Berkunjung di Smamda, Siswa P12 Lorne Australia Diajak Membatik

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, Ustadz Astajab dan Ky Millar, guru pendamping P 12 College Lorne Australia melihat siswa Australia itu saat belajar membatik di Galeri Batik Smamda. [trie diana]

Surabaya, Bhirawa
SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya mendapat kunjungan balasan dari P 21 College Lorne, Victoria, Australia. Sebanyak 13 siswa didampingi dua gurunya akan tinggal selama 5 hari mulai 24 hingga 28 Juni 2019 ini di Kota Surabaya, yakni tinggal di rumah orang tua asuh atau orang tua siswa Smamda dalam rangka Program Pertukaran Pelajar.
P 12 College Lorne ini merupakan sister school Smamda dan sudah bekerja sama selama 10 tahun. Dan selama dua tahun sekali dua sekolah ini saling berkunjung, setelah tahun 2018 lalu siswa Smamda berkunjung ke Australia, sementara tahun 2019 ini ganti siswa P 12 College Lorne yang berkunjung ke Indonesia.
Menurut Kepala Smamda, Ustadz Astajab, Karah Bliss Darcy dan 12 temannya yang didampingi dua gurunya, Yakni Ky Millar, selama lima hari akan berada di Surabaya, mereka tinggal bersama orang tua asuhnya yang tidak lain para orang wali siswa Smamda. Mereka akan diajari berbagai hal terutama tentang budaya, bahasa dan tradisi serta keberagaman di Indonesia, khususnya di Kota Surabaya.
“Salah satu budaya yang diperkenalkan kepada siswa dan guru P 12 College, Lorne adalah membatik dan bela diri pencak silat asli milik Muhammadiyah yakni Pencak Silat Tapak Suci. Para siswa juga diajak berkunjung ke Masjid Al Akbar Surabaya yakni masjid terbesar di Jatim dan melihat Masjid Cheng Ho Surabaya,” ujar Ustadz Astajab.
Guru Seni Budaya, Ustadz Rachmad Setyo Wibowo, telah menyiapkan 15 kaos yang telah diberi gambar sketsa icon Kota Surabaya yakni Tugu Pahlawan dan Kanguru. Sehingga para siswa dan guru bisa membatik mengikuti gambar sketsa. Uniknya, alat untuk membatik bukan canting seperti biasanya peralatan khas untuk membatik tetapi menggunakan kuas.
Ketika ditanyakan, mengapa tidak menggunakan canting.
“Mereka (siswa Australia, red) akan kesulitan bila membatik menggunakan canting. Sebab waktunya untuk belajar membatik sangat sempit, sehingga untuk memudahkan mereka belajar membatik ya menggunakan kuas. Kecuali bila waktu untuk belajar membatik agar panjang mereka bisa belajar membatik pakai canting,” ujar Ustadz Rachmad.
Ky Millar, guru Bahasa Indonesia yang mendampingi siswanya dalam kunjungan ke Smamda mengatakan. Di Smamda ini siswanya diajak belajar membatik yang merupakan budaya asli Negara Indonesai. ”Ini pertama kalinya anak-anak diajak belajar membatik dan ini pengalaman yang luar biasa dari guru Smamda. Ini sangat istimewa karena para siswa kami bisa belajar dan menyelami kebudayaan Indonesia di Surabaya ini,” katanya.
Salah satu siswa, Karah Bliss Darcy, ketika ditanyakan kesannya saat belajar membatik, mengaku sangat kesulitan mengikuti garis sketsa yang ada. Juga sangat kesulitan membatik memakai kuas tetapi sangat menyenangkan. [fen]

Tags: