Bantaran Kali Kabupatern Mojokerto Jadi Pembuangan Sampah Popok Bayi

Tumpukan sampah popok bayi terlihat di bantaran kali Brangkal, Kec Sooko, Kqb Mojokerto. [kariyadi/bhirawa]

Kab Mojokerto, Bhirawa
Bantaran kali Brangkal, Kecamatan Sooko, Kab Mojokerto menjadi tempat pembuangan sampah popok bayi. Dari hari ke hari volume sampah popok yang dibuang dan terkesan sembarangan itu terus menumpuk. Tidak hanya di lokasi itu,  di sejumlah bantaran sungai di Kabupaten Mojokerto seperti sungai Brantas dan saluran Kali Sadar juga menjadi sasaran tempat pembuangan sampah popok tersebut.
Setidaknya ada empat kawasan  yang dilewati aliran sungai brantas dan salurannya terpantau paling banyak timbunan sampah popok. Yakni Kecamatan Jetis, Kemlagi, Sooko dan Mojosari.
Sampah popok terlihat menggunung di tepi Sungai Brangkal, Mojokerto tepatnya di sisi jembatan yang berada di ruas jalan nasional Surabaya-Madiun.
Lokasi yang terlihat seperti penampungan sampah liar  penuh popok bayi itu di jembatan Brangkal yang memisahkan Desa Kedung Maling dan Desa Brangkal Kecamatan Sooko. Aliran sungai Brangkal berhulu dari Pacet melintasi Jatirejo hingga bermuara di Brantas.
Timbunan sampah popok di jembatan Sungai Brangkal sangat mencemari lingkungan dan menyeruakkan aroma bau tak sedap yang menganggu warga. Apalagi, jembatan tersebut berada di ruas jalan nasional yang menghubungkan Kabupaten Mojokerto dengan Jombang.
“Ini sangat mengancam kesehatan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar Jembatan Brangkal dan daerah aliran sungai sampai Brantas,” kata Koordinator Brigade Evakuasi Popok (BEP), Azis.
BEP sejatinya sudah melakukan pembersihan di sejumlah titik sungai Brantas dan salurannya dari timbunan popok. Sayangnya, masyarakat seolah acuh terhadap bahaya yang mengancam lingkungan, masih saja gemar membuang popok bekas pakai itu ke sungai.
“Jika tumpukan sampah popok ini dibiarkan maka tumpukan sampah akan longsor dan hanyut di sungai. Muaranya ke sungai Brantas yang menjadi sumber air PDAM yang dipakai masyarakat untuk mandi, memasak dan minum. Sangat membahayakan,” tandas Azis.
Karena itu, pihaknya meminta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto segera mengambil tindakan. Pihaknya juga telah berkirim surat resmi ke Kepala Dinas DLH Kabupaten Mojokerto, Zainul Arifin untuk membuat kebijakan.
“Yang mendesak sekarang, agar DLH melakukan kegiatan pembersihan dan
Pengangkutan sampah popok di Jembatan Brangkal dan titik lian yang banyak timbunan sampah popok,” tutur Azis.
Isu sampah popok di Mojokerto sejatinya bukan hal baru. Sejak isunya menggema dua tahun lalu, DLH Kota maupun Kabupaten Mojokerto pun menyatakan akan berkoordinasi untuk menanggulangi fenomena buang sampah popok sembarangan yang mengancam lingkungan.
Tetapi sampai sekarang, tindakan pencegahan nampaknya belum efektif diterapkan. Terbukti, masih banyak masyarakat yang tak merasa bersalah membuang sampah popoknya ke sungai. [kar]

Tags: