Bakorwil V Usulkan Bentuk Tim Percepatan Indeks Pembangunan Manusia

Kakanwil BKKBN Jatim H. Yenrizal Makmur dan Kepala Bakorwil V Jember R. Tjahjo Widodo saat ausiensi Membahas persoalan tingginya angka kematian ibu melahirkan, di Bakorwil V Jember, Selasa (28/5/2019)

(Banyuwangi dan Jember Tertinggi Angka Kematian Ibu Melahirkan Se Jatim)

Jember, Bhirawa
Tingginya angka kasus kematian ibu melahirkan di beberapa daerah wilayah kerja Bakorwil V Jember, tampaknya menjadi atensi tersendiri bagi Kepala Bakorwil V Jember. Dari 7 Kabupaten/Kota yang ada (wilayah Kerja Bakorwil V Jember) 4 Kabupaten menduduki posisi 5 besar tertinggi angka kematian ibu pada bulan April 2019.
Yang lebih mengejutkan, Banyuwangi yang selama ini perekononianya tergolong maju, justru menduduki posisi pertama dengan angka kasus kematian ibu sebanyak 16 orang dari 210 angka kasus kematian Ibu se Jawa Timur April 2019 (Data Dinas Kesehatan Jatim-red). Jember urutan kedua dengan angka kasus sebanyak 15 orang, sedangkab Bondowoso dan Probolinggo urutan le 4 dan 5 setelah Kabupaten Malang dengan angka kasus 9 orang.
Kepala Bakorwil V Jember R.Tjahjo Widodo mengungkap, tingginya kasus kematian ibu melahirkan diwilayahnya menjadi tanggung jawab bersama. Bahkan saat audiensi dengan Kanwil BKKBN Jawa Timur, Tjahjo mengusulkan agar segera dibentuk Tim Percepatan Indek Pembangunan Manusia (IPM) di bidang kesehatan dan Pendidikan diwilayah.
“Kami sudah koordinasikan persolan dengan Pemerintah Daerah dan responnya cukup bagus. Tinggal respon Bupati Jember yang hingga saat ini belum ada respon,” ujar Tjahjo saat audiensi dengan Kanwil BKKBN, dan para akademisi dari Universitas Jember, Selasa (28/5/2019).
Menurut Tjahjo, Tim percepatan IPM nanti, akan difokuskan pada tiga hal, yakni meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan melibatkan  Fakultan Kesehatan Masyarakat ( FKM) Universitas Jember dan BKKBN Jawa Timur. “Ini mencakup bagaimana menurunkan angka kematian ibu, bagaimana mengurangi angka stunting, meningkatkan gizi masyarakat dan bagaimana masyarakat ini betul-betul bisa terhindar dari hal-hal yang merugikan kesehatan,” urainya.
Selain itu, Tim percepatan IPM ini juga fokus pada persoalan pendidikan. Bagaimana keberadaan Tim ini mampu meningkatkan lamanya pendidikan kepada masyarakat. Karena berdasarkan data, anak lukusan SD mapun SMP di Jatim masih besar.” Kami akan menggandeng FKIP Universitas Jember untuk mendorong terwujudnya percepatan IPM di bidang pendidikan,” ujarnya pula.
TJahjo juga berharap, Tim percepatan IPM ini juga mampu mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi khusunya diwilayah Bakorwil V Jember. ” Dari IKM (Industri Kecil Menengah) kita akan mencoba untuk meningkatkan dengan melibatkan investor. Bupati yang mempersiapkan secara fisik, produk apa saja yang bisa ditawarkan untuk menarik investor. Dengan begitu percepatan ekonomi akan terwujud,” tandasnya pula. Bakorwil V Jember rencananya akan melibatkan Fak. Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.
Tim percepatan IPM ini diharapkan oleh Tjahjo ada target yang akan dicapai dalam mengatasi persolan kesehatan, pendidikan dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga arahan dan harapan
Gubernur Jawa Timur dapat terwujud dengan cepat. “Ini baru pertemuan awal, dan bulan depan, kita sudah melakukan finalisasi pembentukan Tim percepatan IPM sekaligus program kerjanya,” imbuh Tjahjo kemarin.
Sementara, upaya Bakorwil V Jember untuk segera membentuk Tim Percepatan IPM di wilayah kerjanya, diamini oleh Kakanwil BKKBN Jawa Timur H.Yenrizal Makmur. Bahkan Yenrizal meminta agar Bakorwil V Jember menjadi pusat data bagi 7 Kabupaten/Kota yang menjadi wilayah kerjanya.
“Disini (Bakorwil V) menyediakan data dari 7 Kabupaten, utamanya terkait kesehatan, pendidikan dan percepatan ekonomi. Dengan adanya data by name by address, Tim ini nantinya akan lebih mudah menyusun strategi dalam mengatasi persoalan di masyarakat,” sarannya.
Menurutnya, ada 10 Kabupaten di Jawa Timur yang selama ini menjadi perhatian Pemprov Jatim, utamanya masalah kesehatan. ” Kita fokus itu, bagaimana kita bisa menekan angka kematian ibu dan kasus stunting di Jawa Timur. Alhamdulillah, hari ini kita bersama Bakorwil Jember membangun komitmen untuk bersama-sama menekan angka kasus kematian Ibu melahirkan dan stunting,” akunya.
DikatakanYenrizal Makmur, dalam menurukan angka kematian ibu hamil, perlu perhatian khusus. Diantarnya, menekan pernikahan dini, dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang persalinan diusia yang dinilai rawan beresiko.” Bagaimana nanti memberikan pahaman bagi ibu-ibu yang berusia rawan untuk melahirkan, dan menyarankan untuk  ber KB. Ini nanti tugas kita untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat,” pungkasnya pula.(efi)

Tags: