Bakorwil V Optimalkan Produktivitas Susu Sapi Perah

Suasana Singkronisasi dan Fasilitasi Penyelenggaraan Produksi dan Produktivitas Hasil Peternakan di Bakorwil V Jember bersama OPD Dinas Peternakan di 7 Kab/Kota se wilker Bakorwil V Jember, Rabu (13/3).

(Nawa Bhakti Satya Jatim Argo)

Jember, Bhirawa
Peningkatan produksi susu sapi perah di wilayah Jatim bagian timur perlu dioptimalkan. Karena, peluang pasar di dalam negeri sangat terbuka lebar. Apalagi kebutuhan susu nasional sekitar 70% diperoleh dari impor. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bakorwil V Jember R.Tjahjo Widodo saat membuka Singkronisasi dan Fasilitasi Penyelenggaraan Produksi dan Produktivitas Hasil Peternakan di Bakorwil V Jember bersama OPD Dinas Peternakan di 7 Kab/Kota se wilker Bakorwil V Jember, Rabu (13/3). “Ini salah satu program Nawa Bhakti Satya (Bhakti 6 Jatim Argo) Ibu Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Tjahjo kemarin.
Menurut Tjahjo, Jawa Timur berkontribusi besar populasi sapi perah secara nasional. Berdasarkan data, populasi sapi perah di Indonesia berjumlah sekitar 487.000 ekor. Kontribusi provinsi Jawa Timur sekitar 45,6%, Jawa Tengah 27,7%, Jawa Barat 23, 5%.” Sisanya tersebar di seluruh provinsi,” ujarnya.
Peningkatan skala usaha kepemilikan ternak bagi peternak, merupakan salah satu solusi untuk mendongkrak peningkatan populasi sapi di negeri ini. Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah dalam pengembangan sapi perah. “Di antaranya bantuan ternak program upaya khusus sapi indukan wajib bunting (Upsus Siwab), subsidi bunga KUPS dan KUR, bantuan premi asuransi dan bantuan fasilitas pengembangan investasi dan kemitraan,” ungkapnya.
Masih menurut Tjahjo, usaha ternak sapi perah sebetulnya tidak hanya menghasilkan produk utama susu segar, tapi juga mampu menghasilkan produk sampingan berupa energi alternatif biogas serta pupuk organik. Sehingga siklus kegiatan peternakan selain mampu meningkatkan nilai ekonomi juga menjaga kelestarian lingkungan. “Limbah kotoran sapi yang telah diambil gasnya (bio slurry) yang jumlahnya melimpah juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik yang sangat dibutuhkan para petani maupun peternak sebagai pupuk tanaman,” ungkapnya pula.
Sehingga dengan ketersediaan energi alternatif biogas, warga juga tidak lagi menebang tanaman keras untuk kayu bakar yang berdampak pula pada pelestarian sumber alam. “Kami sangat berharap, agar para penyuluh peternakan bisa memotivasi, mendorong kelompok peternak untuk dapat mengolah limbah kotoran sapi menjadi produk sampingan, berupa energi alternatif biogas, serta pupuk organik,” harap Tjahjo.
Dalam kesempatan ini, Tjahjo juga berharap di era digital saat ini, peternak dituntut untuk melakukan efektivitas dan efisiensi di berbagai sektor. Termasuk diantaranya sektor peternakan teknologi digital. Ada empat hal yang perlu diperhatikan bagi peternak diera bisnis digital.
Pertama, infrastruktur informasi dan teknologi dalam bentuk jaringan internet. Kedua, klasterisasi wilayah sesuai spesialisasi dalam peternakan sapi. Ketiga, penggunaan tekhnologi finansial sebagai inovasi dalam akses permodalan. Serta jejaring bisnis lewat sistem aplikasi.
“Salah satu perusahaan rintisan bidang peternakan yang hadir dengan inovasi teknologi adala ternaknesia. Ternaknesia ini plaform digital untuk peternak dan investor peternakan yang menghuhungkan akses permodalan, pemasaran serta majamen peternak. Berbagai layanan tersebut diharapkan bisa menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan disektor peternakan,” pungkasnya.
Kepala UPT HMT Dinas Peternakan Pemprov Jatim di Jember R.Pari saat menjadi materi dalam kegiatan tersebut mengatakan populasi sapi perah di Jawa Timur sangat luar biasa dan peringkat pertama secara nasional. Sehingga sangat mungkin pengembangan susu sapi perah untuk di tingkatkan” Populasinya sapi perah di Jawa Timur peringat nasional dengan jumlah petarnak mencapai 52.285 orang dengan produksi rata-rata 10,7 liter per hari,” ujarnya Pari kemarin.
Pari juga mengatakan Jawa Timur sangat berpotensi untuk pengembangan sapi perah, karena didukung kondisi lingkungan untuk ketersediaan pakan. Sementara industri pengolahan susu yang kita miliki ada di Pasuruan dan Probolinggo.” Kami sangat mengapresiasi upaya Bakorwi V Jember yang berupaya mengoptimalkan produksi sapi perah diwilayahnya. Karena wilayah Bakorwil V Jember sangat mendukung, utamanya dalam hal ketersediaan pakan ternak,” katanya pula.
Hadir dalam kegiatan tersebut, perwakilan D-Net yang memberikan materi pemasaran berbasis online kepada Kepala Dinas Peternakan 7 Kabupaten/Kota diwilayah Bakotwil V Jember yang hadir dalam kegiatan tersebut. [efi]

Tags: