Beasiswa dan Martabat Bangsa

Oleh :
Yusri Fajar
Dosen FIB UB Malang, alumnus Universitas Bayreuth Jerman

Tokoh utama novel Gentayangan (2017) karya Intan Paramadhita diceritakan setiap tahun berusaha mendaftar beasiswa agar bisa studi ke luar negeri tapi tidak pernah berhasil. Sang tokoh ini cemburu pada temannya yang mendapat beasiswa ke Negeri Kangguru (hlm. 16). Kegagalan pasti juga menghantui pikiran para pengejar beasiswa yang disediakan Pemerintah, seperti LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) baik untuk kategori dalam dan luar negeri yang setiap tahun dibuka. Banyaknya pelamar yang akan memperebutkan kuota beasiswa LPDP membuat kompetisi makin sengit. Para calon pelamar akan sibuk mempersiapkan semua persyaratan mulai sertifikat bahasa asing sampai surat keterangan sehat.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui fasilitas beasiswa ke luar negeri diharapkan mampu membuat Indonesia ke depan makin kuat dan maju. Hal ini terefleksikan dalam fokus LPDP yaitu pada pengembangan kualitas sumber daya manusia di berbagai bidang yang menunjang percepatan pembangunan Indonesia. Studi lanjut dengan demikian dipandang bagian dari proses untuk mendorong peningkatan SDM yang mampu membawa Indonesia ke garda depan di kancah global. Oleh karena itulah, untuk mendapatkan calon penerima beasiswa yang potensial, seleksi harus dilakukan secara obyektif dan mampu mengidentifikasi kompetensi serta kesiapan para calon.
Kuliah S2 dan S3 di negara-negara yang sudah ditentukan oleh pemerintah seperti Inggris, USA, Belanda, Jerman, Australia dan negara-negara lainnya akan penuh tantangan. Cerita dan data tentang mahasiswa Indonesia yang pulang dari mancanegara dengan tangan hampa, tanpa gelar, masih tertanam dalam ingatan. Jika tidak sungguh-sungguh dan tidak siap mental kuliah di luar negeri bisa terhambat bahkan gagal. Dana beasiswa yang dikeluarkan sia-sia. Padahal dana beasiswa dari bangsa sendiri, sebagaimana ditegaskan oleh Menkeu Sri Mulyani dalam acara dalam acara penyambutan alumni LPDP di Jakarta tahun 2017,”Uang (beasiswa) LPDP berasal dari APBN, bukan dari utang, dia adalah uang dari keringat rakyat Indonesia, uang pajak rakyat Indonesia untuk membangun republik.” Jika diterima, para pelamar beasiswa LPDP sudah seharusnya mengingat rakyat Indonesia yang membutuhkan kontribusi para penerima beasiswa untuk membuat rakyat Indonesia makin dihormati dan disegani di dunia, bukan justru dipandang sebelah mata oleh negara-negara mancanegara. Dana beasiswa pemerintah Indonesia yang mencapai triliunan ini menegaskan bahwa para calon mahasiswa dari Indonesia tidak selalu bertumpu pada beasiswa asing. Indonesia mampu mendanai anak bangsa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi akademik, pengalaman, keterampilan dan pengalaman.
Kembali ke Tanah Air
Harapan besar pemerintah bagi para penerima beasiswa setelah pulang ke tanah air adalah mengamalkan ilmu dan pengalaman yang diraih di luar negeri. Dalam persyaratan beasiswa dituliskan “Bersedia kembali ke Indonesia setelah selesai studi”. Hal ini tentu untuk mengantispasi para penerima beasiswa yang tergoda untuk menjadi diaspora dan berkarir di mancanegara dan justru tidak lagi memperdulikan tanah air yang membutuhkannya. Para penerima beasiswa dengan demikian perlu memiliki kesadaran dan usaha untuk selesai kuliah tepat waktu dan segera pulang, bukan justru santai di negeri orang misalnya karena tergiur gaji Dolar atau Euro.
Kecintaaan pada tanah air menjadi bekal penting untuk turut membantu memajukan bangsa. Salah satu tantangan mereka yang kuliah di luar negeri terkait dengan cara pandang mereka terhadap negara-negara mancanegara di mana mereka kuliah. Meskipun merasa telah mendapatkan pengetahuan, bimbingan bahkan fasilitas dari kampus-kampus luar negeri, namun bukan berarti mereka tidak bisa kritis terhadap kebijakan-kebijakan negara asing yang merugikan Indonesia. Justru dengan pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan dari negara-negara mancanegara, para penerima beasiswa harus makin terdorong untuk menjadikan Indonesia lebih maju agar tidak dipandang inferior dan pada gilirannya juga bisa membuat lembaga pendidikan di Indonesia diminati para mahasiswa asing.
Persyaratan lain sebagaimana tertera dalam laman LPDP bagi pelamar beasiswa yaitu memiliki karakter kepemimpinan, profesionalisme, nasionalisme, patriotisme, integritas, memiliki kepercayaan diri, kegigihan, kemandirian, kematangan dalam mengelola emosi, dan kemampuan beradaptasi. Sebelum memulai studi, pemerintah memberikan pembekalan kepada para penerima beasiswa yaitu persiapan keberangkatan (PK) selama beberapa hari dan materi yang diberikan di dalamnya salah satunya berkaitan dengan nasionalisme. Dalam pandangan Grosby (2015) nasionalisme mendorong seseorang untuk memiliki keyakinan bahwa bangsa membutuhkan kesetiaan. Pada konteks ini seorang yang telah difasilitasi dengan beasiswa LPDP untuk studi tentu harus mengutamakan kepentingan bangsa sendiri daripada bangsa asing. Lebih jauh mereka juga tidak memosisikan bangsa sendiri secara inferior. Pada konteks ini penerima beasiswa pemerintah RI di luar negeri harus mampu berkompetisi dengan para mahasiswa asing dan menunjukkan prestasinya. Loyalitas pada bangsa Indonesia bisa dimaknai juga sebagai tindakan untuk menjaga keutuhan dan kedamaian NKRI dan memberikan kontribusi nyata melalui tindakan sesuai kompetensi demi kemajuan Indonesia.
Misi Diplomasi Budaya dan Kerjasama
Di beberapa media sosial seperti instagram saya melihat para penerima beasiswa LPDP di luar negeri seperti di Skotlandia dan Australia yang mempromosikan budaya Indonesia dengan menampilkan seni budaya Indonesia. Tentu saja bukan hanya tampilan di atas panggung yang penting, namun juga bagaimana mereka bisa menjelaskan pada pada penduduk negara mancanegara tempat mereka kuliah yang bisa ditemui bahwa negara Indonesia adalah bangsa yang cinta damai dan tidak menyetujui tindakan-tindakan kekerasan seperti teror. Dengan jumlah penerima beasiswa LPDP di luar negeri yang mencapai ribuan orang, maka misi diplomasi budaya bisa juga turut mereka emban, selain peran-peran yang sudah dilakukan oleh kedutaan Indonesia dan berbagai delegasi seni budaya di luar negeri.
Memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki oleh tanah air Indonesia seperti dalam bidang pariwisata juga bisa dilakukan. Namun yang menarik dan juga bisa dikembangkan adalah ketika para penerima beasiswa studi di luar negeri mereka bisa mulai membangun kerjasama dengan para dosen, peneliti dan lembaga luar negeri untuk pengembangan penelitian dan pendidikan serta kerjasama lainnya. Para penerima beasiswa dari Indonesia juga bisa menunjukkan pada dunia bahwa mereka memiliki kualitas dan kompetensi sesuai dengan bidang yang mereka tekuni sehingga anak-anak bangsa Indonesia mendapatkan apresiasi dari berbagai negara dunia.

——— *** ———–

Rate this article!
Tags: