Dinas Sosial Provinsi Jatim Lepas 12 Bayi Terlantar untuk Diadopsi

Sekretaris Dinsos Jatim, Unggul Hadikusumo saat menyerahkan bayi kepada COTA. [achmad suprayogi/bhirawa]

Sidoarjo, Bhirawa
Dinas Sosial Propinsi Jatim kembali melepas bayi terlantar atau CAA (Calon Anak Angkat) yang telah dirawatnya kepada COTA (Calon Orang Tua Asuh). Proses pelepasan ke XXI tahun 2019 ini, dilakukan Sekretaris Dinsos Jatim, Unggul Hadikusumo SH MSi, didampingi Kepala UPT PPSAB (Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Balita) Sidoarjo, Dra Dwi Antini Sunarsih MSi, Kamis (27/6) kemarin.
Unggul Hadikusumo menjelaskan, proses penyerahan/adopsi bayi terlantar ini sudah berjalan sekitar sembilan tahun. Dalam perjalannya, orangtua yang telah mengadopsi tak ada keluhan. Artinya mereka secara ekonomi terus meningkat, kondisi keluarganya juga tidak bermasalah, malah semakin sejahtera. Karena yang mereka rawat ini anak-anak yang spesial.
Maka Unggul menitipkan dan berpesan kepada COTA agar terus merawat anak-anak ini dengan baik, mulai kesehatannya, pendidikannya maupun kesejahteraannya. Jangan sampai bayi ini terlantar untuk kedua kalinya. Makanya, proses usai penyerahan ini akan dipantau selama senam bulan. Jika tak ada masalah, para COTA baru bisa mendapat legalitas yang sah.
Kepala UPT PPSAB Sidoarjo, Dwi Antini Sunarsih menjelas, ada 12 bayi yang diserahkan. Diantaranya adalah Mutira Avika kelahiran Surabaya 2012, Siti Miladsari 18 Maret 2015 Surabaya, A Afif Fathan 13 Pebruari 2017 Batu, Kenzo Liandra Romadhan 8 Juni 2017 Sumenep, Melia 19 Nopember 2017 Malang, Asalina Safa Malaika 23 Nopember 2017, Rangga Rahmat Ramadhan 5 Mei 2018 Pasuruan, Annila Aisyah 28 Juli 2018 Bojonegoro, Oktavia 22 Oktober 2018 Surabya, Zian Johansyah 22 Oktober 2018 Pasuruan, Rachmadiansyah 26 Oktober 2018 Lumajang dan Almira Zalfa Tsabitah 15 Maret 2019 Malang. ”Mulai tahun 2010 sampai sekarang sudah 300 anak yang diserahkan,’ katanya.
Salah satu COTA asal Sidoarjo, Farida Wulansari, sudah sekitar 15 tahun menikah tetapi belum dikarunia keturunan. Berbagai upaya semua sudah dilakukan. Mungkin sudah banyak teman-teman ini yang putus asa. Karena kami sudah melakukan pijat, obat herbal mulai Arab, Cina bahkan herbal Madura. Juga tes hormon hingga program bayi tabung.
”Rasanya tulang belakang ini sampai sakit, perut ini banyak jahitan sampai diobras. Biaya, waktu, tenaga sudah kami curahkan. Bahkan divonis sama dokter, maaf ibu tidak bisa hamil, ucapan itu seperti kiamat,” ungkapnya.
Makanya setelah kami dikabari dapat restu untuk mengadopsi, langsung tidak dapat tidur. Karena kami telah lama mendambakan senyuman dan tawaan hingga tangisan si kecil. Sehingga kami bisa menjadi keluarga yang utuh, ada orangtua bapak/ibu dan anak. ”Kerja ngoyo pagi sore malam untuk apa. Termasuk nanti siapa yang akan membacakan doa kita nanti. Jadi kami ditemukan anak yang sangat spesial,” katanya. [ach]

Tags: