Ciptakan Alat Uji Larutan Otomatis

Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) Yuliadi Kurniawan ciptakan alat bantu farmasi untuk uji kelarutan obat secara otomatis di kampus Ubaya surabaya 7-11 Siang. [oki abdul sholeh]

Surabaya, Bhirawa
Pengujian kelarutan obat jadi faktor penting untuk mengetahui standart mutu obat yang beredar di masyarakat sesuai Farmakope Indonesia. Sehingga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan alat bantu farmasis untuk uji kelarutan obat secara otomatis. Sebuah alat yang membantu BPOM maupun laboratorium Farmasi dalam menguji standar mutu produksi obat berbentuk tablet.
“Ide awal pembuatan alat ini berawal ketika saya bekerja di BPOM Surabaya. Saya melihat farmasis masih menggunakan cara manual untuk pengambilan sampel larutan obat kemudian saya coba membuat alat uji kelarutan yang dapat digunakan secara otomatis,” ucap Yuliadi Kurniawan.
Cara kerjanya dirancang secara otomatis menggunakan database yang telah diprogram pada laptop atau computer, sehingga mempermudah Farmasis dalam pengambilan sampel larutan obat. Setiap obat yang diuji memiliki syarat yang berbeda berdasarkan suhu, waktu, dan kecepatan pengadukan yang telah ditetapkan Farmakope Indonesia.
“Jadi farmasis dapat mengambil satu obat tablet yang akan diuji. Kemudian memasukkan obat tablet ke dalam tabung yang berisi larutan untuk proses pengadukan sesuai yang telah ditentukan. Seperti contoh nya larutan Aquades atau HCl 0.1 N. Setelah itu, Farmasis dapat mengisi database dengan identitas user (pengguna), nama obat, tanggal praktikum, suhu, waktu dan kecepatan,” ujarnya.
Setelah datanya terisi, lanjut dia, maka Farmasis dapat menekan tombol mulai pada layar monitor untuk memulai proses uji kelarutan obat. Nantinya ada alarm yang berbunyi sebagai pengingat, jika uji kelarutan telah selesai sesuai waktu pengadukan yang telah ditentukan. Sampel larutan obat yang sudah mengalami proses pengadukan secara otomatis akan diambil sebanyak 50 ML, dan masuk pada gelas ukur yang akan diuji kembali untuk mengetahui kadar larutan obat.
“Keunggulannya ada pada pengambilan sampel secara otomatis sehingga Farmasis tidak melakukannya secara manual menggunakan suntik. Farmasis dipermudah dengan adanya tombol up dan down yang berfungsi menaikkan dan menurunkan box control untuk mengganti larutan atau memasukkan obat. Setiap kali melakukan praktikum maka data obat akan otomatis disimpan pada database, sehingga mereka tidak perlu membuka buku lagi tetapi cukup mencari dari database saja,” jelas Yuliadi.
Lebih lanjut, ada tujuh tahap dalam pengujian alat agar dapat digunakan dengan baik oleh Farmasis atau user (pengguna). Yaitu uji suhu, uji Graphical User Interface (GUI), uji putaran, uji volume, uji hasil kadar larutan obat, uji user, dan uji database.
“Selama proses pembuatan alat kendalanya ada di bagian utama alat, mekanik putaran dan pemanas yang berperan penting sebagai pengaduk obat,” kata mahasiswa asal Sidoarjo ini.
Sementara itu, Dosen Program Studi Teknik Elektro Ubaya, Susilo Wibowo menuturkan perancangan alat uji otomatis ini diharapkan dapat membantu BPOM atau praktikum laboratorium Farmasi dalam menguji standar mutu obat.
“Sebetulnya alat uji disolusi sudah ada di pasaran, namun banyak yang membeli dari luar dan harganya sangat mahal. Kemudian mahasiswa kami mempunyai ide dan merancang alat uji kelarutan obat, yang dapat difungsikan secara otomatis dan dijual dengan harga yang terjangkau. Alat ini juga sudah diuji di BPOM sehingga sudah teruji standarnya. Saya berharap nantinya alat ini bisa terus dikembangkan agar bisa bermanfaat dan juga berkontribusi di bidang Farmasi atau pengobatan bagi masyarakat,” pungkas Susilo Wibowo, dosen pengampu mata kuliah Design System Digital. [ina]

Rate this article!
Tags: