Berusaha menjadi Manusia yang Bermanfaat

Prof Budi Jatmiko MPd

Surabaya, Bhirawa
Berkecimpung dalam dunia pendidikan selama 38 tahun, tidak membuat Prof Budi Jatmiko MPd berpuas diri pada profesinya sebagai seorang dosen. Kendati usianya tidak muda lagi yakni 59 tahun, guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini justru menargetkan mahasiswa strata satu di bawah bimbingannya lolos dalam jurnal international. Bahkan di usia senjanya, ia sangat aktif dalam menulis dinamika pendidikan yang terjadi Indonesia. Terhitung ada 18 karya yang sudah ia terbitkan di jurnal internasional.
“Ya pengabdian harus tetap dilakukan ya. Apalagi profesi saya juga menuntut untuk terus berkarya dalam tulisan. Tapi saya menyukai itu,” ungkap pria yang juga Rektor STIKOM Surabaya ini.
Karena ia menilai bermanfaat bagi oranglain tidak hanya melalui tindakan saja. Melainkan juga melalui karya tulis yang biasa dijadikan bahan rujukan untuk penelitian.
“Mentransfer ilmu ini kan bagian dari kebermanfaatan hidup. Dan tidak hanya melalui face to face saja. Melalui tulisan juga bisa,” ujarnya.
Diakui Dosen yang sudah mengajar sejak tahun 1985 ini bahwa mengajar dalam waktu yang cukup lama mungkin dianggap sebagian besar orang melelahkan dan membosankan. Bahkan ia sendiri sempat merasakan hal itu. Akan tetapi, dari itu ia mulai menyibukkan diri dengan menjadi dosen pebimbing bagi mahasiswa maupun guru besar.
“Dari situ saya nggak bosan. Saya merasa jadi bermanfaat bagi orang ketika saya mebimbing teman-teman dan mahasiswa Kepuasaan yang saya rasakan,” urainya. Sebab, sambung dia, hal itu juga selaras dengan prinsip hidup yang selama ini saya pegang. Selalu mengucap syukur dan mencukupkan diri dalam keadaan apapun. Artinya, apa yang Prof Budi lakukan baik ketika menjadi dosen maupun menjadi rektor STIKOM Surabaya, hal itu harus berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan.
“Karena hidup tidak hanya pinter saja, tapi juga harus bermanfaat bagi orang lain,” terang dia.
Terkait dengan pendidikan di Indonesia, pria kelahiran Kediri, 22 agustus 1960 mempunyai pandangan tersendiri. Itu tidak luput dari sistem pendidikan yang selalu berubah-berubah.
Menurut dia, pendidikan Indonesian mempunyai potensi yang tidak kalah dengan pendidikan di luar negeri. Terlebih, sumber daya manusia di Indonesia juga mampu bersaing dengan negara lain. Namun, hal itu belum terasah dan terperhatikan dengan baik.
“Di sini (Indonesia), selama ini pendidikan khususnya guru belum dilatib dan diajarkan untuk Higher Order Thinking Skills (HOTS), kalau di ketrampilan berpikir menurut BLUM ada 6 tingkatan. Ingatan, pemahaman, implementasi, evalusi,sintesis dan analisis,” ujar dia
Lebih lanjut, atau yang lebih kita kenal communication, colaboration, critical dan creativity (4C), sehingga ia berharap dalam dunia pendidikan nantinya ada perubahan untuk mempersiapkan anak didik yang dipersiapkan untuk memoliki keterampilan berpikir tingkat tinggi yang merupakan dasar orang berinovasi dan memecahkan masalah.
“Kalau ini tidak disiapkan generasi bangsa akan ‘gulung tikar’,” pungkas dosen Jurusan Fisika Unesa ini. [Ina]

Tags: