Cerita Sukses Nikmatil Hasanah, Guru Berprestasi Asal Situbondo

Nikmatil Hasanah SPd, guru mata pelajaran kimia SMAN 2 Situbondo saat bersama Prof Greg Shawn, Dekan Charles Darwin University, belum lama ini. [sawawi]

Kuasai Ilmu Kimia, Masuk 40 Guru se-Indonesia Berguru ke Australia
Situbondo, Bhirawa
Tidak banyak guru berprestasi tingkat SMA/SMK di Tanah Air yang memiliki kesempatan untuk menimba ilmu di Australia dengan biaya dari negara. Salah satu diantaranya dialami Nikmatil Hasanah SPd, guru mata pelajaran (mapel) ilmu kimia di SMAN 2 Situbondo ini berhasil lolos menimba ilmu meski hanya dengan waktu singkat di Australia. Wanita yang kini menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Sarana Prasarana di SMADA (SMA 2 Situbondo) itu, masuk catatan 40 guru SMA/SMK se-Indonesia yang berhasil lolos menimba ilmu singkat (short course) di Charles Darwin University. Seperti apa ceritanya ?
Nikmatil Hasanah mengetahui ada program dari pemerintah yang mengadakan pengiriman 1000 guru untuk menimba ilmu atau pendidikan dan latihan (diklat) keluar negeri. Melalui lembaga PPPPTK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) IPA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nikma-panggilan akrabnya, yang notabene guru mata pelajaran IPA (kimia) mengikuti seleksi. Dari ribuan calon peserta, ia akhirnya dinyatakan lulus sebagai 40 peserta IPA dari total 1000 guru semua mata pelajaran se-Indonesia.
“Ya jumlahnya semua 1000 guru yang berprestasi. Ini sangat surprise karena merupakan angkatan yang pertama,” aku Nikma.
Wanita yang biasa memakai kacamata dan hijab itu menambahkan, dari seleksi itu sebenarnya Kemendikbud sudah punya daftar nama-nama guru yang berprestasi untuk dites wawancara dengan mamakai Bahasa Inggris.
Setelah dinyatakan lulus para guru selanjutnya baru dikirim ke Negara Australia untuk program digital learning dan dikirim ke Jepang bagi guru yang memilih program IBL dan STEM.
“Tiap mata pelajaran itu dipilih 40 orang. Misalnya untuk guru mapel IPS 40 orang dan guru mapel IPA 40 orang. Termasuk saya saya dikirim ke Australia karena memilih program digital learning. Yang milih IBL (inuiry based learning) dan STEM (science technology enginering mathetamtic) dikirim ke Jepang,” terangnya.
Sejak awal ia sengaja memilih program digital learning karena murni bertujuan untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki dan menggunakan ilmu tehnologi yang diperoleh untuk sistem pembelajaran di SMAN 2 Situbondo.
Misalnya saja, urai Nikma, ilmu tentang industri 4.0 yang sudah memakai serba online, harus ia pelajari agar bisa ditularkan kepada siswa dan sesama tenaga pengajar di sekolah. Apalagi, sebutnya, saat ini keberadaan tehnologi sudah tidak bisa dipisahkan dengan dunia pendidikan dan para pelajar.
“Dengan capaian ilmu dari Australia ini, saya juga ingin mengembangkan kemampuan untuk mengusai alat alat tehnologi itu dalam proses pembelajaran kepada siswa. Misalnya seperti pembelajaran dengan memakai online,” kupas mantan Wakasek Kurikulum itu.
Masih menurut Nikma, saat mengikuti diklat ia juga dikenalkan perihal fungsi dan kegunaan Droun. Ternyata, kata Nikma, alat cangggih itu tidak hanya berfungsi utk shoting video semata, melainkan juga bisa untuk alat pembelajaran di sekolah.
Diantaranya sebut Nikma, alat itu bisa untuk dijadikan alat melihat vegetasi serta bermanfaat untuk alat pembelajaran dan sumber belajar bagi siswa. “Sehingga dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dikelas tidak monoton hanya mengandalkan alat pembelajaran yang lama. Kami juga tidak setuju siswa dilarang memakai HP. Sebab memakai HP kini memiliki banyak fungsi positif bagi siswa,” urai Nikma.
Dipaparkan juga soal keberadaan HP agar bisa bermanfaat dengan baik dan bukan sebaliknya hanya memiliki sisi negatif. Pasalnya, dimatanya, HP bisa dijadikan alat bantu dalam proses belajar mengajar serta alat untuk mengerjakan tugas berupa soal soal.
“Kedepan kami konsisten untuk merubah maindset lama agar siswa menjadi terampil pada abad ke-21 ini. Caranya kita bisa berkolaborasi dan mengajak siswa berpikir kreatif serta kritis,” jelas Nikma.
Ia menambahkan, biasanya setelah mengikuti UNBK siswa siswi selalu mengeluh soal soal ujian yang notabene sulit. Ini karena pemerintah sengaja membuat soal soal yang tingkat kesulitannya sangat tinggi (HOTS).
Nah dari sanalah, tegas Nikma, seharusnya sejak dari awal siswa harus diberi sistem pembelajaran dengan melatih anak berfikir dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi. “Kita sebagai guru seharusnya sudah mampu untuk merancang pemikiran siswa bisa menjadi seperti itu,” papar Nikma.
Dari tindak lanjut Diklat tersebut, papar Nikma, kedepan ia berharap agar siswa bisa menerapkan ilmu seperti yang diperoleh dari Australia serta bisa tersebar kepada sesama pendidik dan menyebarkan dalam wadah MGMP IPA.
Bahkan, ilmu dari Australia bisa difasilitasi untuk di inseminasikan kepada pihak lain, misalnya dalam pembuatan iklan. “Intinya kami ingin menyampaikan apa yang didapatkan selama menimba ilmu di Australia bisa tersebar luas ke berbagai komponen. Jangan sampai ilmu yang saya dapat itu hanya dinikmati sendiri melainkan juga harus disebarluaskan kepada guru guru yang lain,” terang Nikma.
Khusus perwakilan guru Situbondo yang berhasil dinyatakan lolos dalam program ini, sambungnya, hanya diikuti tiga guru yakni Nikmatil Hasanah sendiri bersama guru SMK Negeri 1 Suboh dan guru SMK Negeri 1 Situbondo.
Selama mengikuti diklat di Australia ia sukses mengikuti tiga tahapan. Diantaranya, sukses dalam pembekalan selama 5 hari dan sukses pelaksanaan diklat di Chrales Darwin University.
“Terakhir kami selama mengikuti diklat 22 hari, masih diberi waktu lagi oleh P4TK Kemendikbud RI selama 5 hari untuk menyusun laporan dan rencana tindak lanjut dari hasil diklat tersebut,” pungkas Nikma seraya mengakui ia juga sempat bertatap muka dengan perwakilan Konsulat RI di Darwin Bidang Sosial Budaya Muhammad Hanif.
Disisi lain, Kepala Sekolah (Kasek SMAN 2 Situbondo, Drs Suyono MM, menimpali, sukses dan berhasilnya Nikmatil Hasanah tembus belajar singkat ke Australia cukup beralasan karena sebelumnya memiliki nilai UKG (Uji Kompetensi Guru) 100 dan ditunjuk P4TK Kemendikbud RI sebagai instruktur mapel kimia di Kabupaten Situbondo.
“Dia (Nikmatil Hasanah, red) juga pernah menyandang status prestasi yang prestisius di Kota Santri. Dia dinyatakan sebagai guru SMA berprestasi Kabupaten Situbondo tahun 2018,” tutur Suyono. [sawawi]

Tags: