Banjir di Kabupaten Sidoarjo Akibat Perubahan RTH Menjadi Mal

Banjir yang melanda beberapa wilayah di Kab Sidoarjo menghantui warga terdampak banjir. [hadi suyitno/bhirawa]

Sidoarjo, Bhirawa
Pelebaran dan pengerukan jalan di kolong Jalan Tol Janti (Jl Pahlawan) menimbulkan masalah baru. Kolong jembatan yang cekung itu menjadi kolam saat hujan lebat meski hanya sekitar satu jam mengguyur Sidoarjo.
PT Jasa Marga belum lama menormalisasi dengan pelabaran jalan dan pengerukan. Pengerukan di kolong tol dilakukan karena tinggi jalan dan jembatan yang tidak ideal kerap menimbulkan kecelakaan. Truk dengan muatan tinggi kerap membentur badan jalan tol. Satu-satunya solusi yang ditempuh PT Jasa Marga dengan Pemprov Jatim selaku pemangku jalan provinsi adalah dengan mengeruk badan jalan arteri.
Dengan dikeruk begitu membuat badan jalan arteri yang di bawah kolong tol itu menjadi cekung. Sedangkan jalannya diperlebar dengan menambah satu ruas jalan lagi disisi selatan jalan arteri. Pelebaran itu cukup mengurangi kemacetan, tetapi jalan cekung seperti yang dikuatirkan banyak pihak akan menjadi kolam ikan bila tidak dipompa.
Rupanya kekuatiran warga itu menjadi kenyataan, sebab pada Hari Minggu malam sekitar pukul 20.00 hujan lebat menerpa Sidoarjo, jalan itu menjadi kantong air. Ketinggian air setinggi ban mobil. Banyak motor yang terjebak masuk jalan yang menjadi kolam, menjadi mogok. Kemacetan terjadi. Kades Modong, Masduki, terjebak macet 1 jam. Mobilnya tidak bisa bergerak di barat Lippo Mal.
Kondisi ini diperparah sebelumnya dengan keberadaan Lippo Mal yang hanya berjarak 100 meter dari kolong Tol Janti itu. Sebelum dibangun Lippo Mal sebelumnya merupakan RTH (Ruang Terbuka Hijau) milik PT Jasa Marga. RTH itu merupakan lahan tadah hujan menjadi tempat resapan air hujan. Tetapi oleh pemilik lahan dikerjasamakan dengan Lippo Mal.
Dishub Sidoarjo, mempersoalkan Amndal Lalin Lippo Mal. Sampai sekarang Pemkab belum mengeluarkan Amndal Lalin, padahal sudah sekitar tujuh tahun Lippo berdiri. Dan anehnya lagi mal ini belum diresmikan, kendati sudah digelar soft opening.
Nurul Ahdi, pemerhati lingkungan Sidoarjo, menyatakan sebelum dibangun mal kawasan itu menjadi rindang dengan dedaunan dan tempat mencari inspirasi. Ia dan aktifis lainnya berusaha mempertahankan RTH supaya tidak dijadikan kawasan bisnis. ”Tapi, apalah suara saya, karena kalah dengan kebijakan yang lebih mengedepankan kepentingan bisnis,” terangnya.
Kekuatiran itu muncul, banjir kerap terjadi di depan Lippo. Air itu harus dipompa ke mana mau di buang ke utara akan membanjiri perumahan Pondok Jati. Tetapi di buang ke selatan akan membanjiri Perumahan Pondok Mutiara Regency. ”Ya syukurlah, akhirnya perumahan saja kebagian banjir,” kata Ny Hartini, menyindir.
Dua masalah, yakni pengerukan jalan arteri di kolong tol dan perubahan RTH menjadi Lippo Mal, menimbulkan satu masalah besar. Pemkab harus cepat bertindak membangun rumah pompa untuk mengalirkan banjir ke sungai terdekat. Atau korban mengalami kesialan kejebak macet setiap hujan lebat. [hds]

Tags: