Berguru pada Kiai di Negeri Kanguru

Judul : Kiai Ujang di Negeri Kanguru
Penulis : Nadirsyah Hosen
Penerbit : Noura Books, Jakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2019
Tebal : 280 Halaman
ISBN : 9786023858040
Peresensi : Untung Wahyudi
Lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

Setiap hari, umat Muslim di belahan dunia kerap kali berhadapan dengan berbagai masalah. Tak hanya masalah yang berhubungan dengan dunia sosial, politik, seni atau budaya, tetapi juga masalah sehari-hari. Konflik yang terjadi di masyarakat sering kali berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, yang semestinya harus diselesaikan. Jangan sampai konflik yang terjadi melahirkan masalah besar yang bisa memecah belah umat Muslim.
Bagaimana menghadapi persoalan dan masalah keislaman sehari-hari inilah yang dibahas Nadirsyah Hosen, pengajar senior di Monash University, Australia, dalam buku Kiai Ujang di Negeri Kanguru. Dalam buku ini, lelaki yang akrab disapa Kiai Ujang memaparkan banyak hal tentang pelbagai masalah kehidupan sehari-hari, serta mengajak pembaca menjelajahi berbagai mazhab. Pengalaman Nadirsyah Hosen selama berada di Australia yang dipaparkan dalam bahasa yang lugas membuat pembaca belajar banyak tentang keagamaan, terutama saat berhadapan dengan aneka mazhab.
Salah satu pertanyaan menarik pernah disampaikan oleh jamaah yakni, bagaimana memilih mazhab yang cocok untuk hidup di Australia. Banyaknya pendapat dari berbagai ulama tentu membingungkan. Mana yang harus dipilih? Bukankah Allah itu satu, Nabi Muhammad satu, Jibril juga satu? Alquran juga satu. Tapi, mengapa Islam memiliki banyak mazhab?
Nadirsyah Hosen menjelaskan, mazhab makna sebenarnya adalah pendapat. Jadi, mazhab itu bukan semacam organisasi. Mazhab hanyalah kumpulan pendapat para imam. Dalam literatur ushul al-fiqh disampaikan bahwa Alquran dan Hadis memiliki dua macam petunjuk (dalalah): ada yang sifatnya qath’i alias tegas dan jelas, tidak mengandung opsi dalam memahaminya; ada yang bersifat zhanni, atau mengandung beragam makna.
Secara garis besar, lanjut Nadirsyah Hosen, mazhab-mazhab itu memiliki dua pendekatan yang bertolak-belakang: mereka yang memahami teks-teks suci dengan pendekatan tekstual-atau lebih condong untuk berpegang pada bunyi teks-dan mereka yang lebih cenderung memahami teks dengan mempertimbangkan konteks dari teks-teks suci tersebut. Akar sejarah kedua kelompok ini bisa dilacak jauh ke belakang hingga masa Nabi Muhammad Saw. masih hidup (hlm. 22).
Dalam buku ini, penulis juga menginformasikan tentang kehadiran Islam dan bagaimana perkembangannya di Australia. Menurut Nadirsyah Hosen, Australia adalah negara sekuler yang tidak memiliki agama resmi. Penduduk Australia bebas memilih agama mana pun atau memilih untuk tidak punya agama. Sesuai Pasal 116 Konstitusi Australia, pemerintah tidak ikut campur, atau tidak bisa memaksakan, dan juga tidak bisa melarang praktik agama di masyarakat. Di Australia, boleh dibilang agama tidak memainkan peran sentral dalam kehidupan banyak orang. Ada dua topik yang biasanya dihindari dalam percakapan sehari-hari: soal politik dan agama.
Menurut sensus tahun 2011, sebesar 61,1% orang Australia mengaku Kristen, termasuk 25,3%-nya sebagai Katolik Roma dan 17,1%-nya sebagai Komuni Anglikan. Kira-kira 22% populasi menyatakan tidak punya agama, dan lebih dari 9% tidak bersedia menjawab apa agama mereka. Agama terbesar yang bukan Kristen di Australia adalah Buddha (2,5%), diikuti oleh Islam (2,2%), Hindu (1,3%), dan Yahudi (0,5%).
Jadi, sesuai data terakhir 2011, jumlah umat Islam di Australia hanya sekitar 2,2%, atau tepatnya berjumlah 476.291 jiwa dari sekitar 23 juta penduduk Australia. Tapi, bila dibandingkan dengan data sensus tahun 1981, angka ini mengalami kenaikan fantastis, sekitar 483%. Artinya, kendati jumlah umat Islam hanya segelintir, tapi pertumbuhan mereka sangat cepat (hlm. 55).
Persoalan-persoalan sehari-sehari seperti bagaimana cara memahami fatwa, masalah membuka aurat di depan non-Muslim, ucapan selamat Hari Natal, masalah wudhu, hingga tentang bagaimana izin pendirian masjid, dikupas penulis dengan begitu lengkap.
Rahasia bagaimana agar bisa menuntut ilmu di Australia ini juga dibeberkan penulis dalam buku 280 halaman ini. Sehingga, siapa pun bisa belajar tip-tip agar bisa lulus seleksi beasiswa ke negeri Kanguru tersebut.

——— *** ———-

Rate this article!
Tags: