai 14.214 orang.
“Sedangkan 2017 jumlahnya mencapai 13.441 orang. Ini data di Kementerian Perhubungan,” rinci Hartono.
Setelah mengikuti Pembinaan Keselamatan Berlalu Lintas ini, diharapkan para siswa yang mengikutinya juga bisa menyapaikan kepada teman – temannya bahwa, ada larangan mengendarai sepeda motor bagi remaja usia dibawah 17 tahun.
“Untuk usia SMA, lanjut Hartono, tahun 2016 lalu, jumlah murid SMA yang mengalami kecelakaan lalu lintas mencapai 138.995 orang dan siswa SMP 30.106. Ini menunjukkan bahwa, pelajar SMP juga banyak yang membawa sepeda motor,” terang Hartono.
Sementara pada tahun 2017, sambung Hartono, siswa SMA yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 132.423 orang dan siswa SMP yang meninggal dunia karena faktor yang sama pada tahun 2017 mencapai 29.763 orang.
“Jadi ini perlu menjadi catatan adik – adik pelajar bahwa syarat untuk mengendarai sepeda motor di jalan raya, minimal harus usia 17 tahun,” tandas Hartono.
Dengan tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bahkan mengakibatkan korban para pelajar baik SMP maupun SMA itu, maka sangat penting adanya pembinaan bagi para pelajar agar mereka memahami tentang keselamatan berlalu lintas. Sehingga, jelas Hartono, tahun 2013 pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden nomor 4 tahun 2013 tentang Dekade Aksi Keselamatan Jalan yang menjadi payung hukum Gerakan Kampanye Keselamatan Berlalu-lintas.
“Saya mengajak bersama – sama meningkatkan keselamatan demi penyelamatan generasi muda sebagai penerus bangsa yan berkualitas. Jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas,” tutup Hartono. [rif]

Tags: