Boeing “Di-kandang-kan”

Maskapai penerbangan Indonesia “meng-istirahat-kan” seluruh pesawat jenis Boeing 737 Max 8, sesuai imbauan pemerintah. Jeda operasi pesawat menyusul tragedi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlanes, di Etiopia. Duabelas negara pengguna tipe 737 Max 8, menunggu penjelasan Boeing. Kecelakaan di udara (penerbangan) selalu terasa pedih, bagai tiada jaminan penyelamatan. Padahal, penumpang telah membayar sangat mahal seluruh jasa dengan kategori VVIP (very very important person).
Maka pantas (seharusnya) penumpang memperoleh layanan terbaik, termasuk jaminan keselamatan. Bahkan kawasan bandara tergolong obyek vital. Namun hampir seluruh kecelakaan penerbangan dianggap sebagai “musibah,” takdir yang tak terhindarkan. Umumnya disebabkan tiga hal. Yakni, pesawat tidak lain terbang (karena berbagai hal), human error (pilot), dan cuaca buruk. Perusahaan pembuat pesawat Boeing, biasanya menuding human eror sebagai penyebab.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, menerbitkan instruksi temporary grounded. Seluruh pesawat Boeing 737 Max 8, wajib “di-kandang-kan.” Penghentian sementara jenis pesawat tertentu, merupakan wewenang pemerintah. UU Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, pada pasal 10 ayat (1), dinyatakan, “Penerbangan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah.”
Pasal 10 yang berisi delapan klausul ayat, secara rinci memberikan mandat mutlak kepada pemerintah (melalui Kementerian Perhubungan). “Penguasaan” penerbangan oleh pemerintah meliputi perizinan operasional, pengendalian, pengawasan, sampai teknis penerbangan. Secara khusus pasal 10 ayat (6) huruf a, menuliskan frasa kata “selamat, aman,” sebagai idiom awal. Sehingga keselamatan, dan keamanan penerbangan menjadi prioritas.
Kebijakan temporary grounded terhadap pesawat Boeing 737 Max 8, merupakan realisasi kinerja pemerintah sebagai “penguasa” penerbangan. Sebanyak sepuluh pesawat milik maskapai Lion Air, dan satu pesawat milik Garuda Indonesia, wajib di-kandang-kan. Pemerintah menunggu tim audit teknis Boeing sebagai jaminan keselamatan dan keamanan penerbangan. Beberapa maskapai yang memiliki pesawat sejenis di Singapura, Uni Emirat Arab, dan Brasil, juga mencemaskan keselamatan penerbangan.
Selain Indonesia, pemerintah China juga melakukan temporary grounded yang sama. The Civil Aviation Administration of China (CAAC) menyatakan seluruh maskapai China harus meng-grounded seluruh armada Boeing 737 MAX 8, bersamaan waktu dengan Indonesia. Di RRT telah terdapat sebanyak seratus pesawat Boeing 737 Max 8. Merupakan pengguna terbesar di dunia, disusul India, dan Indonesia.
Di Indonesia masih terdapat sebelas pesawat. Konon, Lion Air masih menunggu lagi pesawat Boeing 737 Max 8, sebanyak 190 armada. Nilai kontrak pesanan tahun 2015 itu ditaksir mencapai US$ 22 milyar (sekitar Rp 310 trilyun, dengan kurs Rp 14 ribu per-US$). Namun bisa jadi pesanan akan dibatalkan. Pesanan dari Indonesia, disebut-sebut “menyelamatkan” perekonomian Amerika Serikat, melalui pajak penjualan Boeing, serta pajak penghasilan pekerja.
Pesawat Boeing 737 Max 8 milik Ethiopian Airlines, jatuh dekat kota Adis Ababa, tak lama (sekitar 6 menit) dalam perjalanan ke Nairobi. Seluruh penumpang (157 orang, termasuk kru) tidak terselamatkan. Ini kejadian kedua (hanya) selama empat bulan. Sebelumnya, pesawat sejenis milik maskapai Lion Air (Indonesia), jatuh di perairan Karawang, tak jauh dari Jakarta. Kejatuhan Ethiopian Airlines, mirip yang dialami Lion Air JT-610. Sama-sama baru take-off, dan sama-sama tipe 737 Max 8.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penyebab kecelakaan penerbangan bisa di-minimalisir. Terutama kelayakan pesawat, dan cuaca, bisa diketahui sejak sebelum take-off. Begitu pula seluruh personel penerbangan wajib dalam kondisi layak. Tak terkecuali kompetensi, dan beban kerja seluruh pegawai maskapai. Pemerintah wajib menjamin keselamatan penerbangan, sebagai obyek vital nasional.

——— 000 ———

Rate this article!
Tags: