Cabuli Murid, Polda Jatim Tangkap Pembina Pramuka di Surabaya

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera (kanan) menunjukkan RSS, pelaku pencabulan terhadap 15 murid didiknya, Selasa (23,7). [abednego/bhirawa]

Polda Jatim, Bhirawa
Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim menangkap seorang pembina Pramuka di Surabaya. Penangkapan RSS (30) selaku pembina di lima SMP dan satu SD di Surabaya ini atas laporan dugaan pencabulan yang dilakukannya tyerhadap 15 anak didiknya.
Korban RSS ini berjumlah 15 anak yang berasal dari enam sekolah tersebut. Anehnya, anak-anak yang menjadi korban perbuatan bejat RSS keseluruhannya merupakan siswa laki-laki. Mereka antara lain, AM (14), BRK (15), IM (15), TRA (14), A (14), Z (14), AS (14), MA (14), ASB (14), A (14), C (15), D (15), F (15) dan S (16).
“Kami (Polda Jatim) menerima laporan terkait dugaan kasus pencabulan. Setelah dikembangkan oleh Ditreskrimum, akhirnya anggota mendapati 15 korban sementara,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Selasa (23/7).
Barung menjelaskan, usai ditangkap tersangka memberikan keterangan kepada Polisi kalau telah menjadi pembina pramuka sejak 2015.
Barung menyebutkan, sesuai keterangan tersangka, siswa yang dibinanya sudah mencapai ratusan. Sedangkan terkait kasus pencabulan bermula dari pengakuan tiga siswa.
“15 anak ini baru yang terungkap dan penyelidikan yang di laporkan. Bukan hanya tiga orang, awalnya tiga yang melapor kemudian 12 yang terungkap,” jelasnya.
Sementara itu, Kasubdit IV Tipid Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Festo Ari Permana menambahkan, pihaknya masih akan mendalami motif kasus ini.
“Kami dalami lagi motif dari tersangka (RSS, red). Apakah memang ada penyimpangan seksual atau yang lainnya,” tambah Festo.
Dari pengakuan tersangka, lanjut Festo, sebagian besar perbuatan tersangka dilakukan di rumahnya sendiri di Jl Kupang Segunting Kecamatan Tegalsari, Surabaya.
Perbuatan tersebut dilakukan RSS sejak empat tahun yang lalu. Awalnya, tersangka memanggil ketua regu untuk ke rumahnya. Saat sudah di rumah, ketua regu tersebut dicabuli tersangka.
“Mereka (korban) sebelum dicabuli tersangka, diiming-imingi regunya akan menjadi Pramuka yang elit,” ucapnya. Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 80 dan atau Pasal 82 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang perubahan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
“Kami masih akan terus kembangkan kasus ini. Bisa jadi ada korban-korban lainnya,” pungkas Festo. [bed]

Tags: