Dikritik Nasdem, Ketua PCNU: Gaya Risma seperti Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Abbasyiyah

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya Dr KH Muhibbin Zuhri

Surabaya, Bhirawa
Kritikan pedas politisi Partai Nasdem Imam Syafii kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Beppeko) Surabaya Eri Cahyadi terus dipertanyakan oleh publik dan tokoh masyarakat. Kali ini oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya Dr KH Muhibbin Zuhri.
Menurut dia, gaya kepemimpinan Risma dan anak buahnya seperti Eri Cahyadi yang terjun langsung ke bawah menyapa masyarakat dan dekat dengan rakyatnya, telah dilakukan para pemimpin Islam sejak dulu. Sebab dengan cara itu, para pemimpin bisa mengetahui kondisi langsung rakyatnya dan bisa memberikan solusi tepat sasaran.
“Selain Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), pemerintahan Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Abbasyiyah juga dikenal sangat pro rakyat. Beliau seorang yang wara’, adil, bersahaja dan sangat dekat dengan rakyatnya,” ujar Muhibbin Zuhri, dikonfirmasi, Senin (4/11).
Dia mengatakan, masyarakat justru berharap pejabat publik tidak hanya bekerja di belakang meja. Tetapi sering turun ke bawah menyapa warga dan melihat langsung dari dekat realitas sosial, mendengarkan masukan dan keinginan warga secara langsung dan meniadakan jarak psikologis antara pemimpin dan warganya.
“Hal itu sangat diperlukan sebagai bahan penyusunan program agar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan. Disamping itu, di dalam pelaksanaan program perlu monitoring dan evaluasi secara langsung on the spot. Hal ini tentu tidak mengesampingkan pendekatan atau cara formal lainnya,” ungkapnya.
Tak hanya Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya Dr KH Muhibbin Zuhri, tudingan tidak tepat politisi Partai Nasdem kepada Risma dan Eri juga sebelumnya dilontarkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK). Salah satunya dari Ketua LPMK Kedung Baruk, Abdul Munif yang menilai tudingan politisi Nasdem tersebut sangat bermuatan politis.
Menurut dia, Imam Syafii menyudutkan Risma dan pejabat Pemerintah Kota Surabaya, karena momentum mendekati Pilkada 2020. “Tudingan politisi Nasdem itu karena ada kepentingan politik di baliknya. Namanya pejabat memang harus dekat rakyat, ada sinergi antara pejabat dan masyarakat,” ucapnya. [iib]

Tags: