Bupati Jombang Imbau Turunkan Angka Kekerasan Perempuan

Bupati Jombang, Hj Mundjidah Wahab saat acara launcing kesekretariatan Bersama antara PUSPA, PUSYANGARTA, Insan Genre, dan FAJ, Rabu (20-02)

Jombang, Bhirawa
Bupati Jombang, Hj Mundjidah Wahab berharap, angka kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Jombang dapat diturunkan . Salah satunya lewat peran Kesekretariatan bersama antara sejumlah pihak pemerhati masalah peremnpuan.
Sekretariat bersama ini dilakukan oleh Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA), Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PUSYANGARTA), Insan Genre, dan Forum Anak Jombang (FAJ).
Kesekretariatan bersama yang terletak di Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 45 Jombang ini di launching oleh Bupati Jombang pada Rabu (20/02).
Bupati menyebutkan, keberadaan Kesekretariatan ini bertujuan salah satunya untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak di Kabupaten Jombang. Terkait adanya data dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Jombang yang menyebutkan, terjadi peningkatan angka kekerasan terhadap perempuan di Jombang pada tahun 2018 dibanding dengan tahun sebelumnya, Bupati berharap terhadap peran kesekretariatan bersama ini.
“Dengan kesekretariatan bersama ini, sehingga bisa menurunkan (angka kekerasan perempuan), sehingga penangan aduan-aduan dari masyarakat tentang rumah tangga, tentang keluarga dan anak, masyarakat mudah melaporkan dan tempat sudah ada di sini,” terang Bupati Jombang diwawancarai sejumlah wartawan usai acara.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada akhir tahun 2018 kemarin, Women Crisis Centre (WCC) Jombang merilis, angka kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Jombang mencapai 80 kasus pada tahun tersebut. Direktur WCC Jombang, Palupi Pusporini menyebutkan, telah terjadi peningkatan dibandingkan pada tahun 2017.
“Selama satu tahun terakhir ini, dari pantauan data kasus yang dihimpun oleh WCC, tercatat ada 80 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi. Ini ada peningkatan sekitar 20-an kasus dari tahun 2017,” ujar Palupi Pusporini, kamis (27/12/2018) yang lalu.
Dengan naiknya angka kekerasan terhadap perempuan tersebut menjadikan sebuah keprihatinan bagi WCC Jombang dan masyarakat sipil lainnya ketika angka kekerasan terhadap perempuan yang tinggi tiap tahunnya. Ditanya lebih lanjut apa faktor terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan di Jombang, Palupi menjelaskan, hal itu dipengaruhi adanya faktor relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.
“Di mana adanya budaya patriarkis salah satunya di mana laki-laki masih menganggap perempuan makhluk nomor sekian, sehingga mudah diintimidasi, mudah dipengaruhi, dan ini terbukti dari kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak, terutama anak remaja SMP hingga SMU, di mana salah satu modus yang terjadi adanya ancaman pelaku kepada korban, karena usia korban lebih muda dari pelaku,” terang Palupi saat itu.(rif)

Tags: