Bahagia Jaga Unas Bersama Anak ABK

Siswa berkebutuhan khusus di SDN Wedoro Sidoarjo saat mengikuti ujian nasional beberapa waktu lalu.

Sidoarjo, Bhirawa
Sekolah dengan bangunan berwarna hijau tua itu sudah menanti para pengawas Ujian Nasional dengan gagahnya. Begitu para pengawas Unas memasuki gerbang sekolah, anak-anak langsung menyambutnya. Dengan penuh kegembiraan, para siswa menyapa dan menjabat tangan guru pengawas yang berasal dari luar sekolah tersebut.
“Selamat pagi bu … assalamualaikum,” begitu para siswa antusias menyapa. Salah satu anak saat menjabat tangan begitu erat serasa tidak mau dilepas sambil tersenyum dan tertawa malu-malu.
“Maaf bu murid saya spesial monggo pinarak dulu nanti saya jelaskan di kantor,” kata Kepala Sekolah SDN Wedoro Maslikhah saat melihat wajah kebingungan penulis.
Menjaga Ujian Nasional (UNAS) di SDN Wedoro adalah kali pertama bagi penulis. Setelah ibu Kepala Sekolah, Ibu Maslikhah menjelaskan baru paham, kalau ada sekitar 20 anak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolahnya. Karena SDN Wedoro ini merupakan sekolah rujukan untuk anak inklusif.
Di ruangan 168 ada dua pengawas yaitu bu Emma dari SD Zainuddin dan penulis dari SD Al FAlah Darussalam. Hanya terdengar suara kipas angin. Semua murid terlihat diam setengah agak takut. Dari 15 anak hanya 4 anak yang regular dan sisanya anak “spesial”. Subhanallah, luar biasa. Banyak bersyukur.
Satu kata buat para gurunya, hebat. Karena entah bagaimana dan butuh waktu berapa lama untuk mereka para guru mengajari para anak “spesial”. Mereka bisa membaca. Mereka bisa menjawab soal meski dengan waktu yang lama dan kadang jawaban yang tidak sesuai dengan soalnya.
Bukan malah jengkel atau malas. Malah saya sangat tertantang dan tertarik dengan mereka. Luar biasa unik. Mereka bisa menulis meski ada beberapa kata yang salah. Mereka hanya tersenyum bebas tanpa beban, seperti anak regular (normal) yang lain. Hanya sekali membaca soal dan selalu diselipin tertawa.
Hanya ada rasa geli menggelitik. Menjaga UNAS yang biasanya tiap tahun kaku dan menegangkan. Kali ini terasa lebih bahagia dan selow. Benar-benar sangat enjoy dan menikmati. Tidak terasa membosankan meski mejaga selama 2 jam. Tidak seperti yang saya bayangkan di awal saat ibu Kepala Sekolah menceritakan tentang kalau ada anak ABK dikelas. Yang identik susah diatur dan menjengkelkan.
Memperoleh pendidikan yang sama dan berbaur dengan anak-anak normal, adalah hak mereka. Tidak tanggung-tanggung pemerintah juga membuka jurusan khusus mata kuliah di Universitas untuk ahli dalam menangani mereka. Di setiap sekolah regular sekarang harus ada maksimal 2-3 anak ABK.
Sesuai dengan undang-undang no.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, yang menegaskan bahwa semua anak mempunyai hak untuk kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi serta hak untuk didengar pendapaatnya.
Banyak orang yang sukses dari anak ABK. Orang yang sukses diantaranya yaitu Satoshi Tajiri dari Jepang. Yang menciptakan game on line Pokemon. Dari Indonesia juga ada Habibie Afsyah yang sukses dengan keahlian bidang Komputer bisa menghasilkan e-book dan menjadi motivator handal. Mari mendukung dan tidak memandang remeh para anak “spesial”.

[Imawati, SD Al Falah Darussalam Tropodo – Waru, Sidoarjo]

Rate this article!
Tags: