Dari Gemar Membaca, Terbitlah Berbagai Karya

Oleh :
Dewi Rieka
Pekerjaan: Penulis Buku dan Blogger www.dewirieka.com

Aku meraih sebuah buku di rak toko buku.
Sebuah buku seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) dengan sampul ilustrasi menarik, penuh warna. Judulnya Langkah Meraih Mimpi, ditulis oleh Fayanna A dari Depok.
Tahukah anda, penulis buku tersebut baru berusia 14 tahun dan sudah menerbitkan 40an judul buku! Ya, Juiceme: Tersandung Hobiku adalah buku pertama Fayanna yang terbit saat berusia 8 tahun.
Menurut Martono ayahnya, tak ada cara istimewa saat mendidik Fayanna. Namun, ia dan istrinya konsisten membacakan buku untuk putri mereka setiap hari sejak usia satu tahun! Setiap hari. Wow.
Gerakan literasi semakin gencar digaungkan di Indonesia. Pemerintah juga memberi dukungan dengan dicanangkannya Gerakan Literasi Nasional sejak tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa gemar membaca sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa.
Walhasil, Berbagai kegiatan literasi ramai dilakukan di sekolah dan di lingkungan masyarakat. Tapi, tahukah anda kalau idealnya kecintaan pada literasi sebaiknya diawali dari rumah?
Seperti kebiasaan baik lainnya, budaya literasi pun sebaiknya dikenalkan sejak dini di lingkungan keluarga masing-masing.
Sebenarnya sih, apa pengertian literasi?
Pengertian Literasi menurut KBBI adalah kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu.
Literasi adalah kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Biasanya dikaitkan dengan kecakapan membaca, menulis, hingga kecakapan menganalisa suatu hal.
Jadi, melek literasi tak hanya berhubungan dengan gemar membaca saja. Tapi berhubungan dengan kecakapan mengolah informasi yang kita dapatkan dari berbagai sumber. Apakah informasi yang kita dapatkan ini dapat menjadi nilai tambah untuk kita?
Dengan melek literasi, dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kualitas diri dan taraf hidupnya. Dengan membaca, membuka pintu segala peluang yang ada. Tak ada yang tak mungkin bagi pembelajar.
Bagaimana mewujudkan budaya literasi di keluarga? Banyak cara yang bisa dilakukan orangtua. Salah satunya dengan kebiasaan memberikan hadiah buku cerita pada anak-anak disaat istimewa.
Alih-alih melulu memberikan hadiah mainan atau kue dan camilan saat anak berulangtahun, kita bisa mengajak anak ke toko buku dan membiarkan ia memilih buku kesukaannya.
Saat anak masih bayi dan balita, bisa kita biasakan membaca buku bersama, read aloud sehingga kecintaannya akan buku makin bertambah. Biarkan anak balita menikmati gambar-gambar berwarna-warni buku yang kita belikan untuknya.
Mengajak anak-anak piknik ke toko buku dan perpustakaan juga bisa menjadi acara yang seru untuk anak-anak. Ajak anak meminjam buku di perpustakaan daerah dan biarkan ia memilih buku sesuai keinginannya. Kegiatan murah tapi meriah.
Hebatnya, Kesukaan membaca biasanya diikuti oleh keinginan untuk menuliskan karya. Begitu banyak penulis produktif hadir berawal dari kebiasaan membaca yang rakus.
Hal ini dialami oleh Mutiara Sya’bani, seorang siswi SD kelas 6 dari Depok. Kesukaannya membaca berawal karena orangtuanya berlangganan Majalah Bobo. Tak hanya itu, Muti juga sering dibelikan dan dibacakan buku cerita sejak usia dini.
Dari kebiasaan membaca, suatu hari Muti berkata ingin mempunya buku karyanya sendiri. Dan tanpa sepengetahuan ibunya, ia telah menulis banyak cerita di buku catatannya. Ibunya kaget ketika menemukan banyak cerita karya Muti dan membacanya.
Setelah meyakini semua adalah hasil karya Muti, ibu mengetik cerita-cerita Muti dan mengirimkannya ke penerbit Mizan di Bandung. Sebelas cerpen ini berhasil terbit dan menjadi buku solo pertamanya pada tahun 2017.
Hingga kini, Muti telah menelurkan empat buku solo. Muti tidak sendiri. Ratusan penulis cilik yang menerbitkan buku mereka lewat Penerbit Mizan dan Tiga Serangkai, rata-rata berawal dari hobi membaca yang rakus.
Ada pula kisah tak kalah seru dari Nadia Shafiana Rahma (15), penulis yang beranjak remaja berasal dari Jogja ini merebut perhatian pengunjung Frankfurt Internasional Book Fair 2015 di Jerman.
Di usia sekolah dasar, ia juga sudah menerbitkan buku dan sering memenangkan ajang lomba menulis. Ia diundang Pemerintah RI untuk hadir sebagai peserta di pameran buku internasional tersebut.
Hal ini tak lepas dari kebiasaan sederhana Nadia dan Ayahnya yang setiap malam, harus didongengi dulu sebelum tidur. Kebiasaan ini ternyata menggelitik imajinasi Nadia dan membuatnya tertarik untuk menuliskan kisahnya sendiri.
Kebiasaan membaca yang ditularkan Ayah sejak dini juga dialami Albert Ghana, seorang travel blogger muda berprestasi. Intip saja blognya www.albertna.com.
Jika mengintip tulisan Ghana di blog, maka akan langsung mengetahui keistimewaannya. Narasinya begitu runtut bercerita tentang sebuah kota yang dikunjunginya. Seolah pembaca merasakan suasana daerah yang ia ceritakan. Seolah kita sedang berada di sana bersama Ghana.
Menurut Ghana, kesukaannya membaca ditularkan ayahnya yang guru Bahasa Indonesia. Di rumah banyak buku novel sastra bahan ajar ayah yang suka Ghana kulik.
“Saya ingat novel pertama saya adalah Pada Sebuah Kapal, karangan N.H. Dini, yang saya baca karena ada kata-kata “kapal”, saya suka sekali dengan kapal laut waktu kecil, SD kelas 4 kalau tidak salah.”
Berkat Ayah, Ghana jadi terbiasa membaca, dan telah terpapar dunia sastra sejak kecil. Ia mulai rutin menulis sejak tamat SMA dan masuk jurusan kuliah idamannya yaitu Komunikasi.
Hal yang sama juga dialami Astari Ratnadya Sumardiono. Gadis Minang kelahiran Palembang ini adalah travel blogger berprestasi.
Walau masih belia, ia memiliki seabrek prestasi di bidang menulis dan blog yang bikin iri, diantaranya memenangkan juara 1 lomba menulis Asia Wisata dan Petualang Gizi Bali tahun 2015.
Tak hanya itu, Tari kerap diundang oleh kementerian atau perusahaan terkemuka untuk traveling dan menuliskan pengalamannya di blog. Diantaranya diundang ke Bali oleh perusahaan gawai ternama, mengikuti Ekspedisi Nusantara Jaya ke Indonesia Timur, mengikuti Jelajah Pesona Bali bersama Kemenpar, dan banyak lagi.
Tahun 2017 ia diundang di acara Social Influencers Festival 2017 di Malaysia. Gadis manis ini begitu menikmati aktivitasnya. Pertama kali diajak travelling ala roadtrip oleh ayahnya saat berumur 5 tahun, saat pulang kampung ke Bukittinggi. Tari mulai suka sekali travelling saat duduk dikelas 3 SD.
Ia selalu menantikan momen roadtrip dengan excited bersama tiga saudara serta Ayah dan Ibunya. Apalagi Ayah Tari, dulu mewajibkan anak-anaknya untuk menulis cerita sepulang dari jalan-jalan.
Profesi travel blogger tak sengaja digeluti setelah ia memenangkan lomba menulis dengan hadiah perjalanan ke Flores. Melihat blog pemenang lain, Astari tertarik bikin blog juga. Sejak saat itu, dimulailah petualangan seru Astari.
Kebiasaan kecil dan sederhana Fayanna, Muti, Nadia, Astari, dan Ghana bersama orangtuanya ternyata mengantarkan mereka menjadi penulis berprestasi.
Jadi, mari Ayah dan Bunda mengajak anak, mengakrabkan anak dengan kegiatan membaca dan menulis sejak dini. Biarkan anak merasakan kegembiraan membaca buku sehingga kelak tergerak untuk menuliskan kisahnya sendiri.

———- *** ———–

Tags: