Berburu Harta Sriwijaya

Per-buru-an harta karun peninggalan kerajaan Sriwijaya, semakin marak. Diduga, perburuan pada bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dihembuskan, dan dimobilisasi sindikat benda purbakala. Termasuk tukang tadah yang siaga membeli barang temuan. Tetapi dampaknya, niscaya bisa mengancam hilangnya benda bersejarah dari proses pertukaran simbol kenegaraan berbagai bangsa. Benda bersejarah wajib memperoleh perlindungan sebagai situs purbakala.
Harta karun benda bersejarah, ditemukan berserakan di kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Akibat kebakaran hutan dan lahan, menyebabkan berbagai benda-benda kuna tersembul bermunculan. Ada koin emas, liontin emas bermotif bunga dan hewan, serta gerabah, keramik, dan guci. Berita penemuan harta karun, seketika bagai dikomando, masyarakat menuju ke beberapa dusun di kecamatan Cengal, kabupaten OKI.
Perburuan harta kerajaan Sriwijaya, bagai “menjawab” ke-realita-an sejarah, keberadaan kekuasaan negeri-negeri di berbagai daerah Indo nesia. Sebelumnya, seorang budayawan di Jakarta, menyatakan keberadaan kerajaan terbesar di seantero Sumatera itu sebagai fiktif. Selain menyebabkan perdebatan publik yang sia-sia, juga dianggap nyeleneh. Sampai berpotensi pada tuduhan penistaan sejarah kebangsaan.
Keberadaan kerajaan Sriwijaya, dijejaki berdasar metode ilmu pengetahuan tentang sejarah kebudayaan material (arkeologi). Di dalamnya (arkeologi) wajib terdapat muatan data benda (dalam bentuk prasasti, dan candi). Seringkali dalam data benda terdapat tulisan berbagai kisah beserta catatan waktu (tanggal dan tahun keberadaan). Sering pula data benda juga disokong catatan dokumentasi oleh tokoh masyhur negeri tetangga.
Pada dunia ke-arkeologi-an, terdapat nama-nama tokoh pencatat dokumentasi. Antaralain I-Tsing, asal China (berkelana tahun 671-672), Ibnu Batutah (asal Maroko, berkelana tahun 1304), dan Columbus (Italia, tahun 1475). Hidup se-zaman dengan kerajaan Sriwijaya, adalah I-Tsing, belajar ilmu tata bahasa Sansekerta. Sriwijaya, saat itu telah kondang sebagai pusat pendidikan agama Budha. Poros angkutan perairan Siriwijaya-India, sangat ramai.
Keberadaan kerajaan Sriwijaya di Sumatera, bertautan dengan kerajaan Medang (Mataram kuna, di Jawa). Kedua kerajaan berpucuk pada Wangsa (keluarga) Syailendra. Namanya tercatat dalam prasasti yang ditemukan di Kalasan, kabupaten Sleman (Yogya), berangka tahun 778. Juga dalam prasasti Kelurak, kompleks candi Prambanan, berangka tahun 782.
Diduga, Syailendra merupakan pendiri kerajaan Melayu Kuna, yang melakukan ekspansi damai ke Jawa dengan cara perkawinan keluarga. Keturunannya di Sumatera (sekitar Palembang), Dapunta Hiyan, mendirikan Sriwijaya. Sedang keturunannya di Jawa, Sanjaya, mendirikan kerajaan Medang (Mataram kuna). Prasasti Sojomerto, di kabupaten Batang (Jawa Tengah), berbahasa Melayu kuna, menunjukkan hubungan Sriwijaya dengan Medang (Jawa).
Kerajaan Sriwijaya, bukan sejarah fiktif. Begitu pula harta benda, dan beragam cinderamata dari berbagai negara, nyata tersembul pada areal karhutla. Lapisan lahan kambut yang terbakar bagai menyibak harta yang terpendam. Pemburu harta terpendam Sriwijaya, cukup menggali tanah sedalam satu meter, sudah menemukan beberapa cinderamata kuna. Selain manik-manik dan logam mulia, di desa Kuala sungai Jeruju, juga ditemukan kemudi kapal.
Perburuan harta terpendam kerajaan Sriwijaya, sangat mengkhawatirkan, bisa mengancam musnahnya bukti sejarah sebagai cagar budaya. Indonesia menjadi negara yang mendukung konvensi internasional perlindungan benda budaya (Konvensi Den Haag tahun 1954). Perlindungan berlambang “Perisai Biru” (Blue Shield) diratifikasi berdasar Keppres Nomor 234 tahun 1966.
Berdasar Hukum Humaniter Internasional, benda budaya yang dilindungi bukan sekadar monumen arsitektur (gedung, candi dan prasasti). Melainkan juga benda seni (sejenis manik-manik, gerabah, lencana), dan buku. Maka seyogianya pemerintah segera menutup areal perburuan. Serta melarang jual beli benda peninggalan sejarah, dan memberikan ganti rugi.

——— 000 ———

Rate this article!
Berburu Harta Sriwijaya,5 / 5 ( 1votes )
Tags: