Apel Impor Merajarela, Petani Lokal di Tutur Pasuruan Merugi

Petani apel di Tutur, Kabupaten Pasuruan saat memanen apelnya. Banyaknya apel dari luar negeri membuat petani apel Tutur merugi.

Pasuruan, Bhirawa
Para petani apel di kawasan Nongkojajar, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan resah lantaran harga apel dipasaran turun drastis. Petani apel, Ali menyampaikan turunnya harga dipasaran diakibatkan apel impor yang merajarela masuk ke Indonesia. Sehingga, petani apel lokal merugi.
“Petani apel di Nongkojajar Tutur saat ini rugi besar. Karena apel dari luar negeri berbondong-bondong masuk Indonesia,” ujar Ali di kawasan Tutur, Rabu (20/2).
Menurutnya, saat ini harga per kilogram ditingkat petani mulai Rp 3.000-3.500. Sedangkan harga normalnya mencapai Rp 9.000-10.000. “Pemerintah harus menyetop apel impor ini. Sehingga kami tidak merugi dalam hal proses perawatannya. Apabila tetap, petani akan gulung tikar” kata Ali.
Selain itu, minimnya branding apel Nongkojajar membuat kala pamor dengan apel Batu. “Branding apel Tutur kala jauh dengan apel Batu. Padahal, sebagian besar apel dari kami pemasok terbesar buat apel Batu. Makanya, pemerintah harus tangan terhadap permasalan ini,” tambahnya.
Ia juga mengeluh terhadap minimnya bantuan pemerintah kepada petani. Misalnya pupuk atau bantuan lainnya. “Bantuan dari pemerintah sangat kecil dan harapan kami supaya diperbesar bantuannya,” imbuh Ali. [hil]

Tags: