AS -Tiongkok Perang Dagang Ekspor Jatim Justru Meningkat

Pemprov Jatim, Bhirawa
Suasan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok dan beberapa negara ternyata berekses positif ekspor Jawa Timur. Laporan kinerja ekspor Jatim periode Mei 2019 , ekspor Jawa Timur meningkat 15,30%, terutama disokong ekspor ke AS dan Tiongkok,
Menurut data Dinas Perindusterian dan Perdagangan(Disperindag) Jatim menyebut kondisi Existing nilai ekspor sebesar USD 1,8 milyar atau naik 15,30% sampai Mei 2019. Tren positif ekspor jatim ini terutama pada komoditi.
Perhiasan/ permata senilai USD 187,7 juta atau naik 37,87%, Lemak dan Minyak Hewan/ nabati sebesar USD 114,39 juta ,naik 37,83%. Sektor lain yang mengalami kenaikan adalah. Tembaga USD 123,56 juta (naik 24,28%),Ikan dan Udang USD 105,27 juta (naik 22,68%), Daging dan Ikan Olahan USD 64,92 ribu (naik 22,51%), serta Kayu/Barang dari Kayu USD 124,91 juta (naik 21,64%).
“Tren positif ekspor Jatim ini memang terutama disokong komoditas perhiasan minyak hewan nabati. Data ini per Mei 2019,” terang Kadisperindag Jatim, Ir. Drajat Irawan, Selasa (2/7).
Ekspor tersebut, lanjut Drajat Irawan terutama ke Negara Tiongkok USD 226,75 juta (naik 38,74%), Amerika Serikat USD 251,80 juta (naik 14,70%), dan Jepang USD 272,23 Juta (naik 14,24%). Sedangkan di Negara ASEAN ekspor Jawa timur terutama ke Malaysia sebesar 5,66% dari total ASEAN.
Lebih lanjut, menurut Drajat, kenaikan ekspor Jatim disebabkan beberapa faktor terutama ekses perang dagang AS dengan Tiongkok yang saat ini masih menghangat.analisisnya, lanjut pejabat senior ini, permintaan komoditi Kayu/Barang dari Kayu dari Amerika Serikat mengalami peningkatan yang signifikan. Kondisi Perang Dagang antara Amerika Serikat dan China justru mendorong peningkatan ekspor terutama furniture ke Amerika Serikat.
“Amerika saat ini memang melakukan pengetatan perdagangan dengan sejumlah Negara terutama Tiongkok. Tapi Indonesia ternyata tidak termasuk Negara yang mengalami penerapan tariff dagang oleh AS, kita justru nenas nea masuk. Inilah yang kemudian membuat pasar kita lebih terbuka,” jelasnya.
Selain itu stabilnya pasokan Bahan Baku konsentrat tembaga PT Smelting dari PT. Freeport Indonesia yang telah melakukan transisi metode penambangan dari terbuka (open pit) menjadi bawah tanah (underground mining) meningkatkan nilai ekspor tembaga terutama ke Malaysia dan Thailand.
Ekspor Minyak Sawit Mentah (Crude palm Oil) mengalami peningkatan yang positif seiring dengan meningkatnya permintaan dan kebutuhan CPO di pasar internasional terutama Uni Eropa. Peningkatan permintaan Udang dari negara Tiongkok dan Uni Eropa sangat mendorong peningkatan nilai ekspor komoditi Ikan dan Udang Jawa Timur. Peningkatan permintaan perhiasan/permata dari Jepang, India dan amerika meningkat signifikan. [gat]

Tags: