BPOM-ITS Sepakat Tingkatkan Pengawasan Obat dan Makanan

Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Drs Kuncoro Foe (kiri) dan Wakil Rektor IV ITS Prof Ketut Buda Artana (kanan) turut menyaksikan penandatanganan MoU.

Surabaya, Bhirawa
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kerja sama peningkatan pengawasan peredaran obat dan makanan ini diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Rektor ITS, Prof Joni Hermana dengan Kepala BPOM RI Ir Penny Kusumastuti Lukito MCP di Rektorat ITS, Jumat (19/1) lalu.
Dalam pers rilis yang diterima Bhirawa, Sabtu, Penny mengatakan kerja sama ini dilakukan untuk memperkuat penanganan permasalahan dan tantangan yang dihadapi BPOM dalam pengawasan mutu obat dan pangan masyarakat Indonesia.
“BPOM terus menjalin kemitraan dengan berbagai instansi masyarakat, salah satunya adalah perguruan tinggi yang menjadi pusat pengetahuan dan pengembangan teknologi,” kata Penny.
Dalam kerja sama ini, nantinya riset-riset yang dikembangkan oleh ITS digunakan untuk membantu BPOM dalam melaksanakan kinerjanya. Salah satunya di ITS terdapat Pusat Kajian Halal yang menjadi daya tarik BPOM. Selain itu, ITS juga sedang mengembangkan kapal yang siap membantu BPOM dalam menjalankan tugasnya di seluruh wilayah Indonesia.
“Kapal yang dikembangkan oleh ITS ini nantinya digunakan membantu dalam mengawasi pengiriman obat dan makanan di daerah perbatasan BPOM, untuk mengantisipasi adanya barang yang illegal atau tidak ada jaminan keamanannya bagi masyarakat,” katanya.
Rektor ITS, Prof Joni Hermana menyambut baik kerja sama tersebut. Apalagi hal ini juga sangat erat kaitannya dengan adanya Pusat Kajian Halal di ITS. Ia memaparkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk yang sebagian besar beragama Islam, status kehalalan makanan masih belum jelas. Hal ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan negara yang justru mayoritas penduduknya non-muslim seperti Australia dan Singapura.
“Selain itu, jika dibandingkan dengan Turki, harga obat di Indonesia ini bisa tiga kali lipat lebih mahal dikarenakan terlalu banyak agen yang dilewati sebelum jatuh ke tangan konsumen terakhir,” kata Guru Besar Teknik Lingkungan ITS ini.
Selain dengan ITS, pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara BPOM dengan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang diharapkan juga menjadi langkah konkret yang baik untuk BPOM pusat maupun daerah Surabaya ke depannya. [geh]

Tags: