Aplikasi “Pencatat Ibadah Harian” Memikat Pengunjung

Febilentin Jayuning salah satu anggota tim “Istiqomah.in” memberikan cara penggunakan aplikasi Istiqomah.in pada pengunjung.

Ajang Software Expo 2018
Surabaya, Bhirawa
Maraknya, generasi saat ini yang lebih mengutamakan urusan duniawi dari pada ibadah nya, menjadi inspirasi Rafi Haidar Ramdlon bersama ke empat temannya yaitu, Ulfa Latifa Hanum, Febilentin Jayuning, Neni Karismawati dan Muhammad Reza Pahlevi. Mereka merupakan mahasiswa semester V DIV Teknik Informatika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang membuat produk inovasi berupa software aplikasi yang dinamakan “Istiqomah.in”.
Menurut penuturan Ketua tim “Istiqomah.in” Rafi Ramdlo, aplikasi yang dia buat bersama ke empat anggotanya merupakan aplikasi yang bertujuan untuk mencatat ibadah harian manusia (user).
Aplikasi ini dipamerkan di acara Software Expo 2018. Pada selasa (16/1) di gedung Hall D4 PENS. Sebelumnya, Aplikasi “Istiqomah.in” juga pernah menduduki peringkat I dalam kompetisi ICW Hackathon Indosat yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu.
Dalam acara Software Expo selasa (16/1)  booth aplikasi “Istiqomah.in” banyak dikunjungi mahasiswa lain yang ingin mencoba menggunakan aplikasi tersebut.
“Saya tertarik sih dengan aplikasi ini, karena bisa mempermudah kita juga dalam beribadah,” ungkap Januar Adi salah satu pengunjung booth “Istiqomah.in”.
Lebih lanjut, dia menuturkan jika aplikasi “Istiqomah.in” mempunyai berbagai fitur yang mempermudah dia sebagai user untuk melakukan ibadah dalam kesehariannya.
Menurut Rafi Haidar Ramdlon aplikasi yang ia buat bersama tim, merupakan aplikasi yang dirancang untuk mempermudah  user dalam menggunakannya.
“Ada enam fitur yang ada dalam aplikasi kami” Ungkap mahasiswa semester V, Rafi Haidar Ramdlon.
Masing-masing fitur, lanjutnya, mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Yang pertama, jelasnya ada fitur kelola (kelola ibadah). Fitur tersebut digunakan untuk pengelolaan ibadah user. Dalam aplikasi ini, tambahnya  user juga bisa menambahkan ibadah apa saja yang ingin di catat untuk dikerjakannya. Kemudian  ada fitur Submit, fitur ini bertujuan untuk mencatat ibadah yang kita lakukan, sesuai dengan ibadah yang sudah dikelola sebelumnya. Dalam fitur ini, user bisa mengisi ibadah nya sesuai dengan ibadah yang dilakukannya saat itu. Ketiga, fitur Rapor, fungsi fitur Tapor sendiri untuk memberikan informasi berupa grafik perkembangan dari capaian ibadah yang sudah kita kerjakan.  Ke empat, fitur berita, fitur tersebut berisi mengenai referensi artikel yang berkaitan dengan ibadah islami dan berbagai pengetahuan mengenai Islam.
Kemudia, ke lima lanjutnya ada fitur grup yang digunakan untuk bisa login sebagai admin. Fitur ini harus di akses melalui web. Selain itu, fungsi utama fitur ini sebagai pengontrol ibadah anggota kita (hasil berbentuk grafik). Dan terakhir, fitur pengaturan. Untuk fitur pengaturan tuturnya, terdapat beberapa fitur lagi, seperti fitur kiblat yang berfungsi untuk menunjukkan arah kiblat dimanapun lokasi user. Selainfitur kiblat ada fitur alarm yang berfungsi untuk mengingatkan waktu sholat.
Semua fitur dalam aplikasi “Istiqomah.in”, menurut Rafi sapaan akrab Rafi Haidar Ramdlon saling berkaitan. Sehingga jika user belum melakukan salah satu ibadah yang sudah ia target kan maka akan muncul sebuah peringatan (notifikasi) yang memberitahukan bahwa user belum melakukan ibadah yang sudah ia susun. Selain itu, dia juga menegaskan jika aplikasi “Istiqomah.in” buatanya timnya bersifat provasi, yang hanya bisa dilihat oleh pemilik account dan admin pengelolanya.
Dalam proses pengerjaannya, tim “Istiqomah.in” membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk membuat aplikasi tersebut. Mulai dari ide konsep, observasi hingga  proses pembuatan software aplikasi.
Rafi Mengungkapkan, jika dalam satu tim masing-masing anggota mempunyai tanggung jawab dan fungsinya masing-masing.  CEO dan Founder Maulidan Game dan Chief Education di Gerdhu Inkubator Teknologi Maulidan Bagus Afridian Rasyid menilai jika aplikasi yang dibuat Rafi dan tim berpeluang untuk didaftarkan ke Start-up. Mengingat aplikasi serupa belum ada kompetitornya, pungkas juri Software Expo 2018.

Penerapan Metode Scrum Mendorong Produktifitas Mahasiswa
Sebanyak 40 produk yang telah dipamerkan dalam Software Expo 2018 selasa (16/1) yang lalu, tidak lain sebagai hasil dari kesuksesan penerapan metode Scrum.
Menurut Dosen Pengampu Rekayasa Perangkat Lunak Teknik Informatika, Jauari metode Scrum dinilai efisien dan efektif untuk diterapkan dalam pembuatan produk inovasi teknologi baik produk hardware maupun software.  Mengingat, tema yang diangkatnya dalam pagelaran Software Expo 2018 adalah “Digital Konten” yang bersifat market place.
Dia menjelaskan bahwa metode Scrum merupakan salah satu metode rekayasa perangkat lunak yang menggunakan prinsip-prinsip pendekatan AGILE. Metode ini, lanjutnya berfokus pada kekuatan kolaborasi tim, increment product dan proses iterasi untuk mewujudkan hasil akhir.
“Kami tekankan sebelumnya, untuk mereka dalam menggunakan metode Daily Scrum untuk menyelesaikan tugasnya” ungkap Jauari. Lebih lanjut, dia menjelaskan jika fungsi penerapan Daily Scrum adalah untuk memastikan target yang sudah dicapai mahasiswanya.  Disela-sela perkuliahan, tambahnya mereka harus menyempatkan untuk kembali fokus pada projek yang mereka kerjakan untuk mencapai target.
Diakuinya, teknik Scrum yang diterapkan pihaknya dapat dilakukan dalam sebuah kepanitiaan ataupun projek lain di luar bisnis teknologi informasi.
Teknik Scrum, menurut penuturannya terbagi dalam tiga roles yaitu Product Owner, Scrum Master dan Development Scrum Team.
Dia mengungkapkan jika masing-masing bagian memiliki perannya masing-masing. Product Owner bertugas untuk mengatur urusan dengan Stakeholder, Scrum Master bertugas untuk mengurusi bagian internal tim sedangkan untuk Development Team bertugas untuk mengatur teknik pengerjaan project dan pembahasan projek secara lebih rinci.
Tujuan penerapan metode ini, tidak lain adalah untuk memahamkan mahasiswanya dengan sistem yang mereka ikuti.
“Apakah sisitem ini cocok untuk kasus-kasus tertentu saja atau semua kasus bisa ditangani oleh sistem ini” tuturnya.
Ternyata, tambahnya, di tengah-tengah riset yang dilakukan mahasiswanya mengalami ketidak cocokan penerapan sistem di beberapa kasus yang ditemui mahasiswanya. Jadi, dari proses tersebut mahasiswa bisa paham apakah aplikasi atau prototype yang dibuatnya perlu di evaluasi untuk dikembangkan atau ditinggalkan untuk membuat yang baru lagi, pungkasnya. [ina]

Tags: