Dampak Banjir, Puso Tak Sampai 1 Persen

foto ilustrasi

Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemprov Jatim melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jatim melakukan langkah pemulihan terhadap daerah terdampak bencana banjir yang memiliki besaran area lahan pertanian tanaman padi yang gagal panen atau puso.
Dari data yang disampaikan DPKP Jatim, untuk lahan pertanian khusus tanaman padi yang terkena dampak bencana banjir seluas 4.777,44 hektar are (ha) dan mengalami puso sebesar 11,25 ha. Di Jatim, total lahan tanaman padi seluas 1.128.285 ha.
Daerah yang memiliki lahan pertanian tanaman padi terdampak bencana banjir, yaitu Gresik, Tuban, Bojonegoro, Lamongan. Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Nganjuk, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek.
“Untuk puso 11,25 ha diketahui di wilayah Trenggalek, dari besaran lahan pertanian tanaman padi seluas 150 ha. Dari besaran luas lahan tanaman padi di Jatim, puso hanya tidak sampai 1 persen,” kata Kepala DPKP Jatim, Hadi Sulistyo ketika dikonfirmasi Bhirawa, Minggu (10/3).
Dalam kesempatan ini, Hadi menyampaikan, besaran puso 11,25 ha tidak mengganggu produksi tanaman padi di Jatim. Diperkirakan, tanaman padi di Jatim masih mengalami surplus. “Puso masih kecil, paling tidak 0,36 persen dari total luasan lahan di Jatim. Untuk produksi padi tidak terpengaruh dan surplus,” katanya.
Selain itu, ketersediaan beras di Jatim pada periode Januari sampai April 2019 mengalami surplus hingga 2 juta ton. Potensi ketersediaan beras periode Januari-April 2019 di Jatim diprakirakan mencapai 3.215.545 ton
Adanya bencana tersebut, DPKP Jatim menyiapkan beberapa langkah, diantaranya menyiapkan pompa air agar genangan air yang ada di lahan pertanian segera surut dan menyelamatkan tanaman padi yang masih bisa dipanen.
“Di masing-masing daerah dan digapoktan (gabungan kelompok petani) terdekat sudah ada al sintan (depo alat pertanian yang bisa dipinjam petani yang membutuhkan),” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga akan menyiapkan subsidi benih padi untuk musim tanam ke depannya. “Ini sementara dari pusat dari APBN, karena Jatim cadangannya sudah habis nanti kita ajukan di PAPBD ini,” katanya.
Sementara rancangan konsumsi beras di Jatim untuk periode Januari sampai April 2019 hanya sebesar 1.188.971 ton, sehingga masih surplus lebih kurang 2 juta ton.
Kemudian, DPKP Jatim juga mengirimkan surat pada daerah agar mengusulkan mendapatkan bantuan benih untuk bisa segera menanam kembali. “Kami sudah melayangkan surat resmi bagi daerah terkena banjir agar mengusulkan ke DPKP Jatim. Tidak mengusulkan berarti kondisinya sudah teratasi daerah setempat,’ katanya.
Hadi juga mengatakan, adanya kejadian musibah bencana banjir tersebut maka menjadi dorongan tersendiri bagi petani untuk turut dalam asuransi usaha tani padi (AUTP). “Memang saat ini masih 50 persen petani yang ikut AUTP, tetapi nampaknya petani juga masih kurang minat pada asuransi padahal murah,” katanya.
Untuk mengikuti AUTP, petani hanya membayar Rp 36 ribu dan mendapatkan subsidi dari pemerintah sebesar Rp 144 ribu. Jadi, total membayar Rp 180 ribu. “Jika kena musibah dengan kerusakan 70 persen maka tinggal di ganti melalui asuransi Jasindo per hektarnya Rp 6 juta,” katanya. [rac]

Tags: